Confession of Sengkuni

Aku yang Jahat

KALIAN, orang-orang yang merasa “baik” dan “benar” seharusnya berterimakasih padaku. Bukan malah mengutukku. Dengan kebusukanku, seperti yang kalian pahami selama ini lah, kebaikan kalian menjadi ada. Menjadi tampak. Ingat, tanpa kebusukan, kebaikan itu tak akan pernah ada. Mereka adalah sepasang untuk saling memaknai.

Terlepas dari baik-buruk itu, seharusnya kalian, kalau benar-benar baik dan mau, dengarkan alasanku, kenapa aku sampai melakukan sesuatu yang kalian sebut sebagai jahat, menghasut, atau licik. Percayalah, sebenarnya aku hanya menasehati, tak lebih dari itu.

Perihal nasehatku yang melahirkan palagan Bharatayudha di Padang Kuru, itu bukan karena salahku juga. Itu adalah salah orang-orang yang menafsirkan. Pandawa yang salah, bukan Korawa ponakanku yang lucu-lucu itu.

Dan bukan salahku masuk ke kerajaan Astina. Pandu yang membawaku paksa ke sini. Itu setelah dia membantai Gandara, kakak sulungku, dalam sebuah pertempuran yang tak disengaja.

***

WAKTU itu aku mendengar kabar ada sayembara untuk mendapatkan seorang puteri cantik bernama Kunti di negerinya Raja Kuntiboja sana. Konon dia cantik. Dan waktu itu aku masih tampan luar biasa. Jelas saja aku pede bisa mendapatkannya. Perempuan mana yang tidak kepincut melihat muka ganteng? Brad Pitt saja dipuja-puja, apalagi aku yang ganteng berlipat kali di atas aktor itu? Hahaha…

O iya, pas ganteng dulu aku punya nama yang pantas dengan ketampananku; Haryo Suman. Nama Sengkuni itu ada ceritanya sendiri. Nanti di bagian lain catatan ini aku jelaskan.

Aku berangkat diantar kakak sulungku Gandara, dan kakak keduaku Gendari. Maklum, sebagai bungsu, aku sangat disayang oleh kakak-kakakku. Hak istimewa anak bontot, hahaha…

Ternyata, aku kalah cepat. Di tengah jalan, kudengar kabar sudah ada yang telah memenangkan Kunti. Namanya Pandu, raja Astina yang megah itu. Aku hanya mendengar namanya, belum pernah bertemu muka dengannya. Yang kudengar, dia itu sakit-sakitan. Tapi, dia juga ganteng. Tapi, aku yakin aku jauh lebih ganteng. Mungkin aku kurang cepat saja.

Ya sudahlah, mungkin Kunti bukan jodohku. Cari yang lain saja.

Nah, pas di tengah jalan itu, rombongan kami bertemu dengan rombongan Pandu yang membawa Kunti. Ah, benar, ternyata Kunti tidak cantik. Untungnya aku tidak jadi memenangkannya. Apalagi, belakangan aku dengar dia sudah tidak perawan setelah dihamili Dewa Surya. Bahkan dia membuang anak hasil hubungan gelap itu. Bukan perempuan baik-baik dia itu.

Saat rombongan kami berpapasan, mata Pandu itu jelalatan. Dia memelototi kakakku Gendari yang jelita itu. Kurang ajar memang. Mentang-mentang raja, ganteng lagi, seenaknya semua perempuan mau dilahap.

Lalu, rombongan kami dicegat. Pandu menemui Mas Gandara. Kudengar lamat-lamat dari kejauhan, Pandu minta Mas Gandara untuk menyerahkan Mbak Gendari. Tentu saja kakakku tak mau, Pandu sudah menggandeng perempuan lain. Dia tak mau Mbak Gendari dimadu. Tapi Pandu ngeyel. Dan akhirnya pecah pertempuran itu.

Mas Gandara dan pasukannya membela mati-matian Mbak Gendari, sementara aku yang sama sekali tak menguasai ilmu beladiri hanya sembunyi dalam kereta, memeluk Mbak Gendari, dan berharap Mas Gandara menang.

