Akhir Tragis Kisah Asmara Politis

Adalah Politik

allmystery.de

ADA dua kisah politik romantis sepanjang 1950-an hingga awal 1980-an.

Sahibul hikayat, terjalin hubungan mesra antara Amerika-Saudi, akhir 1960-an. Urusannya minyak. Saudi Arabia pemasok minyak terbesar untuk Amerika, setelah cadangan minyak Amerika, yang bersumber di Texas, menipis.

Di awal kerja sama, rata-rata pasokan yang masuk ke Amerika mencapai 6,2 juta barel per hari. Jumlah yang cukup besar untuk masa itu. Minyak sangat penting di Negeri Paman Sam karena bahan bakar tersebut tak bisa lepas dari industrialisasi barat yang sedang buru-buru.

Hubungan kedua negara kian hangat dalam simbiosis. Saudi memasokkan minyak, sementara Amerika membangun infrastruktur dan perbankan di negeri 1001 malam sana.

Kala itu, Kerajaan Saudi “dimiliki” oleh Raja Faisal, yang berkuasa sepanjang 1950-an hingga akhir 1970-an. Ada Bin Laden yang menjadi bagian pentingnya. Bin Laden merupakan salah satu pihak yang mendapat berkah dari bisnisan minyak Saudi-Amerika.

Sejak Saudi mendapat laba dari dagang minyak –yang setahun nilainya bisa mencapai USD 116 miliar– negara yang sebelumnya sangat tradisional itu mulai giat membangun dan bergegas menuju modernisasi. Yang jadi langganan proyek adalah Saudi Binladen Group, perusahaan konstruksi yang didirikan Mohammed Awad bin Laden –yang tak lain tak bukan adalah ayah Osama bin Ladin yang fenomenal itu. Sejak dipercaya sebagai langganan tetap konstruksi, Bin Laden menjadi klan yang cukup berpengaruh di Kerajaan Saudi.

Di antara berlangsungnya kerjasama antara Amerika-Saudi Arabia, terjalinlah perkenalan antara Bush Junior dengan bin Laden. Mereka berdua dipertemukan oleh mantan pilot pesawat tempur AS yang banting setir jadi pebisnis, James Bath. Kala itu Bath punya bisnis jual-beli pesawat dengan Salem bin Laden, kakak Osama. Kerja sama berlangsung sejak 1965.

Bath sendiri mengenal Bush Junior ketika Bush jadi pilot pesawat tempur F-102, yang tergabung dalam “Unit Sampanye”. Unit ini diisi anak-anak miliuner Amrik, seperti Bush Junior, untuk lari dari wajib militer perang Vietnam.

Salem adalah pewaris Saudi Binladen Group. Oleh Bush Junior, Salam dikenalkan pada ayahnya, Bush Senior, mantan anggota Kongres Houston yang jadi juragan minyak dari Texas, sekaligus seorang Republik pengikut Richard Nixon. Perkenalan Salem dengan Bush Senior seperti “tumbu ketemu tutup”. Cocok. Bush punya kepentingan bisnis minyak, sementara Salem bersedia memfasilitasi dengan “beberapa syarat”.

Salem akan membantu keluarga Bush memuluskan urusan minyak dengan Kerajaan Saudi menggunakan pengaruhnya, asalkan dia dibantu mengembangkan usaha konstruksinya di Amrik. Ketika itu, Bush Senior adalah Direktur CIA yang punya pengaruh di pemerintah pusat yang dipimpin Richard Nixon. Bagi Bush, permintaan Salem itu soal gampang.

Dari sinilah cinta Bush-bin Laden terjalin kian mesra. Sejak Bush jadi wakil Ronald Reagan, 4 November 1980, bisnis konstruksi Salem turut sukses. Bush pun memanfaatkan kedekatan bisnis itu untuk kepentingan politis.

