Hidup Pipit Dirampas Administrasi

Ini cerita dari sebuah kota kecil.

NAMANYA Pipit. Umurnya 3 tahun. Bocah yang masih dalam tahap mengenal dunia ini kebetulan mbrojol dari rahim seorang ibu yang suaminya hanya berpenghasilan Rp 400 ribu per bulan. Sesuai dengan standar taraf hidup di Indonesia, keluarga Pipit hidup di bawah garis kemiskinan.

Suatu hari badan Pipit panas tinggi. Obat penurun panas yang dibeli bapaknya di warung pracangan tak mampu menurunkan panasnya. Tiga hari tiga malam Pipit tak bisa tidur tenang. Badannya digerogoti demam luar biasa. Kondisi yang sangat menyiksa untuk bocah seumuran dia.

Bapak-ibunya bingung. Dengan sisa uang yang sebenarnya lebih perlu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, orangtua Pipit memanggil mantri yang tinggal tak jauh dari rumah. Oleh si mantri, Pipit divonis demam berdarah gawat yang harus segera dirujuk ke rumah sakit daerah.

Keluarga yang tak punya dana cadangan bingung. Lalu mereka mendapatkan arahan untuk mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk jadi bekal rekomendasi pengurusan di rumah sakit.

Pipit makin kritis dan harus segera dibawa ke rumah sakit.

Bapak-ibu Pipit bingung cara mengurus SKTM. Sosialisasi tidak pernah dilakukan efektif oleh pemerintah daerah. Dengan bimbingan tetangga yang ngerti, mereka mulai menyusuri langkah-langkah administratif untuk penerbitan surat.

Mengurus hak jatah negara sepertinya masih menjadi hal yang sulit. Ganjalannya masih saja soal administrasi. Untuk mendapatkan layanan harus ada surat pengantar RT – kelurahan mengetahui – kecamatan mengesahkan.

Sayang, ketika Pipit sekarat Pak RT sedang tidak ada di tempat. Pengantar tak bisa didapat.

Bermaksud tempuh jalan pintas ke kelurahan, Pak Lurah malah ogah. Tidak berani bertindak tanpa pengantar karena takut salah arah.

Keluarga yang semakin bingung coba langsung ke Pak Camat. Tapi si pejabat angkat tangan. Khawatir menyeleweng dari syarat administrasi. Tidak ada pengesahan pengantar untuk berobat si Pipit.

Si Pipit tak berhasil dirujuk ke rumah sakit. Terlalu banyak syarat membuat sistem kerja jadi lambat. Demamnya makin gawat. Sekitar dua jam setelah upaya bapaknya memohon tanda tangan Pak Camat, cerita hidup Pipit yang singkat pun lewat.

Pupuslah harapan keluarga Pipit untuk melihat si kecil selamat.

Malaikat maut bekerja lebih cepat karena Tuhan tidak pernah menetapkan syarat administrasi dalam struktur kerja-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s