Tumbal Hasrat Sang Pangeran

Demi Putera Mahkota

LEGENDA Troya memberikan pelajaran pada kita; ketika hasrat menjadi dominan, semuanya bakal tumpas sia-sia.

Paris, sang Pangeran Troya, atas nama hasrat libidonya membawa kabur Hellen, istri Minelaus salah satu penguasa Sparta. Pencurian asusila itu terjadi ketika Troya-Sparta terikat perjanjian damai dan tak akan saling melukai.

Paris tak pikirkan dampak untuk politik dan negerinya. Seolah-olah, ketika mengambil keputusan memalukan itu, dia mendegradasikan logika dan mendewakan hasrat. Lalu, tumpahlah darah di Troya karena hasrat yang tak tahu tempat.

Dan celakanya lagi, ada definisi yang janggal dalam benak sang Raja Troya, ayah Paris, dalam menyikapi hasrat anaknya itu; harus dibela atas nama kehormatan. Sang ayah terlalu sayang anak, dan memutuskan perang, kendati kelakuan anaknya itu menerabas traktat.

Tak salah memang ketika seorang ayah membela anak. Tak salah seorang kepala keluarga mengatasnamakan kehormatan ketika mengambil sikap untuk menjadi tameng, entah bagaimana pun kelakuan sang anak. Hasrat kasih sayang lah yang jadi garda depan.

Tapi ketika keputusan itu berdampak massif, apakah pantas sebuah keputusan dicomot serampangan? Apakah tak ada tanggungjawab Raja sebagai seorang pemimpin untuk mengambil keputusan bijak, dan dengan jiwa besarnya mengakui kesalahan anak lantas membiarkan hukum berjalan semestinya? Apakah tak ada pertimbangan untuk mengesampingkan hasrat, atau “kehormatan” yang didefinisikan dengan cara yang aneh itu, demi perdamaian umat?

Pantaskah Sang Raja Troya mengerahkan ribuan pasukan penumpas kelas wahid untuk membentengi upaya anak lelakinya, yang secara kurang ajar berikhtiar memenuhi kebutuhan memanjakan kemaluan itu? Dari kacamata kepatutan, patutkah apa yang diputuskan sang raja?

Hasrat memang liar, tapi dia tumbuh di setiap manusia. Dia mendorong umat untuk berbuat semaunya. Dia menjelma dalam berbagai bentuk; seksual, kekuasaan, kenikmatan. Dia tak pernah bertemu puas. Sigmund Freud merangkumnya dalam Id.

Jauh-jauh hari Aristoteles bahkan sudah memperingatkan ancaman laten itu. Karena itu pula perlu dilahirkan sebuah regulasi, penting dibentuk sebuah kesepakatan agar dorongan itu tak liar-liar amat. Dan karena itulah lahir hukum, sebuah upaya untuk mengendalikan hasrat. Sigmund Freud mendefinisikannya dalam superego.

Ketika hasrat meliar, hukumlah yang harus bertindak cekatan. Hukum, apa pun bentuknya, adalah pawang penjinak hasrat. Karena itu hukum ditempatkan di atas hasrat, agar masyarakat tertata dalam sebuah koridor nan harmonis.

Dan ketika hasrat kian menggila, menegasikan hukum atas nama kepuasan, Troya lah contoh tragedi yang paling pantas dirujuk. Libido sang pangeran berkolaborasi dengan hasrat “mempertahankan kehormatan” sang raja, bertemu dan melahirkan sebuah perang mahadahsyat. Banyak korban. Banyak yang ditumbalkan. Kedigdayaan Troya ditutup dengan kehancuran.

… Semoga saja Indonesia tak lumat karena hasrat “Sang Pangeran” …
… Semoga…
… Karena amatlah memalukan ketika negara sedigdaya Indonesia ini tumpas karena hasrat tak tahu diri dari pemuda ceroboh yang  hanya bisa bersembunyi di balik ketiak bapaknya –yang selalu ingin tampak terhormat…

Seperti Troya

Advertisements

9 thoughts on “Tumbal Hasrat Sang Pangeran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s