Perempuan Bintang Lima

Menaklukkan Roma mungkin seperti mainan bagiku dibanding jika aku harus menaklukkan istriku.” 

Marcus Aurelius Cicero
Senator Romawi
Perempuan Bintang Lima

TERENTIA adalah perempuan luar biasa.

Menceritakan Terentia ini memang berbicara tentang wanita. Tapi bukan tentang kecantikan atau keindahan yang bisa ditangkap begitu saja. Ini cerita tentang kolaborasi kekokohan, kepercayaan dan kesetiaan yang dipoles dengan cinta.

Terentia adalah istri Markus Cicero, filsuf sekaligus jago orasi bangsa Romawi.

Fisik perempuan itu biasa. Malah terlalu biasa. Menurut catatan Tiro, sekretaris pribadi Cicero yang luar biasa setia; Terentia itu langsing, dadanya cuma menonjol dikit, kulitnya agak gelap, rambutnya hitam pendek dengan ikal-ikal kecil yang rapat, muka tirus dan penataan wajah pas-pasan. Jauh dari kesan “cantik”.

Namun, melihat Terentia itu tak cukup cuma dari sampulnya. Ada yang jauh lebih istimewa dibandingkan muka dan bodinya. Perempuan ini kokoh seperti Semen Gresik. Dia serba guna dan tahan lama seperti baterai ABC. Dia berpendirian.

Berbicara tentang Terentia, Cicero dan cinta ini jauh dari kesan sinetron.

Terentia lah yang punya andil besar atas karir suaminya, sejak sang senator merintis karir politik dari nol. Terentia juga yang terus-terusan menemani Cicero sejak dia jadi quaestor atau anggota magistratus (senat) paling junior sampai berhasil menjadi Senator Utama Romawi, sepanjang 79-70 SM.

Tanpa Terentia, nama Cicero dalam sejarah peradaban dan intelektualitas tak akan semegah sekarang ini.

***

SAHIBUL hikayat,  setelah lulus dari pendidikan orasi, Cicero meniti karir sebagai pengacara. Dia juga berambisi masuk senat dasar, atau kalau istilah kita DPRD tingkat II.

Ketika itu, untuk masuk ke level tersebut tidak mudah. Syaratnya bukan harus dipilih langsung oleh rakyat seperti Pemilu. Syarat yang harus dipenuhi cuma dua; pertama, usia minimal 31 tahun dan kedua, harus punya uang satu juta sestertius, mata uang Romawi ketika itu. Uang itu untuk jaminan untuk institusi selama menjabat.

Untuk syarat pertama Cicero sudah lolos. Karena umur tak usah dicari pasti datang sendiri. Syarat kedua? Nah, Cicero sama sekali tidak kaya. Dia tidak punya duit sepeser pun. Tidak seperti umur yang ujug-ujug datang sendiri, untuk mendapatkan duit ini tentunya perlu proaktif.

Saat bingung itulah dewa mengirim Terentia pada Cicero. Seorang perempuan kaya yang punya usaha penginapan sederhana dan punya duit banyak. Awalnya memang Cicero menikahi duit Terentia. Sebab, secara fisik perempuan itu sama sekali tidak menarik.

Mungkin karena Cicero tidak ereksi pada pandangan pertama.

Tapi lama-lama, Cicero merasa ada ”sesuatu yang lebih” pada diri Terentia. Perempuan itu ternyata indah, dan keindahannya tidak bisa dinikmati dengan sambil lalu. Perempuan itu ternyata sederhana, agung dan berada. Gara-gara inner Terentia itu juga mungkin Cicero jadi bisa ereksi. Cinta bekerja dengan sendirinya.

Otomatis romantis.

Dalam perjalanannya merintis karier politik, selalu ada Terentia di samping Cicero. Tapi tak melulu mesra seperti drama percintaan singkat ala sineas sekarang. Suami istri itu tak jarang terlibat perdebatan. Bahkan sampai begitu sengitnya. Beda persepsi itu kan biasa, sejauh itu untuk kebaikan bersama.