Dan, ketika ketegangan Amerika-Soviet memuncak, akhir tahun 1970-an, harmonisasi Bush dan Osama ini juga punya peran penting untuk mencukupi keperluan Amerika. Amerika “menyewa” jasa Osama bin Laden dan Al Qaeda-nya yang menguasai Afganistan. Tentu saja, urusan “sewa menyewa” itu dengan bantuan Salem sebagai perantara. Osama, Wahabi militan yang mengajak Afganistan untuk memerangi Soviet karena komunis-ateis, dibiayai Amerika melalui Salem.

Afganistan, dengan semangat jihadnya, ho-oh saja ketika diongkosi Amerika. Bisa dikatakan, perang Afganistan-Soviet adalah kreasi Amerika, yang ingin menjatuhkan komunis. Negeri Paman Sam meminjam tenaga Al Qaeda. Amerika dan Al Qaeda begitu rukun, karena ketika itu mereka punya kepentingan yang sejalan.

Tapi, kepentingan politik pada akhirnya hanya jadi soal membolak-balik. Jamak diketahui orang, pada akhirnya Osama menjadi orang paling diburu Amerika. Hubungan 1980-an lalu seperti tak tersisa sama sekali. Tak menyisakan kenangan secoret pun. Sepi.

Ketegangan berawal ketika Osama yang militan lama-lama merasa Amerika terlalu mengeksploitasi sumber daya alam Saudi, menjajah, dan menginjak-injak martabat Islamnya.

Dari seluruh keluarga bin Laden, Osama memang paling radikal. Salem, kakaknya yang sangat Amerika, pun tak mampu mengerem keradikalan adiknya. Setelah konflik dengan Soviet berakhir, Osama sadar, bahwa dia dan ideologi Islamnya hanya dimanfaatkan Amerika. Mereka jadi boneka.

Harga diri Osama berontak. Disusunlah rencana penghancuran WTC 11 September 2001, yang sukses itu. Sejak saat itu juga, Osama resmi jadi musuh besar Amerika yang dipimpin Bush Junior. Kerja sama Bush-Osama berakhir dan berubah jadi kebencian dan konflik berkepanjangan, yang ditutup dengan terbunuhnya Osama Bin Laden, 2 Mei 2011, atau setelah hampir 10 tahun jadi sosok paling diburu Amerika.

***

ROMANTIKA Amerika-Timur tengah sebenarnya telah berlangsung jauh sebelum relasi minyak dengan Kerajaan Saudi. Atau ketika sedang dalam proses upaya membuka jalur minyak ke Saudi.

Adalah “cerita cinta politis” lain, antara Amerika dan Saddam Husein, yang terjalin sejak tahun 1959.

looptvandfilm.com

Ketika itu, Amerika menyewa Saddam sebagai pembunuh bayaran. Tugasnya menghabisi Perdana Menteri Irak, Jenderal Abdul Karim Qasim. Sang Perdana Menteri adalah sandungan Amerika dalam berinvestasi minyak ke Saudi. Dia pengikut sunni, aliran garis keras dari Iran yang dipengaruhi faham Wahabi. Sunni menentang Amerika.

Dalam misi pertamanya, Sadddam gagal. Dia hanya berhasil melukai Qasim. Tapi, sejak saat itu, Amerika memandang Saddam pantas menjadi preman peliharaan yang bisa dimanfaatkan kapan saja.

Tahun 1979, Saddam berhasil merebut kekuasaan Irak. Sejak itu dia mulai membangun rezimnya. Saddam itu syiah, dan yang Sunni, tinggalan pemerintahan lama, dia amputasi habis-habisan.

Tahun 1983, Iraknya Saddam menginvasi Iran dengan senjata kimia. Amerika mendukung Irak sepenuhnya. Kala itu Presiden AS adalah Ronald Reagan, dan wakilnya Bush Senior. Bush-lah yang bergerak aktif ke luar negeri untuk menyusun skenario pertempuran tersebut.

