Berkenalan dengan Charles Fourier

Catatan tentang ancaman hantu ekonomi dunia; 2008-2009.
 
Ilustrasi masyarakat utopis.

MASA cuti tiba, saatnya bersenang-senang melepas penat yang menghajar otak hampir setahunan penuh. Semua gara-gara tuntutan untuk mencukupi nafkah dengan bekerja dan bekerja, nyaris rodi, dan mendapat gaji. Gaji itu dikumpulkan sedikit- demi-sedikit, akhirnya lahirlah sebuah rekening untuk kelanjutan hidup yang akan datang.

Entah bagaimanan kehidupan ekonomi setelah ini, setelah ekonomi dunia diamuk bencana gagal bayar kredit perumahan Amerika.

Ah, persetan nanti. Yang penting sekarang bersenang-senang dulu.

Setelah dihitung-hitung, lumayan, tabunganku bisa diambil sebagian untuk jalan-jalan ke luar kota yang bisa membuat otakku sejuk. Kabur barang sejenak dari Jakarta yang penuh asap dan curiga itu. Cari ketenangan, sembari menikmati hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun. Dan aku merasa pantas mendapatkannya setelah apa yang aku lakukan setahunan belakangan ini.

Malam itu baru saja kabur dari kantor sambil membawa nuansa kebebasan begitu lepas dari aktivitas yang menjemukan. Sampai di salah satu perempatan sekitaran kawasan Monas, traffic light menyalakan warna merah. Berhenti sejenak, karena kalau nekat menerobos bisa berurusan dengan polisi yang sudah berancang-ancang mengejar para pelanggar di pos kecil mereka. Sembari berhenti, aku regangkan otot dan toleh kiri kanan menebar pandangan menikmati malam Jakarta yang tetap saja bergemuruh itu.

Ketika itu juga tatapan mataku menatap sebuah pemandangan yang sempat bikin aku terhenyak. Ada sebuah gerobak lusuh berisi barang bekas yang penuh sesak. Di dalamnya ada seorang bocah kecil, kelihatannya belum sampai lima tahun, tidur pulas dengan wajah penuh bopeng.

Di samping gerobak, di trotoar, seorang pria tua sedang berbaring beralaskan kardus dan berusaha susah payah agar bisa terpejam. Dia jauh lebih lusuh dari si bocah. Sedangkan seorang perempuan, yang kulitnya jauh tak kalah kumal, melegam, sedang bersiap-siap menggelar kardus di samping si pria tua. Hendak tidur juga mungkin. Alasnya trotoar, dan atapnya bintang, tidur telentang di tengah malam yang pengap.

Pemandangan itu memang hanya aku tangkap selintas. Tapi aku merasa tetap saja yang kurang pas. Tunawisma seperti mereka memang sering aku jumpai berjubel di Ibu Kota. Tapi entah kenapa, malam itu aku memperhatikan dengan sangat.

Mungkin karena tak ada kerjaan, dan di sekitaran perempatan itu hanya ada sekeluarga (mungkin juga bukan keluarga) itu, yang sedang bersiap-siap istirahat, tak bergerombol dengan tunawisma lainnya. Jadinya mereka tampak menonjol dan menarik perhatianku. Lampu hijau sudah menyala, aku tancap gas menuju rumah kos.

Aku siap-siap tidur sambil membayangkan betapa senangnya besok. Berangkat berlibur. Tapi di sela bayangan indah-indah itu, gambaran tentang seorang bocah, pria tua dan perempuan di perempatan itu rajin menyela.

Di atas kasur dan di bawah teduhan atap ini, selalu saja bayangan rasa tidur beralas kardus di atas trotoar rajin tampil mengilas.

Seperti iklan yang menjeda tiap acara.

Agak mengganggu memang. Lelah badan ini tidak bisa memaksaku tidur dan memaksakan bayangan itu pergi.

***

PAGI tiba, dan aku siap-siap berangkat. Naik kereta eksekutif jurusan Surabaya. Nyaman memang. Ber-AC, kursi empuk dan tempat duduk lapang. Ada sajian bermacam menu lagi. Aku duduk di dekat seorang bapak yang pucat. Setelah bertukar salam ala kadarnya, kami saling terdiam dan kereta mulai laju.