Terentia punya pandangan politik sendiri. Cederung menjadi prinsip. Karena pandangan itu pula Cicero melihat itu benar-benar alot. Kalau sedang otot-ototan dengan Terentia, pengennya Cicero ini minggat jauh-jauh dari sang istri.

Tapi kalau Terentia tak ada, sang Senator jadi rapuh. Seperti kecanduan. Yah, Cicero tidak bisa memungkiri, dia selalu menemukan semangat dari setiap dialognya dengan Terentia.

Cinta Cicero mengakar karena Terentia bukan perempuan pasif. Dia aktif memberikan masukan pada suaminya. Terutama di saat-saat Cicero menghadapi saat-saat genting.

Suatu saat, ketika sang suami hendak membela Sthinus, orang Sisilia yang berhadapan dengan gubernurnya, Gaius Verres yang luar biasa kejem, Terentia memperingatkannya;

“Kalau tujuanmu hanya membela Sthinus untuk memenangkannya sebagai jelata, siap-siaplah kau hanya jadi pejabat lokal Sisilia. Jangan berharap jadi penguasa Romawi. Tapi kalau tujuanmu bukan hanya ingin membela Sthinus, tapi mengalahkan Verres, dan Sthinus hanyalah jalan, Romawi akan jatuh dalam genggamanmu.”

Begitulah wanti-wanti Terentia pada suaminya sebelum bertempur dalam ruang sidang –seperti yang dicatat Tiro.

Dalam kasus ini, Cicero harus melewati jalan yang luar biasa berbelit. Tapi justru dari situlah jalan politiknya yang gemilang diretas.

Dia harus berhadapan dengan Hortensius, pengacara cerdas dan serakah yang paling kondang di Romawi ketika itu, yang berdiri di belakang Verres. Kalau dia hanya memenangkan Sthinus, dia hanya mendapat remahan kekuasaan. Tapi kalau dia bisa menumbangkan Verres, yang berarti juga menaklukkan Hortensius, dia akan jadi yang terbaik.

Sebelum kasus ini mencuat, Cicero hanyalah pengacara terbaik kedua setelah Hortensius. Kalau dia bisa memenangkan kasus ini, dialah yang terbaik dan jalan menuju kursi senat di depan mata, karena dukungan akan datang mengalir bak air bah.

Sudah jadi hukum di Romawi ketika itu kalau seorang pengacara handal punya karier cemerlang di senat.

Cicero selalu berdialog dengan istrinya. Dia butuh masukan dari perempuan bijak, pandai dan kaya itu. Tak jarang diskusi mereka berlangsung alot, sampai-sampai Terentia yang keras itu mengamuk membanting pintu kamar, dan menutup diri rapat-rapat di dalamnya. Itu dilakukannya sebagai bentuk protes, tiap Cicero melakukan blunder tanpa minta pendapatnya dulu.

Tak jarang juga Cicero harus menerima caci maki sang istri kalau dia kurang matang memperhitungkan langkah yang dia ambil.

Komentar-komentar perempuan itu memang sinis, tapi bagi Cicero itu adalah pelecut semangatnya. Memang begitulah cara Terentia memperingatkan suaminya yang sarat ambisi. Karena, tentu, dia tak ingin suaminya kenapa-kenapa. Marahnya itu hanyalah cara dia mengekspresikan kekhawatiran terhadap keselamatan suaminya terkasih itu.

Saking liatnya si istri, sampai-sampai Cicero pernah mengeluh;

“Menaklukkan Roma mungkin seperti mainan bagiku dibanding jika aku harus menaklukkan istriku.”

Suatu ketika Cicero benar-benar merasa tak sanggup lagi menjinakkan istrinya. Dia sempat “purik”. Dia merasa perempuan itu sudah benar-benar kurang ajar, memperlakukan dia seenaknya sendiri. Mentang-mentang kaya. Kalau sudah begitu, biasanya dia menyepi bersama buku-buku dan catatannya di ruang kerja.

