“Satu Rupiah Saja” ala Mas Anas

Mas Anas senang bercanda.

INDONESIA ini sedang rumit, terutama sosial politiknya. Isinya orang menduga-duga dan berprasangka. Padahal, dalam situasi seperti itu, jelas, tak enak. Agar sedikit lebih enak, mari kita selingi dengan sedikit joke.

Untuk objek kali ini, saya memilih Anas saja. Iya, bener, si Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat yang sedang jadi lakon panggung politik Tanah Air. Bukan soal sosoknya atau kemungkinan-kemungkinannya. Tapi kita bedah kalimat pernyataannya yang sensasional itu;

“Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas.”

Reaksi publik dari kalimat ini beragam, tentunya. Tapi, saya yakin, sebagian besar mencibirnya, karena sudah kadung terpengaruh oleh serbuan informasi yang seolah telah memvonis Anas benar-benar bersalah. Dan, tak sedikit yang berharap bisa menjadi saksi sejarah, ketika untuk pertama kalinya Tugu Monas digunakan untuk menggantung orang. (Tapi ya apa mungkin….)

Baiklah, kembali ke kalimat sensasional Mas Anas tadi (saya pakai “Mas” karena saya pikir dia lebih pantas dipanggil demikian, sebab jelas dia lebih tua dari saya, beda urusan dengan Rasyid Rajasa yang dipanggil dengan sebutan sama oleh hakim). Kalimat itu, mungkin saja, bisa jadi tameng Anas dari banyak sisi, baik ketika keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi Hambalang terbukti atau atau tidak .

Jikalau Anas nantinya dibuktikan (saya tidak menggunakan kata “terbukti” karena takut salah makna, karena dalam pembuktian itu tentu ada proses yang saya tak ketahui. Saya pakai kata dibuktikan dengan parameter yang membuktikannya adalah penyelidik atau penyidik) tidak terlibat dalam kasus tersebut, atau tidak ada bukti korupsi, berarti pernyataannya tersebut benar-benar seperti yang ditangkap awam.

Dia berani mengeluarkan pernyataan tersebut karena dia benar-benar tidak korupsi. Bisa dikatakan, dia telah mempertimbangkan masak-masak sebelum melontarkan kalimat tersebut.

Nah, kalau dibuktikan terlibat, langsung atau tak langsung, dalam kasus Hambalang? Apakah berarti Anas berkata tanpa berpikir? Dan dia harus digantung di Monas atas “kesediaannya” sendiri?

Eits, jangan salah dulu. Justru kalimat itu bisa saja jadi guyonan, sekaligus bisa “menyelamatkan Anas dari tiang gantung”. Sekaligus menunjukkan bahwa dia telah memikirkan itu sebelum mengucapkannya.

Coba kita bedah makna kalimat ”Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang, gantung Anas di Monas” itu.

Pernyataan “Satu rupiah saja,” bisa juga diartikan “Hanya satu rupiah”. Maksudnya, Anas bersedia disanksi jika dia hanya korup duit Rp 1. Kalau lebih dari itu, dia tidak mau digantung.

Penjelasannya begini; kata “saja” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bisa diartikan sebagai ‘melulu’, ‘tiada lain hanya’, atau ‘semata-mata’. Atau dalam frasa Inggris “only”. Jadi, bisa juga “Satu rupiah saja Anas korupsi Hambalang,” diartikan dengan “Kalau hanya satu rupiah Anas korupsi Hambalang.”

Makna kalimat itu sepadan dengan kalimat ”Lima ribu rupiah saja,” yang dilontarkan seorang penjual stiker, ketika kita menanyakan harga barang dagangannya. Maksud kalimat itu, tentunya, “hanya lima ribu rupiah,” bukan?

Nah, mengacu pada bedah kata dan analogi di atas, mungkin maksud pernyataan Anas itu begini; “Saya mau digantung di Monas jika saya korupsi hanya satu rupiah di Hambalang.” Ya, bisa jadi toh?

Seandainya dia dibuktikan (sekali lagi, saya tidak berani menggunakan kata terbukti) terlibat dalam korupsi Hambalang itu, dan jumlah yang berhasil dibuktikan bermiliar rupiah, dia tidak bisa digantung di Monas kan –jika benar maksud “satu rupiah saja” yang diungkapkannya itu benar “hanya satu rupiah”.

Lagipula, siapa juga yang mau nggantung Anas di Monas? Hukuman mati di negara kita masih percaya pada bedil dan membawa prinsip kerahasiaan. Tak ada terpidana mati yang dieksekusi di depan publik.

Apalagi di Monas. Bisa mematikan pencaharian orang. Tak ada yang berani jualan di sana, takut dihantui sama “hantu Anas” yang gentayangan lantaran penasaran, menyesal lantaran melontarkan pernyataan sensasional itu.

Ya ini hanya utak-atik subjektif saya saja. Cuma “ngasalisis”. Tak perlu ditanggapi terlalu serius. Ini akhir pekan, waktunya bersantai dan bercanda.

Salam. 🙂

Advertisements

5 thoughts on ““Satu Rupiah Saja” ala Mas Anas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s