Kebetulan, Amerika juga kebelet menyingkirkan rezim Ayatollah Khomeini, yang menghalang-halangi bisnis minyak Amerika. Khomeini memang benci Amerika karena terlalu mengeksploitasi negara-negara Arab yang berminyak.

Khomeini juga memutus pipa minyak Amerika di Jordania. Amerika, yang butuh suplai minyak secara kontinu dalam jumlah besar, kelimpungan. Disusunlah skenario agar Saddam menyerang Iran.

Dalam perang Irak-Iran, Amerika berdiri kokoh di belakang Saddam. Yang jadi broker Amrika dan Irak adalah Arab Saudi. Senjata Irak dibiayai penuh oleh Ronald Reagan. Akhirnya, seperti yang tercatat oleh sejarah, Saddam sukses, Khomeini tersingkir, bisnis minyak Amerika pun langgeng.

Setelah “kontrak” beres, Saddam, yang awal kekuasaannya dimodali Amerika, mulai bertingkah. Dia merasa kepentingannya dengan Amerika cukup. Persenjataannya dirasa kuat. Bahkan dia menabuh genderang perang dengan Paman Sam, karena ingin menegakkan sendiri kewibawaan Negeri 1001 malam.

Sebagai salah satu bentuk perlawanan, Irak membombardir Kuwait –salah satu sekutu AS—tahun 1991. Itu menyulut Amerika, yang ketika itu dipimpin Bush Senior. Saddam dicap sebagai “durhaka” dan harus disingkirkan. Pada dasarnya Amerika memang tak lagi butuh Saddam, setelah jalan minyaknya terbuka lebar.

Sayang, selama masa pemerintahannya, Bush Senior tak sukses menangani preman Timur Tengah kreasinya tersebut. Dan Bush Junior, yang menjabat sejak tahun 2000, mendapat tongkat komando estafet untuk menyelesaikan PR bapaknya.

Si Junior lebih moncer. Saddam berhasil ditangkap dalam perang Irak, tahun 2003. Si Macan dari Tigris difitnah telah membangun senjata kimia. Tapi, sampai Saddam digantung tahun 2006 lalu, senjata yang dimaksud tak pernah ditemukan hingga sekarang.

Hoax soal senjata pemusnah massal itu digambarkan dengan apik oleh Paul Grengrass, dalam film Green Zone yang dibintangi Matt Damon dan dirilis pada 2010 lalu.

***

TAK ada yang tak berubah. Tak ada bentuk abadi. Segala sesuatunya bergerak. Dalam diam pun kita sebenarnya bergerak; bersama rotasi Bumi.

Kadang gerak tak tertebak arahnya. Dari yang awalnya teman, jadi musuh, jadi teman lagi, jadi musuh lagi. Semua mengikuti gerak dialektis, kata Hegel. Sejalan dalam hukum tesis, antitesis, sintesis, jadi tesis lagi, begitu seterusnya dan seterusnya.

Kata kuncinya; kepentingan, kepentingan, kepentingan. Kepentingan berlangsung di mana-mana. Tampak mesra ketika sejalan, saling bunuh ketika mulai bersimpang.

Yang awalnya lawan jadi kawan, jadi lawan lagi, jadi kawan lagi, dan seterusnya. Amerika sekubu dengan Al Qaeda demi kepentingan basmi komunisme Uni Soviet. Setelah Soviet selesai, keduanya bertalak. Paman Sam mengelus Saddam demi jalur minyak. Setelah beres, saling bunuh.

Palsu. Setelah kontrak kepentingan berakhir, pelukan hangat jadi cakar-cakaran. Batas antara kawan dan lawan itu sumir. Tolok ukurnya cuma ada tiga; kepentingan, kepentingan dan kepentingan.

Kepentingan memang kejam. Dan bikin pusing saja. (*)

Sumber:

  • Wikileaks
  • Craig Unger: “Bush Dynasty, Saud Dynasty
Advertisements

5 thoughts on “Akhir Tragis Kisah Asmara Politis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s