Tapi, asu tenan, Pandu memang jauh lebih sakti. Pasukannya lebih banyak. Mas Gandara terbunuh. Aku dan Mbak Gendari diseret paksa ke Astina. Aku merasa jadi banci waktu itu, tak bisa melawan layaknya Mas Gandara yang gagah perkasa. Aku tak punya ilmu kesaktian apapun. Yang aku punya cuma wajah ganteng, tapi itu pun ternyata kalah ganteng sama Pandu. Makanya Pandu menang sayembara, sudah ganteng, sakti, raja lagi.

Sejak itu aku dendam pada Pandu asu. Apalagi, ternyata Mbak Gendariku yang cantik jelita itu diserahkan pada saudaranya yang buta, Dhrestaratra. Lengkap sudah penghinaan Pandu pada trah Kerajaan Plasajenarku. Ini penghinaan yang tak bisa diterima. Mas Gandara dibunuh, sementara Mbak Gendari dikawinkan sama orang buta.

Suatu saat aku pasti akan membalasmu dengan cara yang lebih kejam, Pandu. Aku tak bisa membalasmu saat ini, karena aku tidak sakti. Tapi aku punya kecerdasan. Kamu tidak tahu itu. Dengan otakku akan kuporakporandakan dinastimu. Jauh lebih kejam dari yang sudah pernah kau lakukan pada Mas Gandara dan Mbak Gendari.

***

TAPI, ngomong-ngomong, biar buta, Dhrestarata mas iparku itu perkasa juga. Dia bisa memberi 100 anak pada Mbak Gendari! Mbakku ternyata kuat juga, bisa melahirkan Duryodana dan 99 adiknya. Weleh, weleh…

Aku tambah kagum dengan Mbak Gendari. Selain kuat, dia cantik dan setia. Dia mau menutup matanya seumur hidup untuk menemani kebutaan Mas Dhrestarata. Aku menghormatinya. Dan aku kasihan padanya, dalam keadaan buta, tak mungkin dia mengurus sendiri 100 anaknya. Biarlah sepasukan keponakanku yang lucu-lucu itu kuasuh. Aku suka anak-anak.

Tapi, aku harus tetap berbuat sesuatu untuk sakit hatiku yang harus terbalas. Untuk sakit hati Mas Gandara. Untuk sakit hati Mbak Gendari.

Untuk tahap awal, aku harus bisa menjadi patih Astina. Dengan begitu, aku bisa menguasai seluruh pasukan, untuk melakukan pemberontakan pada Pandu. Tapi, untuk mendapatkan posisi ini, lagi-lagi gerakku kurang cepat. Gandamana dari Pancala itu mendahuluiku. Asem tenan!

Gandamana harus aku singkirkan. Aku punya ide. Aku mengadu Pandu dengan salah satu muridnya, Tremboko si raksasa itu. Pandu pasti tak akan berani melawan muridnya itu. Alasannya apa, aku tak tahu. Yang kudengar seperti itu. Lalu, Pandu akan menyuruh Gandamana untuk berdamai dengan Tremboko. Nah, pas di tengah jalan nanti, akan kujebak Gandamana masuk ke dalam sumur yang sangat dalam, tembus ke perut Bumi, yang senagaja kubuat dengan bantuan jin hutan itu.

Oiya, aku memang tak menguasai ilmu bela diri. Tapi, dengan kecerdasanku, aku mulai mempelajari ilmu sihir. Dan aku bisa dikatakan penyihir hebat, seperti Merlin di kerajaan Arthur itu. Dengan ilmuku inilah aku membuat sumur.

Rencanaku berjalan sempurna. Gandamana berhasil kujebak. Lalu, aku menjalankan rencana selanjutnya. Kuhasut Pandu, kubilang padanya Gandamana berkhianat, membelot pada Tremboko. Pandu pasti akan marah dan mengobarkan perang. Dan menurut perhitungan otak cerdasku, Astina akan diremukkan Tremboko

Tapi, di bagian ini, rupanya salah perhitungan. Ya, bagaimanapun juga aku manusia yang bisa salah. Gandamana ternyata tidak mati. Dia pulang kembali ke Astina, dan marahnya luar biasa padaku. Mati aku. Lha Gandamana sakti mandraguna, sementara aku tak bisa apa-apa.