Aku tebar pandanganku ke luar jendela. Selama kereta masih berkutat di Jakarta, pemandangan yang tampak di luar itu masih seragam: gedung pencakar langit yang pongah dikelilingi perkampungan kumuh yang jadi ornamen tetap. Ada yang dari kayu, triplek, bahkan kardus.

Kardus?

Ah, aku langsung teringat tiga orang “penghuni” trotoar yang aku lihat malam sebelum aku berangkat itu.  Kardus-kardus jadi alas, kardus-kardus berdiri jadi rumah yang pasti musnah ketika musim angin tiba, kardus-kardus bersebaran, hampir merata di Jakarta, yang jadi aksesoris tetap mereka-mereka yang digolongkan miskin.

Charles Fourier

“Kalau dulu aku tak ditertawakan, mungkin semuanya tak bakal jadi begini,” bapak sebelahku tiba-tiba  bicara ke arahku. Matanya tampak menerawang. Seolah dia menyesali sesuatu.

“Ditertawakan apa, Bapak?” tanyaku spontan. Lumayan, barangkali perbincangan ini bisa membuang jenuhku, dan menyingkirkan sejenak bayangan tentang orang-orang berkardus itu.

“Mereka, para ekonom masa-masa awal penataan ekonomi dunia itu. Aku ditertawakan karena terlalu sering menghayal, kata mereka.”

Aku sengaja diam, penasaran ingin tahu apa yang dia katakan lagi.

“Anda tahu, bagaimana realitas Indonesia itu?” dia diam sejenak, mengambik napas berancang-ancang melanjutkan omongan.

”Menurut proyeksi Institute for Development Economics and Finance (Indef), tingkat pengangguran mencapai 9,5%, sedangkan dan kemiskinan 16,3%. Dan kata salah seorang ekonom “ingusan”, M Ikhsan Modjo, angka itu jauh di atas target pemerintah Indonesia, yaitu tingkat pengangguran dan kemiskinan masing-masing 7–8% dan 12,5%. Dan lonjakan angka kemiskinan dan pengangguran bermula dari hantaman krisis global terhadap kegiatan ekonomi domestik,” ujar si Bapak.

Edan, dia hapal angka-angka itu.

“Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, per Februari 2008 tingkat pengangguran terbuka mencapai 8,46%,atau 9,43 juta orang. Angka itu turun dibanding Februari 2007, yang mencapai 10,55 juta orang. Pengangguran meningkat lantaran krisis saat ini berbeda dengan tahun 1997-1998. Sekarang ini krisis tidak hanya menghantam sektor padat modal, tapi juga padat karya. Krisis tidak hanya memukul sektor produksi yang tidak diperdagangkan (non-tradable) seperti perbankan dan keuangan. Tetapi juga memukul sektor tradable seperti manufaktur, maupun tekstil dan produk tekstil (TPT).”

”Krisis kali ini terutama dirasakan sektor tradable yang berorientasi ekspor. Kondisi ini makin parah lantaran fleksibilitas pasar tenaga kerja untuk mengatasi gangguan juga sangat diragukan. Akhirnya, yah, banyak perusahaan, terutama yang berorientasi ekspor, tidak memperpanjang kontrak pekerja. Otomatis ada pengurangan jumlah pekerja,dan lapangan kerja juga akan menyempit.”

Si Bapak menyeruput teh hangat yang dia pesan dari pelayan kereta. Tapi, dari raut wajahnya, kentara betul dia ingin melanjutkan omongannya itu. Aku pun hanya bisa siap-siap mendengarkan lanjutannya.

”Lonjakan jumlah pengangguran akan mendorong pembengkakan angka kemiskinan nasional.”

Nah, betul kan, dia melanjutkan.

”Menurut prediksiku, angka kemiskinan tahun depan melebar paling tidak 0,6% dari jumlah masyarakat miskin saat ini. Berbagai langkah antisipatif pemerintah, seperti tecermin pada tiga kluster yang mencakup jaminan perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan kredit usaha rakyat, sulit menahan dampak pelemahan ekonomi. Dengan begitu, jangan heran kalau kau bakalan melihat makin banyak kardus bertebaran di sekitarmu.”

