HT (Mungkin) Bisnis Partai

Dia pebisnis tulen.

berita99.com

BERGABUNG dengan partai sekelas Hati Nurani Rakyat alias Hanura itu –yang menurut banyak orang sedang limbung– sepertinya hal yang sangat wajar diambil oleh seorang Hary Tanoesoedibjo; sebagai seorang bisnisman yang punya karakter unik, jeli, dan suka tantangan.

Menurut saya –sebagai salah satu orang yang pernah mengikuti gaya permainan bisnisnya, di salah perusahaan yang dipunyai Hary– bergabung di Hanura itu bukan semata-mata murni keinginan Hary Tanoe untuk mencukupi libido politiknya. Tapi, itu justru salah satu bentuk ”permainan” sang taipan untuk memuaskan syahwat bisnisnya. Dia sedang “bermain-main” di sana.

Syahwat sebagai pengusaha yang selalu tahu bagaimana cara mencari untung dalam situasi sulit menjadi khas pria yang kerap dipanggil HT itu. Di dunia bisnis, dia bisa dianalogikan sebagai Raja Midas, yang lihai membuat segala hal yang dia sentuh menjadi emas. Dalam hal itu, HT sangat ahli.

***

HARY TANOESOEDIBJO dilahirkan di Surabaya, 26 September 1965, untuk menjadi bisnisman, bukan politisi. Di samping instingnya yang kuat di bidang itu, jejak-jejak akademis kian memperkokoh poisisi hari sebagai seorang entrepreneur.

Pendidikan formalnya mempelajari bisnis murni. Hary lulus dengan gelar Bachelor of Commerce (Honours) dari Carleton University, Ottawa-Kanada, pada tahun 1988 dan gelar Master of Business Administration dari Ottawa University, Ottawa-Kanada, pada tahun 1989.

Saat ini Hary memegang beberapa jabatan strategis di berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia. Ia ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT. Global Mediacom Tbk. sejak tahun 2002, setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris perusahaan tersebut. Dia pendiri, pemegang saham, dan Presiden Eksekutif Grup PT. Bhakti Investama Tbk. sejak tahun 1989.

Hary juga memegang berbagai posisi di perusahaan-perusahaan lainnya, antara lain Presiden Direktur PT. Media Nusantara Citra Tbk. (MNC) dan PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sejak tahun 2003, sebagai Komisaris PT. Mobile-8 Telecom Tbk., Indovision dan perusahaan-perusahaan lainnya di bawah bendera grup perusahaan Global Mediacom dan Bhakti Investama.

Pada tahun 2011, Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, dan pengusaha Hary Tanoesoedibjo menduduki peringkat ke-22 dengan total nilai kekayaan sebesar “US$ 1,19 miliar”.

***

BERBEKAL serentetan gelar dan kecakapannya berbisnis, Hary Tanoe menjelma menjadi seorang saudagar elit. Geraknya gesit dan penuh passion.

Julukan Raja Bisnis Multimedia lekat pada HT. Terlebih sejak mengambilalih PT Bimantara Citra Tbk. tahun 2000 lalu. Hary mengusung ambisi ingin menjadi jawara bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Mimpi itu terbukti. Kini Hary Tanoe punya tiga stasiun TV swasta: RCTI, MNC TV, dan Global TV, juga stasiun radio Trijaya FM dan media cetak Harian Seputar Indonesia dan Majalah Ekonomi Sindo (sebelumnya bernama Trust).

Di bawah naungan PT Media Nusantara Citra (MNC), tak sampai lima tahun, Hary berhasil menguasai saham mayoritas di tiga stasiun TV tersebut. Saham MNC sendiri 99,9% dimiliki oleh Bimantara Citra, grup usaha yang dahulunya dimiliki oleh Bambang Trihatmodjo, putra mantan Presiden Soeharto.

Sejak mempunyai Bimantara, Hary kian agresif di bidang media. Ditambah lagi, Hary punya kemampuan menentukan perusahaan-perusahaan media mana yang berpotensi berkembang.

Banyak orang mengakui, kunci sukses Hary terletak pada kemampuannya menata kembali perusahaan yang sudah kusut alias bermasalah. Ini terbukti ketika pria yang kabarnya pernah tidak naik kelas di masa SMA ini membenahi Bimantara yang terbelit utang menjadi raksasa bisnis yang “mengerikan”.

Kepiawaian HT membenahi perusahaan remuk tak hanya di bidang media. Selain Bimantara, beberapa perusahaan lain juga pernah dia selamatkan ketika nyaris kolaps. Salah satunya adalah Mobile 8 dengan produk adalannya Fren Mobile, seluler berbasis CDMA. Tahun 2003 lalu, perusahaan yang saham mayoritasnya dimiliki perusahaan Belanda itu, nyaris “mati pasar” di Indonesia. Lalu datanglah HT menyelamatkannya. Jadilah Fren menjadi perusahaan dengan nilai saham ciamik. Dan ketika sudah sehat, dilepaslah ke PT Smart Telecomunication untuk dilebur menjadi SmartFren.

Dari penjualan Fren Mobile itu, jelas HT mendapatkan untuk besar, yang data angkanya belum saya dapatkan pasti. Di Fren itulah, selain di Bimantara, kepiawaian HT untuk merekonstruksi perusahaan remuk jadi gemuk, dan bernilai jual tinggi, terbukti sahih.

Jika meruntut pada rekam jejak dan kepiawaiannya dalam hal benah-membenahi itu, maka, tak heran jika HT akhirnya memilih Hanura. Sekali lagi, bukan semata-mata untuk memuaskan libido politisnya. Tapi lebih pada pemuasan syahwat bisnisnya. Karena dia, mungkin saja, melihat Hanura adalah sebuah “perusahaan” yang nyaris kolaps dan perlu diselamatkan. Pertimbangan dia gabung, kemungkinan besar, adalah bisnis.

