The Demon Beauty

Dia ingin cantik.

image


COUNTES ELIZABETH BATHORY adalah kolaborasi kesepian, intelegensi tinggi, dan hasrat pada kecantikan berlebih yang diimplementasikan dalam sadisme yang mengerikan. Inilah perempuan yang menghabisi 600 nyawa dalam kurun waktu 25 tahun, sepanjang 1585-1610.

Perempuan terkejam sepanjang sejarah peradaban umat manusia.

Elizabeth Bathory tercatat hidup hidup di Hungaria, ketika negara itu masih berbentuk kerajaan. Dia lahir pada 7 Agustus 1560 dan mati dalam pengasingan pada 21 Agustus 1614 –atau dua pekan setelah ulang tahunnya yang ke-54.

Sejak lahir dia sudah menyandang gelar Countess, atau puteri, lantaran dia lahir dari rahim seorang ningrat. Elizabeth lahir di tengah keluarga tajir yang hidup di sebuah daerah bernama Nyrbator, Kerajaan Hungaria, buah cinta pasangan George dan Anna Bathory. Masa kecilnya dihabiskan di dalam Kastil Ecsed, properti pribadi milik keluarganya.

Dia perempuan cerdas yang menguasai 4 bahasa, yaitu bahasa ibunya, Latin, Jerman dan Yunani. Dia tertarik pada ilmu pengetahuan dan astronomi.

Tahun 1575, dia usia 15 tahun, dia terlibat pernikahan politik dengan seorang bangsawan kelas menengah bernama Ferenc Nadasdy. Mereka dinikahkan karena orangtua masing-masing mempelai ingin mempertahankan status kebangsawanan dan properti masing-masing. Kastil Cachtice adalah maskawin pernikahan itu dan jadi properti pribadi Elizabeth.

Dari pernikahan mereka, Elizabeth dikaruniai lima anak, dua di antaranya meninggal.

***

TAHUN 1578, atau tiga tahun setelah menikah, suami Elizabeth yang komandan pasukan tentara Hungaria, sering meninggalkannya sendiri untuk menunaikan tugas negara menjaga perbatasan yang digempur pasukan Ottoman (Turki).

Mulai saat itulah sepi sering mendekap Elizabeth. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengisi hari-harinya yang kerap kosong, selain mengurus anak-anaknya.

Di tengah kesepiannya, terpantiklah minat Elizabeth pada kecantikan. Sembari menunggu suaminya pulang, dia ingin mempelajari segala bentuk kecantikan. Agar ketika Nadasdy pulang, Elizabeth bisa menyambutnya dengan cantik.

Tapi dia tidak puas jika hanya dengan mengikuti metode kecantikan standar umum kala itu. Dia ingin kecantikan yang lebih, spesial, yang tak dipunyai orang kebanyakan. Tak hanya mengalahkan kecantikan rakyat biasa, tapi juga mengalahkan kecantikan seluruh ningrat yang ada di Hungaria. Kalau bisa, paling cantik sejagat raya.

Bersama kecerdasannya, dia mencari metode khusus untuk mendapatkan hasil cantik yang luar biasa. Karena itu, dia berpikiran untuk melakukan hal yang luar biasa pula. Dan, entah dari mana, muncullah ide gilanya itu; menyedot saripati fisiologis dari sebanyak-banyaknya wanita.

Dan cara untuk mendapatkan itu adalah; menghabisi wanita-wanita yang hendak diambil “saripati”-nya itu. Dan dimulailah “megaproyek” kecantikan ala Countes Elizabeth. Ketika suaminya mati-matian bela negara, mulai tahun 1585 Elizabeth juga “mati-matian” bereksperimen dengan korban-korbannya.

Cara Elizabeth merayu calon korban-korbannya cukup simpatik. Dia ajak wanita-wanita muda yang kesepian ke kastilnya. Wanita-wanita yang suaminya berangkat ke medan tempur atau disandera pasukan Ottoman, korban perkosaan, atau wanita desa yang masa depannya belum jelas.

