Petasan

Karena hidup sarat letupan. Bahkan ledakan.

thumbs.dreamstime.com

KALAU diminta mengilas siapa teman saya waktu kecil yang paling berkesan, aku langsung menunjuk satu nama; Hendrik. Nama lengkapnya Hendrik Susanto.

Untuk bocah seusia kami ketika itu, sekitar 7 tahunan, Hendrik termasuk kekar. Dia doyan segala jenis olahraga. Paling ampun kalau harus main bola dan kita ada di posisi yang tidak satu tim dengan dia. Pasti bengkak semua kaki kena gaprak.

Bapaknya sopir bus besar jurusan Madiun-Ponorogo bernama Katirun. Kerjaannya mabuk setiap hari. Kepala kecilku kala itu berpikir, mungkin itu ritual rutin setiap sopir. Karena, sebagian sopir kendaraan berat yang saya ketahui selalu hobi menenggak minuman keras.

Setiap malam Katirun selalu tertidur hanya mengenakan kolor warna merah menyala, (saya sempat berpikir, mungkin semua celananya berjenis dan warna serupa. Karena dia selalu mengenakan celana itu. Apa mungkin tak pernah ganti?) sembari memamerkan perutnya yang hitam buncit di pos kamling yang kebetulan dibangun di depan rumahnya.

Ibunya akrab dipanggil Mbak Asih. Dia semok. Hendrik sulung dari empat bersaudara, buah hati Katirun-Asih itu. Asih kerjaannya ngerumpi, tak peduli situasi. Tak jarang dia ngerumpi di dekat pos kamling, ketika suaminya masih terlentang setengah mabuk di pos itu.

Hendrik ini anaknya apa adanya. Malah kelewat jujur. Intelegensinya (maaf) jongkok. Dua kali dia tinggal kelas. Dia masuk SD setahun lebih cepat dari saya, tapi saya setahun lebih cepat duduk di bangku SMP daripada dia. Dua kali dia “gadel”, istilah kami semasa bocah, sebagai kata ganti tinggal kelas.

Yang membuat saya teringat terus sama Hendrik ini bukan keluarganya yang unik dan IQ-nya yang harap maklum. Yang paling kena di ingatan saya adalah hobinya main petasan.

Bagi Hendrik, main petasan itu tak ada kenal periode. Jika umumnya petasan hanya menjamur setiap bulan puasa, bagi Hendrik, petasan itu kebutuhan pokok. Sepanjang tahun dia bersenang-senang dengan petasan.

Kalau tidak ada penjual petasan, dia meraciknya sendiri. Ukurannya suka-suka dia. Penting, dia bisa mengekspresikan kesenangannya. Dar, der, dor, tak peduli kuping orang budek gara-gara hobinya itu. Dan, tiap petasannya meledak, ada rasa puas yang tak terukur di mimik Hendrik.

Tak ada yang berani macam-macam sama Hendrik. Selain kekar, teman-teman sebaya kami juga “sungkan” sama petasan-petasannya. Dia tak segan “mendelegasikan” petasannya untuk menyelesaikan masalah, ketika dia malas turun tangan langsung.

***

AKU pernah jadi korban keganasan petasannya. Waktu itu kami berdua berlomba-lomba mengejar layang-layang putus. Kebetulan layang-layang itu nyangkut di pohon mangga rumah orangtua saya. Set, set, set, aku sigap memanjat pohon dan jadi pemenang rebutan layang-layang itu.

Tapi Hendrik ini tidak terima. “Curang, layangannya di rumah kamu. Jelas kamu yang dapat,” katanya, sambil bersungut-sungut.

Dari atas pohon mangga yang tak sebegitu tinggi, dan dahannya menjulur keluar pagar itu, aku meledeknya, “Biarin, wek, yang jelas aku yang dapat, wek, wek, wek,” sambil menjulurkan lidah dari atas pohon. Ekspresi kepuasan khas bocah kecil.

Rupanya ledekan saya membuat dia murka. Tak aku sangka, dia langsung mengeluarkan senjata andalannya; dia keluarkan petasan sebesar ibu jari Mike Tyson (petinju ini idola si Hendrik) dari saku celananya. Dia nyalakan, dan, wus, dia lempar ke arahku.

Aku yang tak mengira serangan mendadak, dengan posisi yang kurang menguntungkan di atas pohon, tak bisa menghindar. Duar! Petasan meledak tepat di bawah pantat kiriku. Celanaku bolong!

Hhhuuuuaaaaaa! Pecahlah tangisku di atas pohon. Si Hendrik langsung ngibrit. Dari jauh dia melemparkan seringai yang membuat hatiku rasanya lebih sakit daripada pantatku yang kena petasan.

Ibuku yang mendengar tangis anak kesayangannya langsung keluar rumah. “Ada apa , Le?” tanya Ibu cemas.

Wajah beliau pucat ketika melihat pantat kiriku gosong. “Masyaallah, Le, kamu kenapa?” Ibu saya makin panik.

“Dilempar Petasan sama Hendrik, hhhhhuuuuaaaaaa,,,” saya meledakkan tangis makin keras, biar Ibu makin iba dan saya dimanja, hehehehe…

Eh, tapi bukannya memanjaku, Ibu yang kadung naik pitam langsung meluruk rumah keluarga Katirun-Asih mencari Hendrik. Tujuannya jelas; melabrak.

“Sih, Asih, mana anak kamu?! Bocah edan! Masa anakku dilempar petasan????” ujar Ibu, tanpa menyembunyikan emosinya.

Mbak Asih keluar, sementara Hendrik entah ke mana. Rupanya Hendrik sudah mengira reaksi ibuku setelah apa yang dia lakukan padaku. Dia tidak berani langsung pulang.

