Tuhan Bukan Babu

Dari obrolan semalam suntuk dengan teman.

MALAM semakin lekat. Lawu di sisi timur Karanganyar itu menampakkan kerlap-kerlipnya, seperti kunang-kunang yang menggelar forum.

Aku dan teman duduk di teras rumah, ditemani beberapa bungkus rokok dan sepoci kopi.

Bertukar cerita setelah mengalami masa sulit.

Pengalaman bertahun-tahun kecimpung di meja redaksi membuat aku dan temanku –yang sama-sama pernah menekuni dunia media dan sama-sama memutuskan pensiun dini dengan alasan yang nyaris sama– akrab dengan tenggat waktu. Ketika harus dikejar-kejar untuk menyelesaikan naskah-naskah yang harus naik cetak pukul 00.00 WIB.

Kali ini pun kami dikejar tenggat waktu. Tapi bukan untuk naskah yang harus siap cetak.

Ini soal tanggung jawab yang selalu tertunda akibat faktor-faktor yang awalnya bisa kami pahami, tapi lama-lama mulai sulit kami terima. Karena, ada saja momen-momen di semesta ini yang seolah “menggagalkan” usaha kami.

Lantaran kebiasaan berjibaku dengan tenggat waktu yang telah bertahun kami tinggalkan, mungkin, kami jadi begitu gugup ketika tenggatnya mendekati habis.

“Serasa sudah pasti mau disemprot habis-habisan sama pemred,” kata temanku. Dan mendapat semprotan itu, tentu saja, sangat tidak enak.

Biasanya, kalau kami melampaui deadline, dalil apapun yang kami kemukakan tidak akan berlaku. Kendati kami berdalih, sebab kami merasa keterlambatan itu bukan murni kesalahan kami.

Seringkali itu disebabkan reporter kami yang terlambat setor naskah. Dan naskah yang kami terima itu datang mepet deadline, dalam bentuk yang sangat mengerikan –lantaran ditulis tergesa-gesa. Susunan kalimatnya sangat acak, pilihan diksi asal, sehingga inti pesan dari naskah itu sulit ditangkap. Dan sudah menjadi tanggungjawab kami para editor untuk merapikannya, agar enak dibaca audiens kami esok pagi. Agar pesan dari naskah itu bisa sampai dan dipahami.

Saking mengerikannya wajah naskah itu, satu-satunya solusi adalah menulis ulang. Mengeditnya tidak mungkin, sebab saking hancurnya. Sebenarnya kami punya hak untuk mencaci-maki reporter karena setor naskah hancur. Tapi, mengingat waktu waktu yang sangat mepet, tak ada lagi waktu untuk mengumbar emosi.

Demi tenggat waktu, yang bisa kami lakukan hanya menulis ulang dengan kecepatan tinggi. Kalau hanya soal speed, itu bukan masalah. Tapi prinsip kehati-hatian, agar berita itu tidak malah tersaji sebagai fitnah, mau tak mau makan waktu.

Ketelitian dan kehati-hatian membuat kami harus menurunkan kecepatan, hingga akhirnya gagal finish saat tenggat waktu habis.

Molor.

Tapi alasan itu tak pernah bisa diterima pimpinan. Dia tak mau tahu. Yang dia tahu bagaimana caranya agar cetak tepat waktu. Soal keterlambatan setor dan naskah asli yang sangat hancur, kesalahan tetap ditimpakan pada kami. Tudingannya; kami tidak becus mengatur anak buah. Kami dituding gagal menjalankan fungsi manajerial.

Yah, mau tak mau kami harus menerima tudingan itu, kendati sebenarnya bukan kami penyebabnya. Karena tanggungjawab itu melekat pada posisi, tak bisa dialihkan pada yang lain, apalagi yang posisinya lebih rendah.

Semprotan itu biasanya hadir di depan umum. Di muka kawan-kawan editor lain. Bahkan tak jarang disaksikan reporter, yang notabene bawahan kami.

Harga diri kami ambrol. Karena “ketidakbecusan” kami memenuhi tanggungjawab. Dan faktor-faktor lain yang menyebabkan kami terkesan tak becus –kendati kami sudah berusaha sebaik yang kami bisa–diabaikan.

Kami rasa, memang itulah sebuah konsekuensi ketika tanggungjawab tak terpenuhi. Kami harus salah.

***

ASBAK kami penuh. Malam kian dingin, melangkah menuju pagi. Kopi di dalam poci tinggal menyisakan beberapa teguk.

“Sekarang kita harus bagaimana? Faktor-faktor yang menghambat kita itu pasti dianggap mencari alasan, kendati itu fakta.” Keluh temanku mulai terlontar.

Ya, kami sedang menghadapi tanggungjawab yang pelik, yang harus selesai saat pagi; yang tinggal beberapa jam lagi sampai.

Sementara sampai saat itu diskusi kami belum menemukan solusi, kendati kami telah berusaha dengan segenap kami.

“Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanya berdoa, dan Tuhan kembali sudi menunjukkan kebaikanNya,” kataku, dengan nada yang kupaksakan bijak.

Kami memang galau. Tanggungjawabnya kali ini lebih besar dari sekadar setor naskah ke bagian perwajahan koran. Dan sanksi moral mungkin juga lebih besar daripada harga diri yang jatuh akibat semprotan pemimpin redaksi di ruang kerja.

Dalam situasi ini, menurutku, satu-satunya jalan hanya berdoa, meminta pada-Nya agar solusi datang di waktu yang tepat.

“Tapi, kalau solusi tak datang juga? Kalau doa tak dijawab sesuai tenggat waktu yang kita inginkan?” Aku yang awalnya mampu memberi saran bijak, lama-lama ikut khawatir juga.

Giliran temanku yang bijak. Dia hanya tersenyum, lalu menghirup dalam-dalam udara pagi Karanganyar yang dinginnya kiat menyelusup kulit kami yang tertutupi jaket itu.

“Pasrah. Terima konsekuensi. Toh, memang pada akhirnya kita gagal. Kita sudah berusaha sebisa kita. Dan faktor-faktor kegagalan tak bisa kita kemukakan sebagai dalil.”

“Kita juga tak bisa menyalahkan Tuhan yang, mungkin saja, kali ini tak meridhoi usaha kita. Dia itu Maha Kuasa. Kita tak bisa memaksa-Nya menjawab doa kita. Memangnya Tuhan itu babu, yang bisa kita suruh-suruh untuk memenuhi semua keinginan kita?”

Kalimat terakhir temanku itu menyentak.

Mengingatkanku, bahwa banyak orang sedang berusaha menyuruh Tuhan dalam doa-doa mereka. Memerintah Tuhan demi kehendak manusiawi. Menyalahkan-Nya karena ketidakbecusan kita mengemban tanggungjawab duniawi.

Kesadaran manusia yang disentil Agus Musthofa dalam salah satu buku serial tasawuf modernnya; “Berdoa atau Memerintah Tuhan?”

Malam itu kami lewatkan tanpa tidur untuk putar otak cari solusi, yang tak juga kami temukan.

Ketika kita dihadapkan pada sebuah situasi, di mana kita gagal mengemban tanggungjawab, dan itu bisa membuat kita merasa hilang harga diri, mungkin itulah cara Tuhan memperingatkan manusia-manusiaNya untuk lebih hati-hati. Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk semua makhlukNya.

Lamat-lamat kami dengar ayam jantan mulai berkokok. Dari masjid yang tak begitu jauh dari rumah temanku, azan mulai berkumandang;

“Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Allah Maha Besar.

Dan Dia bukan babu.

image

Advertisements

3 thoughts on “Tuhan Bukan Babu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s