“Kira-kira apa solusinya, Bapak,” aku mulai melontarkan pertanyaan, karena kelihatannya si Bapak ini adalah seorang begawan. Lumayan, aku bisa menimba ilmu diam-diam.

”Dalam situasi ini perlu satu kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh dan bisa dilakukan dalam jangka panjang dari pemerintah yang membangun sistem carut marut ini. Misalnya dengan mengalokasikan dana stimulus pada proyek-proyek infrastruktur. Dengan cara ini, mungkin pengangguran bisa ditekan. Tenaga-tenaga produktif tanpa kerja itu bisa ditarik mengerjakan proyek-proyek pemerintah yang sudah terstimuli itu.”

“Tapi,” dia melanjutkan, “Aku tak yakin pemerintahmu itu mau melakukannya. Karena sistem yang dibangun sekarang ini, khususnya sistem ekonomi, sudah kadung bobrok. Kesempatan mendapat penghidupan yang layak tak lagi merata, karena modal telah dikotak-kotak oleh konglomerasi yang punya komunitas sendiri-sendiri, dan orang-orang miskin yang Anda lihat tadi malam di perempatan Monas itu tak termasuk dalam komunitas itu.”

Edan! Kok si Bapak bisa tahu apa yang aku lihat tadi malam?

“Persebaran kapital tetap tak akan merata. Karena birokrasi negaramu ini sudah kadung korup. Sistem prekonomian yang dibangun benar-benar timpang. Perputaran uang hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja.”

”Situasi tentu tak akan seperti ini kalau dulu orang-orang mau mendengar apa yang aku omong. Jauh-jauh hari aku sudah lontarkan ide untuk memberangus ketidakadilan ini. Tapi aku malah ditertawakan. Aku dibilang penghayal. Aku dicap utopis.“

“Apa yang Bapak usulkan?” penasaran juga aku akhirnya.

“Aku pernah punya ide untuk menyelamatkan masyarakat dari petaka dan kejelekan sosial. Aku pernah punya ide untuk mengantisipasi terjadinya gelandangan, seperti yang sering Anda lihat itu. Dari dulu aku sudah berkesimpulan, kalau kemelaratan dan krisis ekonomi itu adalah akibat dari organisasi pekerjaan dan pertukaran masyarakat yang salah kaprah.“

“Organisasi yang bubrah, seperti negara Anda saat ini, perlu direformasi total. Seharusnya, melihat tipikal Indonesia yang agraris ini, bukan kapitalisme ala cowboy yang dianut. Harusnya, dengan melihat potensi yang ada, bisa dibangun sebuah masyarakat yang aku namakan phalansterium. Anda tahu apa itu?” tanyanya sembari memutus pemaparannya sendiri.

“Salah satu jenis amoeba?” kujawab sejauh yang kuketahui saja. Karena kata itu hanya pernah sekali kudengar, kala menimba ilmu IPA di masa SMA.

Dia tersenyum. Tapi dia menggeleng.

“Phalansterium memang amuba. Tapi yang aku maksud bukan itu. Aku meminjam nama itu untuk gagasanku tentang tata ekonomi masyarakat. Memang konsepku itu sederhana, seperti struktur amuba.”

“Phalansterium adalah istilahku untuk menyebut pemukiman-pemukiman agraris kecil mandiri, yang hidup dari pertanian dan pertukangan yang bisa mencukupi semua kebutuhan mereka sendiri. Tak perlu sistem mata uang. Satu phalansterium diisi 1.600 manusia yang menempati 2.000 hektare lahan. Kalau seluruh lahan di Indonesia ini dibagi rata dengan seluruh penduduknya, asal penyebarannya merata, tak cuma di Jawa saja, aku yakin secara adminsitratif masyarakat seperti itu bisa dibentuk.”