Pada wanita-wanita putus asa itu, Elizabeth menjanjikan pekerjaan dengan gaji tinggi. Beberapa di antaranya sempat dimasukkan dalam sekolah khusus etika sebelum dipekerjakan. Semacam training. Karena itu, tak heran, banyak yang tertarik dan masuk perangkapnya.

Tapi, begitu sah masuk ke dalam kastil, persiapan-persiapan para wanita itu langsung mubazir. Keahlian yang sudah dilatih sebelumnya jelas tak perlu digunakan, karena mereka jadi objek pembantaian tuan rumah.

Dalam ”operasional proyek pembunuhan” itu, Elizabeth dibantu empat asisten; Dorota Szentes alias Dorka, Ilona Jó, Katarína Benická, dan János Újváry alias Ficko.

Tim Elizabeth itu kreatif. Mereka menghabisi ratusan korban dengan berbagai macam gaya. Tapi, jelas tak satu pun gaya itu yang bisa diterima akal sehat.

Ada yang dipukuli sampai berdarah-darah, setelah itu ditinggalkan dalam satu ruangan dalam kastil dan dibiarkan sampai mati. Ada yang tangan, muka, atau organ genitalnya dipotong atau dibakar.

Ada yang muka, tangan, atau bagian tubuh lainnya digigit, sampai dagingnya lepas dan beradarah-darah. Ada yang yang dioperasi serampangan untuk eksperimen, di mana semua operasi gagal dan yang dioperasi mati.

Ada juga yang dibiarkan begitu saja kelaparan sampai sampai dijemput maut, dibekukan, dan ada yang mengalami kekerasan seksual. Banyak memang gayanya, sehingga si pelaku tak mungkin jenuh. Tapi tak satupun yang bisa diterima akal, alih-alih hati.

Konon, Elizabeth hobi mandi dengan darah korbannya. Dia percaya, dengan cara itu, kecantikannya akan abadi. Kalau anda pernah nonton film triller Hostel 2, Anda akan tahu bagaiman Elizabeth ini mandi darah.

Dia terlentang di kolam kecil, dan di atasnya ada tubuh seorang wanita muda digantung terbalik. “Wanita gantung” itu disayat-sayat dengan sabit bergagang panjang sampai mengeluarkan darah. Tetes demi tetes darah wanita nahas itu membasahi tubuh Elizabeth dalam kolam.

Nadasdy, suami Elizabeth, yang kadang pulang menjenguk, bahkan tak tahu aktivitas rahasia istri tercintanya, hingga dia tewas di medan laga tahun 1604 –atau di akhir Long War antara Hungaria-Ottoman sepanjang 1593-1604.

***

PRAKTIK biadab ini terungkap setelah ada orang “bernyanyi” di depan banyak orang tentang proyek Elizabeth itu, setelah dia secara tak sengaja melihat sendiri pesta penyiksaan di dalam kastil sang countes, antara tahun 1602-1604. Tapi, saksi mata yang notabene rakyat jelata itu, tak berani melaporkan apa yang dilihatnya. Dia takut berurusan dengan ningrat.

Karena itu, dia hanya menceritakan ke beberapa orang tentang apa yang dilihatnya. Namun, cerita itu akhirnya tersebar dari mulut ke mulut, hingga akhirnya didengar oleh seorang menteri Lutheran bernama Istvan Magyari.

Mendapati informasi menyeramkan tersebut, si menteri tidak tinggal diam. Dia ”berteriak-teriak” agar penguasa setempat menyelidiki informasi itu.

Akhirnya di tahun 1610, Raja Matthias, penguasa Hungaria, memerintahkan seorang palatine, atau kepala kepolisian ketika itu, yang bernama Juraj Thurzo, agar menyelidiki kabar tersebut.

