Winslet dan Wong

Tentang cara pandang.

Kate Winslet dan Elizabeth Wong

Kate Winslet dan Elizabeth Wong

DI antara tarik ulur cara pandang yang makin ruwet belakangan ini, yang cenderung mengarah ke caci maki, saya tiba-tiba teringat sebuah momen yang terjadi pada tahun 2009 lalu. Saya pernah mencatatnya.

Saya coba membongkar-bongkar kembali catatan lama, dan, saya menemukan yang saya maksud. Catatan ini menceritakan bahwa perbedaan itu adalah Kenyataan, dengan “K” kapital, yang perlu dihargai. Bukan dicaci maki.

Kita tak bisa memaksakan pandangan yang menurut kita benar, kepada mereka yang memandang “kebenaran” ala kita itu kurang tepat. Saling menghargai cara pandang sepertinya pilihan bijak. Menghujat cara pandang dari sudut lain, itu fasis namanya.

Baiklah, saya coba untuk menulis ulang catatan saya tersebut:

***

ADA dua wanita sama-sama telanjang, tapi perlakuan yang mereka terima berbeda. Yang satu menangis terharu saking gembiranya, sementara satunya menangis lantaran miris.

Kedua wanita tesebut adalah Kate Winslet dan Elizabeth Wong. Nama yang pertama disebut adalah aktris top Hollywod yang pernah memenangkan Oscar, sedangkan yang belakangan adalah politisi Malaysia yang hancur.

Ironisnya, dua situasi kontradiktif yang diterima Winslet dan Wong itu berangkat dari situasi serupa; mereka sama-sama telanjang.

***

HATI Winslet berbunga-bunga, setelah positif membawa Piala Oscar sebagai oleh-oleh Minggu, 22 Februari 2009. Aktingnya sebagai Hanna Schmizt, seorang agen Nazi buta huruf, dalam film ”The Reader” besutan Stephen Daldry, menunjukkan bahwa kepiawaian Winslet dalam berakting sangat moncer. Dia layak mendapat decak kagum dalam film tersebut.

Perempuan yang saat ini berstatus sebagai istri Ned RockNRoll itu juga pernah masuk nominasi sebagai aktris terbaik pada Little Children (2006), Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), dan Titanic (1997). Dalam film-film tersebut, dia sukses menjalankan perannya dengan natural.

Dalam The Reader, Winslet tampil telanjang dan film itu ditonton banyak orang. Lantaran banyak penonton itulah, maka The Rider layak dikategorikan film terbaik. Kate telanjang bulat di depan jutaan pasang mata.

Sebagai aktris, Winslet memang dituntut serba bisa di depan kamera. Termasuk ketika dia harus tampil polos tanpa busana. Dalam The Reader, sang sutradara mengeksploitasi tubuhnya.

Di bagian awal cerita, dia hampir selalu berakting tanpa busana. Juga harus melakoni adegan bersetubuh dengan Ralph Fiennes, dalam keadaan telanjang bulat. Semua mata memelototi organ genitalnya.

Adegan vulgar, tapi memang itulah bagian cerita yang harus dilakoni Winslet sebagai profesional. Dan itulah yang membuat cerita dalam film tampak hidup. Totalitasnya sampai telanjang itu pun menyematkan penghargaan tertinggi insan perfilman se-bumi. Ketika Oscar di genggamannya kala itu, Winslet harus berusaha membendung agar air mata keterharuannya itu tak sampai meleleh.

***

DI BAGIAN lain dunia, kala itu, ada juga cerita tentang tubuh wanita tanpa busana, tapi dalam kemasan yang jauh berbeda dari Winslet. Di Malaysia, seorang politisi senior, Elizabeth Wong, memutuskan mundur dari jabatan sebagai Dewan Eksekutif Negara Bagian Selangor dan anggota Majelis Negara Bagian Bukit Lanjan. Sebabnya; dia telanjang.

Kedigdayaannya sebagai politisi top, kader tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, tumpas karena foto telanjangnya saat sedang tidur tersebar luas di internet.

Pada 17 Februari 2009, perempuan 37 tahun itu menggelar jumpa pers perihal tubuh telanjangnya yang jadi konsumsi publik. Air matanya tak henti mengalir. Gambar itu, menurut Wong, diambil mantan pacarnya, dan itu diambil sudah sangat lama dari masa penyebarannya.

Wong sendiri memutuskan melajang, dan kala itu sudah putus dengan pacar yang merekam ruang privatnya tersebut. Dia menduga gambar itu sengaja disebar untuk menghabisi karir politiknya yang sedang moncer.

Terbukti cara itu ampuh.