Sebenarnya kalau dilogika, buat apa jatuh cinta sama Terentia? Dia tak cantik. Tapi kenapa ada cinta di hati Cicero untuk Terentia? Kalau sudah dapat duitnya, bukankah cukup, tak perlu sebingung ini?

Lagi pula mereka selalu terlibat selisih paham, berujung ribut-ribut dan keduanya juga pernah letih karena situasi seperti itu. Kenapa mereka masih bertahan?

Cicero, dalam sepinya, coba menyimpulkan apa yang dirasa melalui logika. Tapi, yah, gagal. Karena cinta bekerja tanpa dikomando rasio. Cinta itu tidak berhenti pada soal keindahan wajah, kemolekan tubuh atau kepuasan bersetubuh. Cicero merasa ada yang kancrit dalam situasi seperti itu.

Dia galau.

Tiap-tiap begitu Cicero selalu merasa ada yang janggal, ada yang kurang. Akhirnya dia sadar kalau menjaga jarak dengan Terentia bukan pilihan yang tepat untuk hatinya.

Bersama cinta, datanglah dia merayu Terentia yang ”memadas” (maksudnya jadi padas) itu, dengan segala kemampuan negosiasi sebagai orator ulung. Sulit memang, butuh waktu berhari-hari untuk menjinakkan Terentia yang ngambek. Ya seperti dibilang Cicero tadi, melunakkan Terentia itu beribu-ribu kali lebih sulit dibanding meraup simpati massa.

Tapi, toh, akhirnya Terentia luluh. Namanya juga cinta. ”Aku hanya tak mau senatorku jadi pecundang yang ditertawakan Romawi. Aku selalu mencintainya. Dewa pun tak akan kubiarkan mengambil hatiku untuk suamiku ini,” begitulah kalimat Terentia tiap-tiap menutup perseteruan insidentil dengan suaminya, dengan air mata masih ndeledes. Oh, so sweet….

***

KILAS balik sejenak. Kenapa Terentia bisa secinta itu pada Cicero? Inilah yang tak dijelaskan dalam semua referensi atau literature tentang cerita cinta mereka berdua. Coba kita intermezo sejenak mengutak-atik cinta terentia itu.

Memang, Terentia itu tidak cantik. Tapi dia kaya. Minimal dia punya poin plus untuk menggaet lelaki yang dia mau, yang hartanya seimbang.

Ketika itu juga banyak orang seperti Cicero, yang butuh duit banyak biar bisa jadi anggota senat? Kenapa Terentia menjatuhkan pilihan pada Cicero? Sedangkan Cicero, ketika bertemu Terentia, bukan siapa-siapa. Hanya pengacara lepas yang kurus, sakit-sakitan, dan miskin, tapi menyimpan segudang ambisi. Apa yang dipunyai Cicero, sampai Terentia mau sama filsuf cengkring dan jelata itu?

Ah, tak usah dinalar. Cinta itu tak bisa dihitung ala matematika. Kalau matematika, 1 + 1 = 2. Kalau cinta? 1 + 1 = kamu mau berapa, sayang…

***

KEMBALI ke jalinan cinta Terentia-Cicero yang sudah terbentuk. Ketika Cicero kalah dalam perdebatan di senat, atau dipojokkan konspirasi busuk Verres dan Hortensius, dan dia harus berusaha keras meredam marah dan kecewanya, orang pertama yang dia datangi adalah istrinya.

Dia datang hanya untuk meletakkan kepala di pangkuan Terentia. Tangan langsing istrinya mengelus-elus kepala sang senator. Mereka tak saling bercakap, hanya bahasa tubuh yang bekerja. Tak jarang Cicero sampai ketiduran di paha istrinya.

Ketika dia bangun, selalu ada ide segar mengalir di kepalanya. Dia pun siap melanjutkan pertarungan diplomasi.

