Njago Anas

Kanan-Kiri Dapet

republika.co.id

PERIHAL jago menjago ini bukan soal Anas yang berhadapan dengan hukum atau KPK. Tapi njago soal pertarungannya dengan Partai Demokrat.

Anggaplah kasus Hambalang itu sebuah pertandingan. Anggaplah ada dua kubu yang sedang berhadapan. Kubu pertama Anas Urbaningrum dan konco-konconya, di seberang ada deretan politisi Partai Demokrat yang disebut “Sengkuni” oleh Anas. Ya, anggaplah begitu.

Anggaplah kedua kubu sedang sama-sama mempersiapkan jurus terhebatnya. Kubu Anas jelas sudah menabuh genderang perang Sabtu (23/2) lalu. Sementara kubu seberang sedang kasak-kusuk strategi dalam sebuah rapat di Cikeas, Minggu (24/2) malam. Intinya, keduanya sama-sama mempersiapkan jurus.

Dari sisi timing, Anas jelas lebih cepat memparadekan tantangannya. Ini psywar. Soal timing dan persiapan jurus, Anas ini jelas punya perhitungan yang matang. Terlepas terbukti atau tidakkah di dalam kasus Hambalang ini nanti, terlepas dia politisi kotor atau bersih, tapi ada satu fakta yang mungkin sulit untuk ditepis; bahwa Anas adalah seorang politisi cerdas yang selalu berhasil “menundukkan” Demokrat.

Dengan kecerdasannya, Anas telah memperhitungkan segala strategi. Tentunya seremoni tabuh genderang perang akhir pekan lalu telah diperhitungkannya.

Dalam konteks berurusan dengan Partai Demokrat, kecerdasan Anas ini terbukti manjur. “Kemenangan pertamanya” atas partai adalah ketika dia berhasil merangsek jajaran elite PD pasca Pemilu 2004. Padahal, sebelumnya dia bukan orang partai, hanyalah “petugas” Komisi Pemilihan Umum –yang diwajibkan bebas aliansi dengan partai apapun.

Tapi, debutnya di partai memberinya hasil bagus, setelah dia sukses terpilih sebagai Ketua Fraksi PD di DPR –posisi yang disebut-sebut dimanfaatkannya untuk memanipulasi untung dalam kasus Hambalang ini.

Untuk bisa mendapatkan kepercayaan dan posisi strategis di partai yang pada 2004 disebut berprospek cerah –dan terbukti sebagai pemenang di Pemilu periode selanjutnya— tentu dibutuhkan strategi jitu. Taktik itu hanya bisa muncul dari kecerdasan. Awam, seperti saya misalnya, sepertinya kesulitan untuk mendapatkan posisi seperti yang didapat Anas dalam debutnya dalam politik partai kala itu.

Saya sebut politik partai itu debut, karena, soal politik umum, Anas tentu banyak pengalaman. Dia banyak makan asam garam sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Indonesia alias HMI. Jam terbangnya di HMI itulah yang membentuknya sebagai seorang politisi handal. Banyak contoh politisi sip yang dilahirkan oleh organisasi mahasiswa ini. Yang paling top, tentu saja, Akbar Tanjung.

Contoh kecerdasan Anas yang kedua adalah keberhasilannya merebut pucuk pimpinan PD melalui Kongres pada 2010 lalu –yang belakangan disebutnya sebaagai keterpilihan yang tak diinginkan, dengan menganalogikan sebagai bayi yang kelahirannya tak diharapkan. Terlepas halal-haram cara yang ditempuhnya, muncul sebagai pemenang dalam kongres yang penuh intrik dan disorot luas itu jelas membuktikan kepiawaian Anas berpolitik. Kecerdasannya kembali bermain di situ, dan mengantarkannya sebagai pemenang.

Ada yang menyebut, salah satu cara yang ditempuh Anas untuk memenangkan pertarungan, melikuidasi Andi Mallarangeng yang digadang-gadang “punden”-nya Demokrat, SBY, adalah dengan masuk ke dalam ruang keluarga sang bos dengan sungkem pada mertua. Dia tahu cara menaklukkan bosnya.

Tapi, ya itulah politik. Semua cara halal hukumnya. Jika memang Anas benar-benar memanfaatkan peluang tersebut, justru itulah bukti kejelian atau keberanian Anas yang tak dilihat kandidat lainnya.

Nah, berangkat dari rekam jejak Anas dalam hal berurusan dengan PD itulah saya pribadi menjagokan Anas. Apalagi, dengan kepiawaiannya berpolitik, yang berkali-kali terbukti ampuh “menaklukkan” Demokrat, sepertinya kemungkinan besar dia akan kembali memenangkan kompetisi dengan partai.

Pernyataannya, yang bersedia digantung di Monas, pun saya rasa diucapkan berdasarkan berbagai pertimbangan. Tak hanya asal ucap. Tentu ada pertimbangan politis juga di situ. Pertimbangan yang sudah dipertimbangkan secara matang. Sebagai jebolan HMI, sepertinya Anas telah mempersiapkan planing A-Z. Banyak rencana di kepalanya.

Dalam pertarungan ini, dia juga telah “menang start” setelah konpers Sabtu lalu. Sekaligus inidikasi bahwa jurusnya lebih matang dari para “Sengkuni” yang masih sibuk kasak-kasak ngurus strategi. Dalam permainan sepakbola, sepertinya Anas ini penganut strategi total football ala Rinus Michels. Falsafahnya, menyerang adalah pertahanan terbaik.

Bahkan, ada juga yang menyebut Anas Urbaningrum adalah “Next Akbar Tanjung”; politisi yang dijuluki belut berlumur oli itu. Kanan-kiri dia “dapet”.

Pasaran taruhannya; voor ¼ lah untuk Anas.

rimanews.com
Advertisements

One thought on “Njago Anas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s