Ada Apa Denganku?

JUDUL di atas bukanlah jawaban untuk salah satu hits Peter Pan “Ada Apa Denganmu”.

Tapi itu murni pertanyaan dari lubuk hatiku yang paling dalam (lebay yo ben!), tentang misteri yang telah lama menyelubungiku namun baru aku sadari setelah pengalaman dua hari ini.

Misteri yang aku maksud adalah; kenapa setiap orang yang baru aku temui selalu menceritakan kehidupannya, detail sekali, padaku? Seolah aku ini adalah sosok yang telah lama mereka kenal, seperti saudara, sohib, kekasih, atau anggota keluarga.

Berawal dari kemarin, ketika aku ngopi di sebuah warung di Karanganyar, ketika berteduh pas hujan turun menggila. Warung kopi itu dijaga seorang perempuan muda, sepertinya umurnya di bawahku, tapi hattrick menyandang status janda. Maksudku, tiga pria yang kawin dengannya pada kabur.

Nah, lho, kok aku bisa tahu? Justru inilah yang mau aku ulas, dan aku sangat berterimakasih jika ada masukan. Perempuan yang menurutku cantik ala Jawa itu tiba-tiba menceritakan kisah hidupnya detail. Aneh. Padahal kami baru saja bertemu.

Ya aku jadi pendengar saja. Jelas nggak bisa kasih masukan soal dinamika berumah tangga. Lha wong aku masih bujang.

Setelah itu disusul oleh Mas Tahu, julukan untuk pedagang asongan yang bercerita sudah dikadali oleh seorang pengurus DPC partai. Dia ceritakan detail. Padahal, kami jelas-jelas baru bertemu.

Selain mereka berdua, banyak momen-momen sejenis yang sering aku alami. Beberapa di antaranya sempat aku tuangkan dalam beberapa catatanku terdahulu, seperti kisah Mas Tahu tadi.

Kisah-kisah “dalam” lain yang aku dapat pada pertemuan pertama dengan seseorang, yang aku tuangkan dalam catatan antara lain: saat aku bertemu Yoen, perempuan panggilan yang taat salat dalam catatan “Mukena Perempuan Malam”; pertemuanku dengan Pak Rebo, orang gunung yang bersahaja dalam “Rebo, Nama Orang Gunung Itu; pertemuan dengan seorang pengamen jalanan yang menyandang status sarjana, dan seorang yang tidak tamat SD tapi kayanya luar biasa dalam catatan “Pengamen Salemba dan Pedagang Burung Pasar Pramuka”; pertemuan dengan seorang petinggi kantor pos di Surabaya dalam catatan “J’Aime Ma Vie”; dan pertemuan dengan Mahmud, pria Aceh yang setia pada cintanya dalam “Mahmud Tetap Milik Zul”.

Itu yang terdokumentasi. Yang tak sempat aku catat, masih banyak lagi. Seperti pertemuanku dengan seorang perempuan muda yang penampakannya persis Olga Lidya (bukan Olga Syahputra lho ya…), dalam kereta ketika menempuh perjalanan Madiun-Surabaya. Dia menceritakan detail pilunya sebagai istri siri seorang perwira menengah TNI AL di lingkup Komando Armada RI Kawasan Timur.

Lalu perjumpaan dengan seorang perempuan muda manis, juga dalam kereta tapi kali itu pas perjalanan Surabaya-Jakarta, yang mengaku kuliah di Jakarta dan dipaksa bersetubuh oleh pacarnya dan takut menolaknya. Entah takut entah keenakan, aku ya nggak tahu. Itu urusan pribadi dia.

Bahkan, ada seorang artis papan atas, blasteran Indonesia-Italia yang tak perlu kusebutkan namanya, yang kukenal secara tak sengaja, menjabarkan rumitnya kisah percintaannya dengan penggebuk drum salah satu band papan atas di Indonesia, dalam sebuah pertemuan pertama yang tak disengaja juga! Fiuh…

Aku tak mau membahas lagi kisah-kisah mereka. Aku cuma bertanya-tanya; ada apa denganku, kok bisa orang-orang yang baru bertemu menceritakan detail hidup mereka, seolah-olah aku ini punya solusi? Seolah, padaku mereka punya harapan untuk berbagi beban?

Apa mukaku ini muka-muka konselor? Psikolog? Atau malah kayak kantung plastik tempat muntahan?

Tapi, terlepas kenapanya itu, yang jelas justru dari kisah-kisah merekalah aku banyak mencatat dan belajar. Bahwa hidup itu warna-warni, yang dirangkum Sang Maha Sutradara dalam skenario Lahudz Mahfuznya, atau yang lebih nge-tren dengan sebutan takdir.

Tapi, ngomong-ngomong soal takdir, apakah aku memang ditakdirkan untuk ikut menanggung beban orang-orang dengan mendengarkan cerita mereka? Karena, dengan mengetahui seseorang melalui kisah hidup yang disampaikannya langsung, itu sama artinya dengan kita mendapat kepercayaan. Diberi amanah.

Dan amanah itu sudah pasti berat.

Atau karena saking bodohnya aku, sampai Tuhan memberiku banyak pelajaran dari kisah-kisah manusia-manusia yang penuh rupa-warna itu?

Wallahualam lah. Tapi, jika memang premis terakhir kusebut yang berlaku, berarti aku berhak bangga: karena Tuhan perhatian sekali padaku, sampai terus menerus memberiku les privat tentang manusia dan kemanusiaan. 🙂

Alhamdulillah….

Posted from WordPress for Android

Advertisements

4 thoughts on “Ada Apa Denganku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s