Ketika Cicero masih jadi senator biasa, setiap dia hendak berangkat berdiplomasi, istrinya selalu berkata, “Perjuangkanlah kebenaran dan perjuangkanlah Romawi, Senator Agung.” Cicero pun makin pede. Biasanya setelah momen seperti itu dia memenangkan kasus dan jadi jawara dalam perdebatan di senat.

Ketika Cicero harus melewati masa-masa sulit, saat harus memencilkan diri untuk mengumpulkan bahan tuntutan untuk Verres di Sisilia, Terentia ikut juga untuk mendukung penuh. Meski awalnya wanita itu mengomel, karena untuk sementara harus hidup dalam sebuah lingkungan yang tak bisa memancing mood-nya. Dia juga harus mengeluarkan banyak duit karena Cicero itu duitnya cuma sedikit, tak cukup untuk membiayai misi. Tapi, toh Terentia ikut juga.

Sekali lagi, di sinilah cinta membuat tahi kucing jadi rasa cokelat.

Ketika Cicero berhasil menumbangkan Verres dan Hortensius, dan meraih kursi senat tertinggi (kalau dalam bahasa kita sekarang kursi DPR RI) setelah pemilihan umum yang panjang, melelahkan, dan penuh intrik politik busuk, orang yang pertama dia jujug adalah istrinya.

Ketika suaminya bertarung dalam pemilihan, Terentia bersimpuh di depan dewa mendoakan kemenangan suaminya.

Berkat kepiawaianya berorasi, dukungan dan doa istrinya, Cicero pulang membawa kado kemenangan. Dan ketika resmi jadi Senat Utama, satu-satunya yang dipikirkan Cicero adalah pulang, mencium istrinya dan menggendong Tullia, hadiah dari dewa yang datang ke dunia melalui rahim Terentia. Tak peduli pendukung yang mengelu-elukan dan membuntutinya, Cicero ngacir pulang.

Di depan semua pendukungnya, yang mengikutinya sejak dari gedung senat sampai rumah yang lumayan jauh, dia rangkul pinggang istrinya dengan tangan kanan dan dia gendong Tullia dengan tangan kiri. Dalam kemesraan itu dia berkata lantang di depan massa; “Tanpa perempuan ini aku bukan apa-apa. Terima kasih dan rasa hormat sangat mendalam untuk istriku tercinta.”

Dan Cicero mencium kening Terentia setelah pidato singkat selesai. Gemuruh tepuk tangan membahana di halaman rumah.

Terentia tersipu malu tapi dia tak bisa menyembunyikan hasrat mesra pada suaminya. Lalu dia menyandarkan kepala di bahu ringkih sang senator.

”Bersama tatapan istriku aku membangun Romawi.”

Itulah Terentia. Tanpa dukungan penuhnya, Cicero mungkin cuma pengacara lepas yang cari klien di jalanan. Dia tak akan duduk di kursi senat dan tak akan pernah jadi konsul.

Mungkin juga dia tak akan pernah tercatat dalam sejarah.

Kebutuhan saling mengisi itulah yang mendasari Cicero dan Terentia hidup berdampingan, apapun rasa hubungan mereka. Karena mereka percaya kalau mereka tak bisa hidup terpisah.

Mereka yakin, dewa telah menskenariokan mereka untuk saling mengisi satu sama lain. Meski sering mengalami pahit dan terlibat perdebatan sengit, mereka tetap bergandengan tangan membangun cita-cita. Dan cita-cita itu tergapai karena kekuatan cinta Terentia untuk Cicero, pun sebaliknya.

Memang, tak perlu repot-repot mencari alasan untuk jatuh cinta. Terentia dan Cicero mengamini itu, karena logika yang handal pun pasti takluk di hadapan cinta yang agung.

Happy Valentine aja bagi yang merasakan cinta hari ini…

Titip Rindu untuk “Terentia”-ku
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s