Monolog Metafisik

Kalau saya…

KALAU saya Roqib, saya akan menghadap Tuhan dan minta reposisi. Tugas saya sebagai pencatat kebaikan sepertinya cenderung mubazir. Pada Tuhan saya akan minta agar diperbolehkan membantu Atit membereskan pekerjaannya menginventarisir keburukan manusia. Saya sungkan sama sohib, masa’ ketika dia kerepotan mencatat, sampai sehari harus berganti ratusan buku, sementara saya nganggur.

***

KALAU saya Ifrid, saya akan melayangkan protes kepada Tuhan. Dalam kesepakatan kontrak saya, saat pertama saya diciptakan sebagai jin dari api, saya seharusnya menjadi makhluk yang paling jahat. Tapi, pas sudah konsisten  menjalankan kontrak itu, ternyata ada 2 miliaran makhluk, yang katanya paling mulia itu, jauh lebih jahat daripada saya. Saya rasa Tuhan telah melanggar perjanjian, dengan menciptakan makhluk yang lebih kejam dari saya. Saya akan minta revisi kontrak.

***

KALAU saya Ridwan, saya akan sering-sering memeriksa engsel dan kunci pintu surga. Saya khawatir berkarat. Terlalu lama saya tidak membukakan pintu itu untuk siapapun. Saya juga akan minta remunerasi. Karena, jelas saya mengemban tugas baru untuk menghibur bidadari-bidadari yang kesepian dan nyaris putus asa itu.

Saya juga akan minta tambahan budget untuk jaminan kesehatan, karena saya harus minum semua arak suci itu yang mengalir di sungai itu. Daripada mubazir, sudah diciptakan tapi tak ada yang minum.

Saya juga butuh uang transpor. Saya harus sering-sering menjenguk Malik sohib saya. Untuk menghibur dan memijatnya, setelah kerepotan luar biasa mengurus penghuni neraka yang sudah melebihi kapasitas itu. Mungkin dia perlu sedikit bantuan saya.

***

KALAU saya Munkar atau Nankir, saya akan menyiapkan banyak cambuk cadangan. Saya kesal. Manusia-manusia mati itu  bodoh semua. Padahal pertanyaan saya seharusnya mudah dijawab: “Siapa Tuhanmu”, atau “apa yang kau lakukan selama hidupmu”. Tapi, mereka jawab tidak tahu. Betulan atau pura-pura tidak tahu, saya tetap harus mencambuk untuk pertanyaan yang tak terjawab. Semua jenazah tak bisa menjawab itu. Cambuk saya jadi terlalu sering dipakai sehingga cepat soak.

***

KALAU saya Israfil, saya akan mengajukan permohonan mempercepat peniupan sangkakala. Saya tidak enak sama rekan-rekan saya lainnya. Atit kerepotan mencatat sampai Roqib menawarkan bantuan; Malik kesulitan menerima reservasi tempat di nerakanya, sampai minta bantuan Ridwan; Munkar-Nankir sampai pegal-pegal karena terlalu sering mencambuk; atau Izrail yang terpontang-panting karena seringkali mendadak harus menjemput nyawa yang lepas tanpa perintah Tuhan, lantaran manusia makin hobi main bunuh.

Sementara saya? Saat kolega sedang sibuk, saya menganggur karena Tuhan hanya memberi saya tugas meniup sangsakala, satu-satunya jobdesk saya. Saya kuatir terompet saya berkarat karena tak pernah digunakan.

Kelihatannya memang sudah saatnya saya bekerja. Dunia harus segera diakhiri. Semakin banyak hal memuakkan di sana.

Advertisements

6 thoughts on “Monolog Metafisik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s