Sugeng Milad, Guru Terbaikku

Dia guru terbaikku.

Bapak

Bapakku ulang tahun.
Hari ini genap 66 tahun beliau berpetualang di muka Bumi.

SETENGAH abad lebih beliau melihat, mengalami, dan merasakan sendiri jibaku sebagai makhluk yang punya akal budi dan rasa. Dari rangkuman pelajaran yang beliau transformasikan kepada kami, anak-anaknya, beliau menyampaikan sebuah pesan pada kami; bahwa hidup adalah memberi.

Bapakku lahir dari keluarga idealis. Kakekku, Soenarjo, yang biasa kami sapa Eyang Kakung, adalah seorang pejabat tinggi di Kota Pasuruan, tepatnya sekretaris daerah, tahun 1950-an lalu. Pada anak-anaknya, termasuk bapakku, beliau mengajarkan cara hidup bersahaja. Sebagai seorang pejabat yang tak main-main kedudukannya, kakekku memilih untuk mengayuh sepeda kumbangnya untuk berangkat bekerja.

Karena, seperti yang dikisahkan Bapak pada suatu saat, Eyang Kakung mengemban tugasnya sebagai seorang pemberi. Eyang baru mengambil haknya, semacam fasilitas kendaraan, jika benar-benar dirasa perlu. Atau ketika beliau merasa sudah melayani warga Kota Pasuruan seperti amanah yang diembannya.

Sayang, sepanjang karirnya hingga pensiun, Eyang Kakung selalu merasa belum juga bisa menjalankan seluruh amanahnya. Karena itu beliau tidak mengambil hak mobil dinasnya. Beliau merasa belum berhak.

Beliau mengayuh untuk menuju balai kota. Dan ketika wafat tahun 1999 lalu, Eyang Kakung tak punya rumah pribadi. Beliau menumpang hidup pada adik bungsu Bapak, yang hidup berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lainnya tiap dua tahun sekali.

Kebersahajaan kakek itulah yang diturunkan ke Bapak. Bapak pun menularkan kesederhanaan itu pada kami.

Sebagai anak seorang pejabat, Bapak tidak manja. Lepas SMP beliau merantau ke Kota Madiun, kota tempatku lahir dan dibentuk dalam pertumbuhan. Di sana Bapak hidup numpang di rumah pamannya. Beliau tidak hidup enak-enakan. Beliau selalu berusaha untuk bertahan hidup.

Pernah suatu kali Bapak kelaparan. Pamannya yang kala itu hidup mepet, dan harus menghidupi tiga anak perempuannya, tak bisa fokus memperhatikan Bapak. Untuk mengatasi laparnya, Bapak mencabut pohon singkong milik tetangga. Singkong dipetik untuk dibakar, sementara pohonnya ditanam lagi. Jelas saja pohon yang menyerap sari-sari tanah dari singkong yang ada di pangkalnya itu mati. Pencurian ala bapakku ketahuan. Beliau dihukum untuk itu.

Ah, ada-ada saja.

***

BAPAKKU adalah pria yang mandiri. Ketika kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Kota Madiun –di mana ketika itu Madiun memiliki universitas negeri yang sekarang sudah tak ada lagi— beliau membiayai kuliahnya sendiri. Beliau bekerja paruh waktu sebagai penyobek karcis di sebuah gedung bioskop kelas kambing bernama Lawu –yang sekarang berubah frontal menjadi Pasar Raya Sri Ratu.

Beliau kuliah di pagi hari, sore hingga malam bekerja. Dengan begitu beliau bisa menabung untuk kelangsungan kuliah dan hidupnya. Agar beliau tak harus menjebol pohon singkong tetangga lagi.

Di kampus itu jugalah Bapak bertemu dengan Ibu (almarhum). Ibuku adalah primadona di kampus, puteri dari seorang pejabat tinggi di masa pemerintahan Perdana Menteri Amir Syarifuddin.

Cobalah kau telisik sejarah masa pemerintahan Amir. Di sana akan ada nama Soekemi Redjo Soemarto yang menjabat sebagai Menteri Pertanian. Itulah kakekku. Bukannya sombong, tapi hanya agar sejarah dilihat secara komplit.

Tapi, Bapak tak pernah bertemu dengan mertuanya itu. Bapak bertemu Ibu pada tahun 1969 sebagai seorang yatim, karena Kakekku meninggal tahun 1962. Beliau wafat lantaran penyakit dalam yang sangat parah. Sakit akumulasi dalam jangka waktu lama, setelah begitu sering digebuki oleh militer dan polisi, karena dituduh PKI, setelah pemerintahan Amir Syarifuddin ambruk, tahun 1948.

Sebelum meninggal, kakekku pernah bersumpah dan meninggalkan wasiat pada tujuh puterinya; jangan sampai anak-menantu-cucunya ada yang berkarir di militer atau kepolisian. Kakekku memandang kesatuan itu lalim. Karena itulah aku tidak jadi masuk Akademi Militer. Bukannya karena teringat sumpah kakek, tapi lebih karena tato tribal di lengan dan paha kiriku yang tak memungkinkan aku masuk militer. Mungkin juga itu adalah sebuah bentuk “manjurnya” sumpah almarhum Kakek.