“Masyarakat seperti ini akan selalu hidup di dalam damai. Kalau bisa, semua anggota komunitas ini tinggal dalam satu rumah besar, seperti di Kalimantan. Dan dalam rumah besar itulah pembagian tugas secara administratif, sesuai kemampuan masing-masing, bisa dibagi dengan cara rembugan. Untuk bersih-bersih, misalnya, bisa diserahkan ke anak-anak yang umumnya penasaran dengan hal yang kotor-kotor. Mereka bisa belajar, sekaligus membersihkan rumah.”

Di babak ini aku heran, sambil coba mereka-reka; 1.620 orang tinggal serumah? Terus, rumahnya segede apa itu? Ah, ada-ada saja si Bapak.

Tapi aku penasaran juga, dan aku lanjutkan menyimak.

”Anggota komunitas tak hanya boleh mengerjakan satu bidang, tapi bisa berganti-ganti. Karena aku yakin, ada anggota komunitas yang multitalenta bisa mengerjakan banyak hal. Perempuan sama kedudukannya dengan laki-laki. Sistem keluarga dihapus dan anak-anak dididik dengan biaya komunitas.  Bidang seksualitas, sama sekali bebas,bisa berganti-ganti asal senang. Mau ke kehidupan monogram atau pelacuran, terserah.”

Nah, yang bagian ini agak menarik. Jadi semakin penasaran saja. Wah, seperti benar-benar cara hidup yang ideal.

“Hak waris tetap ada, orang juga boleh punya modal dan menarik bunga darinya. Cara membagi modal dan hak waris tak menggunakan gaya komunis atau kapitalis, tapi dengan prinsip asosiasi atau prestasi. Soal capaian penilaian prestasi, itu ditentukan bersama oleh komunitas itu dengan cara bermusyawarah.” Nah, lo, di bagian ini aku makin bingung. Yo opo mungkin…?

“Anda heran kan dengan apa yang saya katakan? Anda bukan yang pertama. Orang-orang se-Eropa yang hidup di abad ke-19 lalu juga merasa aneh. Makanya akau dihujat sebagai utopis. Tukang mimpi. Aya-aya wae. Tapi menurutku itu bukan hal yang tak mungkin diterapkan. Bisa saja, asal ada kemauan. Mungkin bisa jadi solusi di tengah iklim kapital yang semakin buas ini. Dengan sistem ini tak akan ada orang tidur beralas kardus di atas trotoar, atau tinggal di dalam bangunan reyot itu.” Dia menghela napas, lalu menyeruput kembali tehnya yang mulai dingin itu.

Di tengah keterherananku, aku jadi penasaran, siapa si Bapak?

“Mmm, maaf, Bapak, kalau boleh tahu Anda ini siapa ya? Kok sepertinya paham betul tentang ekonomi dan sepertinya saya kenal usulan itu?” aku memberanikan bertanya.

Dia hanya tersenyum, lalu mengulurkan tangan. “Fourier. Charles Fourier.”

***

JGERRRR!!! 

Kereta berhenti mendadak. Guncangannya terasa sekali. Kaget bukan main aku. Langsung melek aku. Dan begitu mata terbuka, pandangan yang ada di luar jendela masih sama saja: gubuk-gubuk reyot di pinggiran rel kereta. Ternyata belum keluar dari Jakarta. Ah, luas amat Ibu Kota ini, sampai waktu sepermimpian belum cukup untuk bisa keluar dari sini.

Aku tengok bangku sebelah. Kosong. Cuma mimpi. Rupanya aku ketiduran, setelah semalam susah terpejam gara-gara di setiap bayanganku selalu terselip bayangan tentang bocah, pria tua dan wanita yang tidur di beralas kardus di alam bebas Jakarta yang berpolusi itu.

Ide gila Fourier memang kalah digerus lajunya waktu dan kapital yang semakin menderap. Charles Fourier memang seorang pemimpi. Dan ketika aku buang pandanganku ke luar jendela kereta berornamen gubuk-gubuk rapuh itu, yah, akhirnya aku kian menyadari satu hal: tatanan hidup ideal itu hanyalah sebuah utopia…

Gubuk di pinggiran rel Jakarta.
Jakarta, 20 Maret 2009
Sebuah catatan perjalanan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s