Menurut hasil penelitian Gallup Business Journal yang dipublikasikan majalah Forbes, ada beberapa hal yang harus dipunyai seseorang jika ingin menjadi pebisnis tangguh. Dan, beberapa di antaranya dimiliki oleh HT, antara lain;

  • Mengambil tantangan
  • Memikirkan lewat kemungkinan dan kepraktisan
  • Mempromosikan bisnis
  • Fokus pada hasil bisnis
  • Jadilah seorang starter
  • Jadilah “mahasiswa abadi” di dunia bisnis.

Mengambil Tantangan
HT memilih Hanura karena melihat “tantangan” di dalamnya yang harus dia ambil. Ada yang perlu dibenahi dalam internal partai ini, setelah agak kocar-kacir pasca ditinggal minggat salah satu politisi andalannya, Akbar Faisal, yang meloncat ke Partai Nasional Demokrat. Partai ini perlu dibenahi menjelang pertarungan tahun depan.

Faktor “tantangan” inilah yang mungkin saja tak lagi didapatnya di dalam NasDem, ketika kendali partai diambil alih oleh Surya Paloh –yang kemungkinan juga mempertimbangkan aspek bisnis mengingat Paloh juga berbasic enterpreneur. Lalu dia memutuskan untuk hengkang.

Memikirkan lewat kemungkinan dan kepraktisan
Dalam upaya pembenahan Hanura, HT tentu sudah “memikirkan kemungkinan dan kepraktisan” bagaimana hasil dari upayanya memoles partai Hanura. Kemungkinan besar cara yang akan digunakan seperti metode yang pernah diterapkan pada Mobile 8 atau Bimantara. Yang jelas, secara teknis, hanya HT yang tahu. Itu rahasia dapur.

Mempromosikan Bisnis
Soal “mempromosikan bisnis”, jelas HT jagonya. Apalagi dia rajanya grup media di bawah bendera PT MNC. Jelas promosi bukan hal yang sulit untuknya. Koar-koarnya bergabung dengan Hanura, yang akhir-akhir ini banyak disimak publik melalui media, adalah langkah awal promosi ini.

Fokus Pada Hasil Bisnis
Sembari menjalankan seluruh strateginya tersebut, HT –sebagai seorang bisnisman—juga “fokus pada hasil”. Hasil bagaimana yang diinginkan dia, untuk sementara ini hanya HT sendiri dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, segala metode pun strategi yang sekarang dia jalankan, itu murni untuk mengejar hasil yang sudah dibayangkannya sebagai seorang yang ulung mencari untung.

Jadilah Seorang Starter
Dengan masuk Hanura, kemungkinan HT menjadi “starter” di partai ini juga besar. Mengingat partai butuh modal untuk bertarung, dan HT bisa mencukupinya. Wiranto sang Ketua Umum mungkin hanya bisa ho-oh saja, mengingat pendanaannya yang kian kempis setelah dua kali kalah bertarung dalam dua periode pemilu yang telah lalu.

Di sinilah pameo “duit berkuasa” bekerja. Ada duit, ada kuasa. Dan situasi itu tak akan bisa didapatkan HT di Nasdem, karena di sana juga ada duit Surya Paloh.

Jadilah Mahasiswa Abadi
HT ini juga termasuk “mahasiswa abadi” di dunia bisnis. Dia terus mempelajari seluk beluk hal yang mungkin saja dibisniskan, termasuk politik. Dia mencari celah mana saja yang bisa dimasuki oleh bisnisnya, melalui proses belajar yang terus menerus.

Dia memulai proses curi-curi ilmu di Partai Demokrat, ketika dia mendukung penuh partai itu pada Pemilu 2009 lalu. Dia kerap hadir di acara kampanye dan sering berhubungan dengan orang-orang pengambil keputusan strategis di dalam partai. Salah satu cara approach-nya adalah memfasilitasi kegiatan partai atau kegiatan Presiden SBY dalam media yang dipunyainya. Demokrat kala itu jelas mendapat keuntungan dari “proses belajar” HT ini. Makanya, ketika HT cabut, Demokrat jadi agak kecut, dan sambatan ke public sebagai partai yang punya kelemahan sebab “tak punya media”.

Cukup di Demokrat sebagai simpatisan, HT loncat ke Nasdem. Tujuan dia masuk situ adalah untuk mencuri ilmu bagaimana cara membangun sebuah parpol. Katakanlah, HT sedang belajar praktikum di Nasdem. Setelah dirasa cukup, dia pun cabut.

***

NAH, ilmu yang didapatkannya dari Demokrat dan Nasdem itulah yang digunakannya untuk membenahi Hanura. Agar partai limbung ini sehat kembali dan memiliki nilai jual tinggi.

Dia benahi persis seperti caranya membenahi Bimantara, Bhakti Investama, ataupun Mobile 8, yang langsung berdaya jual tinggi. Asal dia tak salah langkah lagi seperti ketika mengakusisi AdamAir.

Ketika proyek bisnisnya itu nanti berhasil, ketika partai ini sudah benar-benar kokoh dan value-nya tinggi, sudah tentu banyak yang datang padanya, minta koalisi atau support dalam bentuk materi.

Kala masa itu tiba, HT tinggal angkat dagu, dan bertanya;

“Wani piro?”

media.viva.co.id
Advertisements

5 thoughts on “HT (Mungkin) Bisnis Partai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s