Kembali pada Bapak dan Ibu. Ibuku tercantik di kampusnya. Juga di antara tujuh bersaudara pasangan Soekemi-Djainem, kakek dan nenekku. Selain cantik, Ibu dari keluarga terpandang. Dan Bapak bagaikan antonim bagi Ibu. Bapak, menurut saudara-saudaranya, paling jelek di kampus, pun di keluarganya. Bapakku kurus dan hitam. Miskin lagi.

Tapi, dalam cinta, bukankah Tuhan bekerja secara misterius? Dan begitulah pula cinta bekerja antara Bapak dan Ibu. Hingga mereka menikah pada tahun 1970, dan meninggalkan bangku kuliah demi hidup bersama.

Sejak pernikahan itulah Bapak benar-benar menunjukkan jati dirinya sebagai laki-laki sekaligus kepala keluarga. Segala daya dan upaya beliau kerahkan, demi mencukupi Ibu dan anak-anaknya. Bapak melarang Ibu bekerja, kendati Beliau sendiri sebenarnya kewalahan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Bapak ingin Ibu mencurahkan seluruh perhatiannya pada anak-anaknya, dan tak boleh membaginya dengan pekerjaan. Cari uang adalah tanggung jawab pria, prinsip Bapak. Bapak tak pernah meminta apapun dari keluarganya. Bapak hanya terus berusaha memberi.

Bapak mulai bekerja macam-macam. Mulai dari penyobek karcis gedung bioskop, penjaga toko oli, sopir di sebuah perusahaan distribusi, semua dilakoninya demi keluarganya. Di tengah kesibukannya itu, Bapak selalu menyempatkan diri untuk berkumpul bersama kami dalam liburan. Atau memberi kami beberapa pelajaran.

***

SEBAGAI satu-satunya anak lanang, bungsu lagi, aku tentu paling disayang. Padaku Bapak memberikan banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Beliau menanamkan prinsip mendasar seorang lelaki padaku; jangan pernah pulang sebelum kau menjadi pemenang. Prinsip yang aku pegang hingga sekarang.

Salah satu pelajaran praktikum paling berharga dari Bapak adalah ketika mendidikku untuk jadi pemenang dan jangan takut melawan arus.

Dulu, aku adalah seorang bocah kecil, kurus, dan sering jadi objek aniaya teman-teman yang lebih besar. Tiap kali usai bertengkar, aku yang selalu kalah menangis dan mengadu pada Ibu. Ibu tentu saja memeluk dan menenangkanku.

Suatu hari, Bapak mendapatiku sedang cengeng. Kala itu aku baru saja berkelahi dengan seorang temanku yang bertubuh besar dan dikenal sebagai jagoan sekolah. Aku kalah dan kesakitan setelah dipukuli. Melihat itu, bukannya marah pada yang memukuliku, Bapak malah marah padaku. Kata beliau, aku banci. Saat itu juga beliau menyuruhku mendatangi rumah si jagoan sekolah dan menantangnya berkelahi lagi. Dan Bapak mewanti-wanti, aku tak boleh pulang sebelum aku menang.

Aku yang ketakutan langsung menuruti perintah Bapak. Rasa takut pada Bapak melebihi takutku pada si jagoan sekolah. Aku tantang si jagoan berkelahi. Pada akhirnya, perkelahian itu aku “menangkan”. Bukan lantaran jurus silatku yang hebat. Tapi mentalku. Beberapa kali aku dipukuli, beberapa kali jatuh, tapi aku bangun lagi, hingga akhirnya si jagoan sekolah itu “keder”. Kalah nyali dan kecapekan. Akhirnya dia mengaku kalah. Dan akhirnya, aku pulang sebagai pemenang, dalam versi lain tentunya.

Bapak juga mengajariku tentang politik. Dalam bidang satu itu, beliau memang melawan arus. Ketika banyak sejawatnya berpihak pada Golkar pada Orde Baru lalu, Bapak memilih mengibarkan bendera merah PDI. Dan yang aku tahu, sejauh itu hanya Bapakku satu-satunya ketua RT di Kota Madiun yang bukan dari Golkar. Tapi, karena pilihan politiknya itu pula, Bapak dipecat dari ketua RT. Bagi Bapak, politik adalah permainan laying-layang. Soal siapa yang lebih tinggi terbang dan soal siapa yang menang aduan, seperti yang pernah aku catat dalam “Layang-layang”.

Bapak juga mengajarkan kami anak-anaknya, bahwa memberi itu terangkan hati. Memberi itu akan lebih indah tanpa kalkulasi, seperti yang pernah aku rekam dalam “Bapak dan Didin”.

Banyak nilai-nilai yang aku pelajari dari Bapak. Tentang cinta, melalui kisah cinta pertama sekaligus satu-satunya yang Beliau lakoni dengan Ibu, hingga Ibu wafat pada 2011 lalu, pun cinta pada keluarga dan anak-anaknya. Juga tentang keberanian dan prinsip hidup sebagai lelaki, khususnya untukku. Pula tentang upaya memberi dan keikhlasan itu adalah jurus paling ampuh untuk menjalani hidup bersahaja dan damai, di mana kita tak akan pernah merasa sendiri dan kesepian.

Terima kasih Bapak.

Semoga Raja Semesta Alam senantiasa memelukmu dengan cinta dan berkah-berkah-Nya. Hanya doa ini kado dari anak laki-lakimu –yang sepertinya akan sulit untuk menyamai kebersahajaanmu dalam melakoni dan memaknai hidup ini.

Cinta kami untukmu.

Aku dan Guruku
Advertisements

5 thoughts on “Sugeng Milad, Guru Terbaikku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s