Rahwana Galau

Jagat Dewa Bathara

Rahwan



MUKAKU
berangkap sepuluh itu bukan cacat. Itu karunia-Nya. Hidup sebagai raksasa tak pernah aku memintanya. Aku tak pernah meminta dilahirkan ketika kalung permata Wisrawa bapakku memantulkan cahaya pada wajah bayiku. Ini kehendak Sang Dewa dan aku menerimanya.

Orang-orang memandangku kejam, tapi mereka tak mau mengenalku. Mereka membentukku dalam prasangka-prasangka yang pun aku sendiri tak tahu kenapa prasangka itu ada.

Kata mereka aku menakutkan, padahal aku tak pernah berusaha untuk menakuti siapapun. Karena mukaku menyeramkan? Sekali lagi, aku tak pernah meminta kemasan ragawi ini.

Aku tak merampas Alengka dengan kekerasan. Sang Dewa Kekayaan Kubera memberikan negeri permai karya Wiswakarma itu padaku melalui negosiasi. Tak ada darah tertumpah di Alengka yang aku cintai.

Aku membuat rakyatku bahagia. Tanyakanlah pada kitab-kitab itu, mereka akan memberitahumu bahwa rakyat termiskin di Alengkaku pun memiliki kendaraan dari emas. Tiada satu pun rakyatku yang pernah kelaparan.

Aku adalah raja, dan berusaha untuk memerintah seadil mungkin di Alengkaku.
Rakyatku mencintaiku.

Aku adalah makhluk yang diciptakan bersama dengan cinta. Aku lahir dari buah cinta Kaikesi ibuku dan Wisrawa bapaku. Aku pun punya hak untuk mencinta.

Aku mencintai istri-istriku, begitu pula mereka mencintaiku. Tanyakanlah kepada Mandodari, salah satu istriku yang bidadari itu. Betapa dia merasa sangat beruntung bisa hidup di dalam cintaku.

Aku adalah pecinta.

***

KADANG makhluk tak bisa memilih ketika cinta harus jatuh pada siapa, bukan?

Aku jatuh cinta pada Wedawati. Cintaku kepadanya teramat sangat, bahkan menghancurkan akal sehatku. Sayang, cinta Wedawati untuk Whisnu, bukan untukku. Tapi aku tetap memelihara cinta untuknya.

Sang waktu membuat aku hilang kewarasan karena cinta. Kerinduanku padanya yang teramat sangat membuat jiwaku kosong. Aku harus memiliki Wedawati. Aku mengikuti naluri cintaku.

Aku menjemputnya dan membawanya pulang. Padanya kupersembahkan taman Asoka terindah itu.

Tapi kenapa dia berontak? Kenapa dia menceburkan diri dalam api, lalu bersumpah akan bereinkarnasi menjadi wanita yang akan sangat kucintai tapi akan menjadi sebab kematianku? Kenapa cinta itu bersemenjana untuk membunuhku?

***

AKU adalah pecinta.

Tak hanya pada istri-istriku, tapi juga pada keluargaku. Pada saudaraku. Pada anak-anakku. Pada negeriku. Aku mencintai mereka semua. Aku akan merasa sakit, aku akan marah, jika mereka disakiti.

Dua sontoloyo itu, Rama dan Laksmana, telah menyakiti kerajaanku.

Aku tak pernah mengusik negeri mereka. Tapi kenapa mereka menghancurkan Yanasthana, benteng perbatasanku? Mereka menghancurkan sebagian negeriku tanpa aku tahu apa salahku pada mereka. Mereka melukai adikku Sarpakenaka.

Aku tidak terima.

Mereka harus mendapat ganjarannya. Mereka telah menghancurkan sebagian negeriku dan menyakiti keluargaku. Mereka menyerangku. Aku harus memberi mereka sedikit pelajaran.

Tapi aku tak mau berperang. Peperangan hanya akan menghancurkan negeriku yang permai dan kucintai. Peperangan selalu ditolak oleh cinta. Tapi, mereka tetap harus merasakan sakitnya kehilangan, seperti aku kehilangan sebagian negeriku. Biar mereka kapok, dan tak lagi merusak.

Aku akan meminta bantuan Marica untuk mengambil milik Rama yang paling berharga. Akampana menteriku menasihatiku, bahwa itu adalah calon permaisuri Rama yang bernama Shinta. Calon. Rama dan Shinta belum menikah. Aku tak akan dituduh telah membawa lari istri orang. Itu tidak pantas.

Marica menyamar sebagai kijang buruan untuk memancing Rama dan Laksmana. Sementara aku menyaru sebagai pertapa tua untuk menculik Shinta. Rencanaku berhasil.

Aku membawa Shinta ke negeriku.

***

JAGAT Dewa Bathara!

Rupanya Shinta begitu indah. Tanpa harus kuputuskan, aku langsung jatuh cinta kepadanya. Dia adalah sosok yang paling pantas kucinta. Dan aku melihat Wedawati dalam matanya.