Aku diseret ke palagan. Aduh, maaaaaakkkkkkk… Aku dihajar habis-habisan. Remuk sudah wajah gantengku. Hancur persendianku. Pengkor semua. Tulang-tulangku melengse semua dari sendi-sendinya. Asuuuuu….

Dan setelah penyiksaan Gandamana itulah orang-orang menyebutku Sangkuni. Diambil dari kata “saka” yang dalam Jawa berarti “dari” dan “uni” yang berarti “ucapan”. Kudapatkan ragaku yang hancur ini akibat ucapanku sendiri. Ucapan menghasutku. Baiklah. Aku terima ini sebagai konsekuensi perbuatanku sendiri.

Ini adalah hukum pasti sebab-akibat yang berlaku di semesta alam. Setiap tindakan membawa akibat sendiri-sendiri.

Lengkap sudah. Aku kehilangan kerajaan, kehilangan kakak-kakakku, sekarang kehilangan indah ragaku. Sakit hatiku tambah menggebu. Dan aku harus membalasnya.

***

JALUR patih gagal kudapat. baiklah aku harus sedikit bersabar. Aku akan membalaskan dendamku dengan cara yang paling sempurna. Akan aku hancurkan Astina. Tak hanya kerajaannya, juga dinastinya.

Kudidik seratus keponakanku untuk membenci Pandu dan keturunannya, para Pandawa itu. Tiga anak Kunti; Yudhistira, Werkudara, dan Arjuna, plus dua anak kembar Madri; Nakula-Sadhewa. Akan kutanamkan kebencian dalam benak anak-anak mereka, dan akan terbentuk sempurna kelak jika mereka dewasa.

Akan kukobarkan perang mahadahsyat yang akan menghabisi riwayat kerajaan ini. Demi sakit hatiku dan saudara-saudaraku yang harus terbalas. Demi jiwa Mas Gandara, demi kebahagiaan Mbak Gendari yang diperkosa.

Biarlah orang-orang melihatku jahat, licik, penghasut, atau kutukan-kutukan buruk padaku. Mungkin Dewa memang menciptakan kau untuk itu. Bukankah manusia hadir di dunia membawa peran masing-masing? Untuk saling melengkapi dan memberi makna.

Dan aku juga manusia. Aku bukan nabi. Aku punya sakit hati. Aku punya dendam. Dan aku merasa ada ketidakadilan dalam sikap Pandu. Tentunya, ketidakadilan dalam pemahamanku, yang itu sulit diterima banyak orang yang merasa harus memandangku jahat.

Menurutku, aku hanya menasehati Duryodana dan adik-adiknya. Nasehat biasa untuk mempertahankan kekuasaan. Bukankah hasrat berkuasa dimiliki semua orang? Kalau kau tak percaya, suatu saat nanti tanyakan pada Nicollo Machiavelli, dia pasti mengamini pendapatku itu. Dan aku hanya memberi nasehat agar kekuasaan Duryodana tidak jatuh, seperti kerajaanku dulu. Aku menasehati mereka karena aku sayang pada anak-anak Mbak Gendari.

Baiklah.Aku tetap menerima kendati tetap dicap jahat, apapun dalilku untuk  membela diri. Tapi, tanpa aku yang “jahat” ini, kebaikan tak akan pernah ada. Dan manusia selalu membutuhkan pertempuran untuk pamer pada dunia bahwa “kebaikan selalu menang”.

“Kebaikan” macam apa? Yang bagaimana?

Entahlah. Otakku yang cerdas ini pun tak sanggup mendefinisikan istilah itu dengan tepat. Paramaternya terlalu beraneka banyak rupa. Itu membuatku bingung.(*)

Advertisements

2 thoughts on “Confession of Sengkuni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s