Pak kepala polisi mengajak dua anak buahnya untuk menggeledah Kastil Cachtice dan menyelidiki kebenaran kabar itu.

Ketika hendak memulai penyelidikan, mereka dihalang-halangi oleh Paul, salah satu anak Elizabeth. Paul dibantu dua iparnya. Mereka tidak ridho polisi menggeledah kastil mereka, karena tak ingin kehormatan bangsawan mereka tercemar lantaran kasus pembunuhan yang, menurut mereka, belum pasti kebenarannya itu.

Tentu itu hanya untuk menjaga keamanan si ibu, karena mereka pastinya tahu telah terjadi pembantaian masal beruntun dalam rumah mereka.

Terjadilah negosiasi antara polisi dan anak-menantu Elizabeth. Polisi berjanji tidak akan menyebarluaskan soal penyelidikan itu ke publik. Tapi, jika terbukti, polisi mengancam akan menghukum siapa saja yang terlibat. Keluarga setuju dan penyelidikan panjang pun dimulai. Selama penyelidikan, Elizabeth tidak boleh ke mana-mana. Dia kena tahanan rumah.

Hampir 10 bulan polisi menyelidiki kasus itu. Mereka mengumpulkan keterangan dari sekitar 300 saksi. Hampir semua saksi membenarkan peristiwa sadis tersebut.

Bahkan ada saksi yang mengaku pernah disuruh membuang sekitar 200 mayat dari kastil. Tapi, keterangan saksi kurang cukup untuk menjerat wanita bangsawan itu. Polisi perlu bukti.

***

SETELAH upaya panjang dan melelahkan, karena keluarga Elizabeth membatasi akses petugas di dalam kastil, akhirnya didapatkanlah bukti kuat; anak buah Thurzo menemukan seorang perempuan meninggal dan seorang lagi sekarat di dalam kastil. Dia juga menemukan beberapa wanita yang mengalami luka berat dan ditahan.

Bukti cukup, Elizabeth dan empat stafnya ditangkap dan didudukkan di depan hakim.

Raja Matthias yang murka karena pembantaian itu minta Elizabeth dan antek-anteknya langsung dihukum mati. Tapi, Thurzo membisikkan pertimbangan untuk Raja, kalau Elizabeth tidak boleh disidangkan dengan alasan “kehormatan seorang bangsawan”. Raja pun memaklumi.

Elizabeth selamat dari maut. Tapi, empat anteknya diseret ke sidang pada 7 Januari 1611, di pengadilan Bytca, atau pengadilan negeri. Sidang itu dilanjutkan ke Royal Supreme Court, atau pengadilan tingginya Hungaria ketika itu. Sidang dipimpin hakim Theodosious Syrmiensis de Szulo yang dibantu 20 hakim lainnya.

Keempatnya langsung dijatuhi hukuman paling berat;. Dorka, Illina, dan Ficko divonis mati dan langsung dieksekusi begitu sidang ditutup.

Dorka dan Illina –yang dinilai sebagai orang dengan kesalahan paling fatal setelah Elizabeth– kukunya dicabut satu persatu, lalu dilempar ke dalam api. Ficko, yang kesalahannya dinilai tak sefatal Dorka dan Illina, dipenggal, lalu tubuh dan kepalanya yang terpisah dilemparkan juga ke dalam api.

Hukuman Katarina Benicka paling ringan. Dia dipenjara seumur hidup, karena ada bukti kalau dia ikut dalam tim pembunuh itu karena diancam.

Sementara Elizabeth dikurung di dalam kastilnya sendiri selama-lamanya. Dia tidak boleh berhubungan dengan siapapun di luar kediaman pribadinya itu.

Tepat 21 Agustus 1614 Elizabeth ditemukan mati di dalam kastilnya.

Mati dalam kesepiannya sebagai wanita yang menjadi biadab karena ingin cantik.

image

Posted from WordPress for Android

Advertisements

9 thoughts on “The Demon Beauty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s