Oh, Wedawati, inikah sumpahmu itu? Benarkah kau datang di dalam Shinta untuk membuatku jatuh cinta, lalu membinasakanku?

Ah, demi Brahma dan Syiwa, aku tak peduli.

Yang aku tahu, dan aku benar-benar tahu, aku telah jatuh cinta pada Shinta. Entah itu adalah kau Wedawati, atau Shinta sendiri, aku telah jatuh cinta kepadanya. Aku persembahkan taman Asokaku yang terindah itu, yang kuambil dari sedikit swargaloka hadiah dari Brahma itu, untuk Shinta.

Shinta harus mencintaiku seperti aku jatuh cinta kepadanya. Shinta adalah Wedawatiku yang pulang, setelah meninggalkan rasa sakit untukku.

Kali ini aku tak mau sakit.

***

TAPI, kenapa Shinta menolakku juga, seperti kau, hai Wedawati?

Apakah kalian tak bisa merasakan kemurnian hatiku, seperti yang dirasakan Mandodari yang bidadari itu? Kenapa kalian tak bisa merasakannya? Dan kenapakah aku harus sangat mencinta pada wanita-wanita yang tak pernah bisa mencintaiku?

Aku bisa saja memaksamu dengan kuasaku, hai Shinta. Tapi hatiku menolak melakukan itu.

Aku adalah pecinta. Aku bukanlah pemaksa. Aku tahu cinta terlalu Agung untuk dipaksa.

Aku mencintaimu, Shinta. Aku memujamu. Aku memberimu segalanya. Yang terbaik aku bisa adalah mempersembahkan Asoka yang laksana swargaloka padamu. Bersama kau di dalamnya, Asoka adalah Swargaloka yang utuh, bagiku.

Aku biarkan waktu yang akan merayu kau untukku, di taman Asoka itu. Aku yakin, keyakinanku pada cinta akan menumbuhkan cinta di dalammu. Untukku.

***

RAMA dan Laksmana benar-benar sontoloyo! Mereka tak pernah kapok! Belum puas mereka menzalimiku!

Aku tak pernah menyentuh negeri mereka, mereka senantiasa menggempurku! Mereka juga ingin merebut Shinta dariku! Mereka ingin merebut cintaku! Kurang ajar!

Mereka membawa bolo-bolonya membantai kerajaanku! Mereka membawa Sugriwa dan Hanoman untuk membunuh adikku Kumbakarna dan Indrajit putraku! Mereka merenggut semua yang kucintai! Kurang ajar! Kali ini kesabaranku sudah habis!

Kutantang kau, hai pengecut Rama!

Hahaha! Kau memang banci!

Kau tak bisa mengalahkan sepuluh perwujudanku! Rasakan kau Rama!

Kau hancurkan semua yang kucintai! Tapi aku tak menghancurkan yang kau cintai. Karena aku lebih tahu apa itu artinya cinta, daripada muka pengecutmu, hai Rama!

***

AH, tapi aku lupa, sebagai banci kau punya banyak kelicikan. Kau mengalahkanku dengan bantuan surga. Aku tak bisa melawan surga. Aku menghormati surga karena di sana banyak cinta. Rasa yang sangat aku puja itu.

Kau pakai Bhramastra untuk merenggut nyawaku…
Aku tak takut padamu, Rama!
Aku hanya tak kuasa melawan Bhramastra dari surga itu…

Kau pengecut, Rama!

Pengecut! Kau membawa surga dalam pertempuran! Kau sungguh hina!

Belum puas juga kau koyak-koyak aku dengan Bhramastra agung yang tak kuasa kulawan itu, kau perintahkan Hanoman membenamkanku di dasar Bumi….

Kau rampas semua yang kucintai, Rama. Kau hancurkan semuanya!
Kau tak tahu apa itu cinta! Yang kau tahu hanya nafsu angkara dan kuasa!
Cinta tak menghancurkan, Rama…
Dan kau datang ke negeriku untuk menghancurkan…

Yang kau tahu hanya merebut semua yang kucinta….
Karena kau tak bisa mendapat semua yang kupunya….
Karena kau tak punya cinta, Rama….

Jagat Dewa Bathara…
Apakah ini yang Kau inginkan dari penciptaanku?
Haruskah aku binasa karena memiliki cinta?
Dan kenapa dunia mengejawantahkanku sebagai perlambang angkara..?
Apakah karena aku raksasa?
Apakah karena aku buruk rupa?
Apakah itu semua menafikan megah-cintaku ini, Dewa?

Duh, Jagat Dewa Bathara…

Ketika kau larang aku untuk jatuh cinta, kenapa kau hadirkan cinta yang begitu megah di dalam jiwaku ini …?

Rahwamananana

Advertisements

2 thoughts on “Rahwana Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s