“Sabar, Mbak… Dilempar petasan Hendrik? Lha, kan memang semua anak sekampung pernah dibegituin,” ujar Mbak Asih, enteng.

Mendapat jawaban itu, Ibuku langsung drop. Tak jadi emosi. Jadinya malah bingung.

”Sudahlah, kalau sampeyan ketemu Hendrik, sampeyan jewer atau tempeleng monggo. Saya sudah ndak bisa ngomongi bocah ini.” Mbak Asih pun ampun sama hobi anaknya.

***

OBSESI Hendrik pada petasan makin tak terbendung. Suatu kali dia menghasilkan mahakarya luar biasa; Petasan seukuran ember cat! Dia bahkan rela menabung sebulan untuk bisa membuat mahapetasan itu.

Aku, yang kebetulan melihat dia sedang berkarya, bertanya-tanya; buat apa petasan sebesar itu? Apa mau menghancurkan kampung?

Ealah, ternyata, ceritanya dia mau balas dendam. Sasarannya Mbah Sum, janda lanjut usia yang galaknya minta ampun, seperti nenek sihir di sandiwara boneka Si Unyil.

Hendrik memelihara sakit hati. Dalam seminggu rata-rata dia kena pukul tongkat penyangga jalan Mbah Sum itu tiga-empat kali. Tongkat itu melayang karena Mbah Sum sering kaget gara-gara suara petasan Hendrik yang sejempol-jempol Tyson itu.

Pada suatu tengah hari bolong, Hendrik mengendap-endap tepat di depan teras rumah Mbah Sum. Dia taruh mahakarya petasan itu. Dia nyalakan sumbunya yang lumayan panjang, dan berlindung sembari mentupi kuping.

Ketika sumbu habis… DUUUUUUUUAAAAAAARRRRRRRRRRRR!!!!!!

Masyaallah suaranya… Sampai-sampai orang sekampung berhamburan keluar rumah, dikira ada bom. Atap teras rumah Mbah Sum rontok.

Untung Mbah Sum tidak jantungan, dan langsung “berangkat”. Ledakan Mbah Sum lebih dahsyat dari petasan Hendrik.

Mbah Sum, yang waktu petasan meledak sedang tidur siang, spontan melompat dari ranjangnya, sampai lupa mengambil tongkat yang biasa membantunya berjalan —dan memukul Hendrik.

Dia langsung lari keluar rumah, berteriak; “Hendriiiiiiiikkkkkkk!!!!! Asssuuuu!!!! Kowe opo arep mateni aku??????” sambil berlari tanpa tongkat, mengejar Hendrik yang sudah lari jauh.

“Mbah Sum bohong, Mbah Sum Bohong! Katanya kakinya sakit kok bisa lari. Mbah Sum bohong,,” ledek Hendrik dari jauh sembari ketawa-ketiwi puas.

Mbah Sum tambah mendidih. Adegan kejar-kejaran antara Mbah Sum dan Hendrik itu malah membuat warga lupa kagetnya, karena tertawa. Adegan itu lucu.

Akhirnya Katirun, yang hari itu tidak nyopir, dan beberapa warga harus turun tangan menenangkan situasi. Mbah Sum dipegangi dan diamankan.

“Wes, Mbah, wes.. ingat umur…” beberapa warga coba menenangkan Mbah Sum dan memberinya minum. Sementara Hendrik diamankan Katirun, dibawa ke sumur, ditelanjangi dan diguyur air sumur. Mungkin biar setannya keluar.

***

ITULAH Hendrik.

Bagi Hendrik kecil, petasan adalah kesenangan yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Dia pernah diiming-imingi bapaknya, uang sakunya ditambah asal berhenti main petasan. Tapi, dia menolak tawaran itu dan memilih berpetasan-ria.

Kesenangan masa kecil yang tak akan terbeli dengan apa pun. Dia berhasil mempertahankan prinsip jiwa anak-anaknya. Kesenangan anak-anak dihabiskan semasa kanak-kanak.

Setelah kami dewasa, perlahan namun pasti dia mulai sadar. Lama-lama hobi nyelenehnya itu hilang sendiri. Dia bangun sebagai pria dewasa, seorang bapak dengan tiga anak yang bijak.

Dia insyaf dengan sendirinya, setelah puas dan belajar banyak hal dari dunia masa kecilnya yang penuh main-main itu. Dia tidak menyimpan rasa penasaran terhadap “kebahagiaan masa kecil yang hilang,” ketika dewasa. Sehingga dia tak harus melakukan perbuatan menyimpang karena “masa kecil kurang bahagia”.

Dunia yang pernah dimiliki Hendrik kecil adalah dunia penuh kesenangan. Dia menikmati dunia itu sepuas-puasnya. Petasan telah memberinya kesenangan masa kecil yang tanpa batas.

Kesenangan yang tak mungkin direngkuh ketika umur sudah semakin laju, seiring semakin banyaknya tanggung jawab yang membangun pagar antara antara kita dan kesenangan.

Hendrik sadar itu. Karena itu dia berhenti bermain petasan.

Karena dia dan kita harus sadar, bahwa kedewasaan dan kehidupan menghadirkan “Petasan-Petasan” lain –dengan “P” kapital– yang harus kita waspadai, sehingga tak ada lagi waktu untuk mengurus petasan ala Hendrik.

Petasan yang bisa membuat kita kaget, tercengang, marah, bahkan mengumpat. Letupan-letupan kecil berupa halangan, kegagalan, atau cita-cita yang pupus karena berbagai variabel.

Tapi itulah hidup. Penuh petasan. Memberi kita banyak kejutan, yang tak jarang membuat kita terkaget-kaget. Menangis. Bahkan kalap seperti Mbah Sum.

Advertisements

6 thoughts on “Petasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s