***

DALAM situasi yang sama, di mana ketelanjangan perempuan jadi konsumsi publik, efek yang diterima Winslet maupun Wong sangat bertolak belakang. Tapi itulah fakta.

Ini hanya soal “cara pandang”. Dari mana sebuah objek atau momen dilihat. Dan masing-masing cara pandang, pasti membawa dalil pembenaran masing-masing.

Menurut beberapa filsuf genealogi, memahami tubuh itu tidak hanya berhenti pada soal perwujudan wadag. Tubuh adalah penanda penting status sosial, posisi keluarga, umur, gender dan hal-hal yang sifatnya religius. Dari tubuh itulah seseorang dinilai.

Kata Robert Hertz, antropolog Prancis berdarah Yahudi, pola pikir masyarakat tentang kosmologi, gender, dan moralitas, itu terefleksikan dalam tubuh. Tubuh fisik adalah tubuh sosial (the physical body is also social) yang harus tunduk pada hukum-hukum sosial.

Sementara menurut Marcel Mauss, sosiolog dari Prancis, tubuh adalah instrumen paling natural dari manusia, yang dapat dipelajari dengan cara berbeda sesuai kultur masing-masing tempat di mana tubuh-tubuh itu tumbuh secara sosial. Gampangnya, cara Asia dan Amerika dalam memaknai tubuh atau ketelanjangan itu beda.

Kebudayaann lah yang mengkonstruksikan bagaimana tubuh harus dipandang. Di tempat Kate Winslet hidup, di pusat kampung global bernama Amerika, telanjang di depan umum itu no big deal bagi cara pandang yang sangat liberal. Itu dinilai sebagai wujud kebebasan berekspresi.

Di dunia yang digeluti Winslet, seni peran, ada juga hukum tentang cara memandang tubuh. Seni lahir membangun dunianya sendiri, bebas lepas dari hukum positivis normatif. Kalau positivis memandang tubuh sebagai objek yang harus dikuasai dan ditutup, lain lagi dengan kaca mata seni. Tubuh adalah keindahan yang tak melulu harus dipahami sebagai simbol seksualitas. Tubuh juga bisa difahami sebagai keindahan.

Telanjang adalah ekspresi kebebasan jiwa, sementara kebebasan adalah semangat liberalisme. Tubuh tak lagi dibatasi atau jadi objek kekuasan maupun politik. Hidup di Amerika mendukung profesi Winslet secara total. Setidaknya, begitulah cara memandang tubuh yang dipahami oleh Michael Foucault, dan diamini banyak orang yang setuju dengan genealog homoseksual dari Prancis tersebut.

Sementara itu, Elizabeth Wong tak seberuntung Winslet. Anggota Partai Keadilan Rakyat (PKR) Malaysia itu hidup di tengah lingkungan yang punya cara pandang bertolak belakang dengan cara pandang yang dianut masyarakat tempat Winslet hidup. Cara pandang yang normatif konservatif khas “timur”. Budaya tempat Wong hidup itu menabukan ketelanjangan. Tubuh benar-benar dikuasai, diprivatisasi, dalam situasi tertentu bisa jadi tunggangan politis.

Elizabeth Wong adalah bagian dari masyarakat yang hidup dalam kungkungan norma susila yang konservatif. Malaysia, seperti juga Indonesia, melarang tubuh tanpa busana ditonton khalayak luas. Cara pandang liberal dan art ala Kate Winslet tak berlaku di sini. Yang ada, “pokoknya” tubuh harus ditutupi. Titik. Tak pakai koma.

Ketika cara pandang itu dilanggar, ada hukuman bagi yang melanggarnya. Dalam kasus Elizabeth Wong, punishment paling telak adalah harus mundur dari dunia politik.

Dalam dunia politik, Wong memang harus piawai membangun citra super bersih. Itu wajib, karena dengan “bersih” itulah dia bisa menggalang dukungan dan membangun kekuatan.

Sudah jadi rahasia umum, syarat utama sebagai politikus itu adalah jangan berbuat kesalahan sekecil apa pun. Karena setitik noktah pada citra bisa mengusir simpati dari benak publik. Bagaimana pun caranya yang penting citra terpoles indah.

Untuk membangun citra sempurna sebagai seorang politikus, wajib tunduk pada koridor budaya tempat di mana dia hidup. Biar kelihatan sopan. Ketika sudah terlihat sopan, simpati orang akan tumbuh.

Jadi, kalau budayanya melarang telanjang, apalagi sampai dilihat banyak orang, ya jangan begitu.

Sebagai warga negara yang paham norma tempatnya hidup, tentunya Elizabeth juga tak ingin tubuh telanjangnya ditonton banyak orang. Tapi, faktanya, menurut data YouTube pada tahun itu, video 36 detik yang memperlihatkan ketelanjangannya ketika “ngorok” itu ditonton lebih dari 250.000 orang.

Dia jadi korban lawan politiknya yang menyerangnya dengan kampanye hitam, memanfaatkan rekaman mantan pacarnya untuk menghancurkan karir politik Elizabeth. Yah, itulah politik. Apa pun cara yang ditempuh, hukumnya halal.
Jurus musuhnya ampuh. Sebagai warga negara sekaligus publik figur, dia dicap melanggar norma, ketika tubuh telanjangnya dipampang blak-blakan di internet. Citranya sebagai politikus hangus.

Wong sempat berdalih, “Saya ingin mengatakan, bahwa saya tidak malu dengan seksualitas saya sebagai perempuan dan sebagai orang yang hidup sendiri.” Dia ingin membangun pagar antara kehidupan pribadi dan publik. Dia ingin membangun pemahaman bahwa seorang politisi juga memiliki ruang pribadi yang tak ada hubungannya dengan ruang sosial.

Tapi, dalih itu malah membuat citranya rusak kian parah.

Pernyataannya langsung dijawab lawan politiknya dengan membangun opini; bagaimana seorang pria yang bukan muhrim bisa masuk ke rumah wanita yang memilih hidup sendiri, dan mengambil gambar wanita itu ketika telanjang? Di sinilah, sekali lagi, lawan politik Elizabeth sukses merusak citra perempuan berdarah Tionghoa itu.

***

TELANJANG. Kalau kita mau adil, sebenarnya tidak ada yang salah dengan telanjang. Telanjang itu ada, telanjang itu dimiliki semua orang. Telanjang juga tak dosa, karena Tuhan toh menurunkan manusia ke dunia tanpa busana. Ketika manusia mati, dia berangkat menuju Tuhan juga tanpa busana.

Manusia berawal dari ketelanjangan dan berakhir dengan ketelanjangan.

Hanya saja, cara pandang macam-macam itu, entah itu atas nama norma, hukum, budaya atau politik, menjadikan telanjang itu aneh. Cara pandang Barat beda dengan Timur. Cara pandang Seni beda dengan Politik.

Itu hanya salah satu contoh beda pandang, dengan sampel objek tubuh. Selain itu, banyak hal lain, mulai dari yang besar, seperti norma agama, sampai hal kecil, seperti cara makan atau berjalan, yang berbeda-beda. Bumi ini luas, dihuni banyak manusia dengan banyak cara pandang.

Tak berguna jika cara pandang satu dengan yang lain saling menampik. Itu akan selalu berbuntut konflik. Agama, yang oleh kebanyakan orang dijadikan fundamen dalam menentukan soal “benar-salah”, pun tak pernah memaksakan pandangan. Bukalan sejarah kehidupan Muhammad SAW atau Yesus, bahkan Musa. Tak ada satu pun riwayat yang menceritakan mereka memaksakan yang tak seiman agar masuk ke dalam kepercayaan mereka.

Kalau ada yang setuju, mereka menerima dengan tangan terbuka. Kepada mereka yang menolak, ya tinggalkan saja. Dosa-pahala itu urusan Tuhan. Gitu aja kok repot….

Perbedaan itulah yang  membuat dunia menjadi meriah juga hidup. Allahu Akbar yang telah menciptakan keanekaragaman di dalam semesta-Nya.

NOTED:
Jadi, ketika Anda merasa merasa sebagai individu liberal yang ingin bebas berekspresi, apalagi Anda suka telanjang, syaratnya sederhana; jangan pernah jadi politisi dan jangan hidup di Asia. Tapi juga jangan hidup di kutub. Siapa juga orang yang punya pikiran telanjang bulat di padang es? (*)

Advertisements

5 thoughts on “Winslet dan Wong

  1. TOP.
    dengan telanjang kita bisa jujur, jujur pada diri sendiri dan orang lain. Tidak ada yang ditutup-tutupi, apa adanya. Tapi seringkali rasa malu untuk mengakui adanya cacat dan kekurangan dalam dirinya membuatt manusia mulai menyelimuti kebenaran/ fakta dengan baju – entah agama, entah kekuasaan, entah dogma – agar kebenaran itu somehow termanipulasi.

  2. Hehe…Sepakat ! ! ! Politikus itu harus bersih dari “Kudis Kurap”. “Tikus” yg poli memang harus keminclong 🙂

    Hmm…Kalo si Winslet yohee kinyis2 “aku rapopo” ikhlas hehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s