Dangdut Palsu di Pasar Ikan

Tertipu keriangan palsu.


Pada sebuah malam dingin di tahun 2009:

MALAM itu saya dihantam penat. Situasi beberapa bulan kala itu memang membuat saya capek. Udara dingin tidak mau juga menyuruh mata saya mengantuk. Padahal sehari sebelumnya saya cuma tidur dua jam.

Akhirnya saya memilih “adu nyali” coba membelah malam yang dinginnya kala itu, aduh, bikin ngilu belulang itu. Saya ambil jaket, jalan kaki ke ujung gang cari ojek. Waktu itu cuma ada satu tukang ojek.

Si abang tanya, “Mau ke mana?”

Saya jawab, “Bawa putar-putar Jakarta Bang.”

Si Abang bingung.

Saya bilang saja, “Pokoknya saya booking malam ini.”

Tapi dia malah curiga, mungkin saya dikira orang punya niat jahat. Wah, kalau si abang benar-benar berpikiran begitu, dia perlu kacamata. Dia perlu melihat benar-benar muka saya, yang penuh aura ketulusan.

Tapi ragunya tak hilang juga. Setelah saya yakinkan saya orang baik-baik yang sedang suntuk, dan saya tunjukkan kartu identitas saya dan saya yakinkan dia kalau saya cuma perantau yang tinggal di rumah kost tak jauh dari tempatnya mangkal, akhirnya dia mau.

Tanpa tawar menawar, dia pacu kendaraan.

***

TIBA-TIBA saja, seperti dituntun angin, dia memacu kendaraan roda dua itu ke Pasar Kramat, Jakarta Timur, sekitar lima kilometer dari rumah kost saya.

Malam-malam dingin begitu macetnya minta ampun.

Pedagang ikan meluber sampai ke badan jalan. Transaksi berlangsung di tengah jalan. Baunya amis di sana-sini. Amis tapi segar, karena makhluk-makhluk laut itu memang baru saja didatangkan dari habitatnya, untuk dipajang di situ dan berakhir di meja makan sebagai hidangan.

Macetnya membuat saya tak tahan. Dingin malam itu tiba-tiba saja hilang ditendang pusing saya yang makin mencengkeram. Begitu ada putar balik, saya minta si abang ojek belokkan motor ke situ. Saya mau pulang saja atau cari tujuan lain.

Di jalur pulang sama saja; macet.

Pedagang ikan memenuhi dua jalur jalan yang dibelah marka itu. Di kanan kiri semuanya pedagang ikan. Yang di jalur saya balik ternyata macetnya tambah parah. Ada aktivitas bongkar muat di situ.

Ah, makin pecah saja rasanya kepala ini.

Di tengah suntuk, tiba-tiba sayup-sayup telinga saya menangkap alunan musik dangdut. Saya tengok ke kiri, ternyata di tengah kerumunan transaksi itu ada atraksi yang menyedot perhatian sebagian orang yang ada di pasar.

Saya tertarik.

Bagi saya kala itu, pertunjukan tersebut adalah pemandangan yang jarang saya lihat. Ada lenggak-lenggok genit dua penyanyi dangdut yang diiringi orkes sederhana, tepat di tengah-tengah pasar ikan yang amis.

Saya minta si abang berhenti dan parkir motor. Kami pun ikut berkerumun dengan orang-orang yang sangat menikmati hiburan rakyat itu. Lumayan, dapat hiburan murah di saat suntuk.

Dua penyanyi, satu mengenakan kaos tanpa lengan warna merah jambu dengan setelan rok hitam ketat sepaha, satunya lagi mengenakan tank top warna hijau muda dengan legging selutut, goyang genit kanan kiri menyuguhkan keriangan yang tampak jujur. Mereka sedang jadi primadona pasar ikan. Seolah-olah dingin tak menyentuh mereka.

Eh, si abang ojek ikutan goyang.

Sambil menyalakan sebatang rokok, saya coba ikut menikmati hiburan itu. Ketika saya tiba, mereka sedang melantunkan tembang “Sahara”, lagu yang saya sendiri tidak tahu siapa penyanyi aslinya tapi sering saya dengar, karena kebanyakan teman saya sekantor menyanyikan lagu itu saat karaoke di Inul Vista atau di Kota.

Mereka berdua tampak menghayati tembang itu. Suaranya dibuat mendayu-dayu, agak kaku, disesuaikan irama musik pengiring. Sesekali mereka mendekati salah satu penonton, biasanya lelaki, mengibas-ibaskan pinggul dengan gaya nyaris seronok, berharap ada saweran keluar dari kantong si abang.

Cara mereka manjur.

Si abang mengeluarkan selembar duit 5 ribuan dan disodorkan pada si penyanyi yang “menggodanya” itu. Si biduan menyambut uluran itu dengan genit.

Beberapa kali dua penyanyi itu bergantian melakukan hal yang sama pada orang lainnya. Ending-nya sama, mereka dapat duit. Itulah cara orkes sederhana tersebut mendapat untung dari pertunjukan yang bisa disaksikan tanpa karcis itu.

Orkes itu adalah sebuah tim yang terdiri dari satu pemain gitar, satu pemain bass, satu pemain ketipung, satu peniup seruling dan dua penyanyi genit.

Ada lagi satu orang yang tak kalah penting perannya, dia adalah operator sound system yang nangkring di atas gerobak. Dialah yang mengatur volume suara pertunjukan itu. Kalau pasar sedang ramai, dia naikkan tinggi volume, kalau sedang sepi dia turunkan untuk menghemat pemakaian aki.

Para penyanyi itu atraktif. Tak jarang mereka mengajak penonton berinteraksi. Gayanya seperti penyanyi dangdut kelas panggungan. Semakin mereka atraktif, semakin banyak saweran yang mereka kantongi. Raut wajah penonton mereka tampak puas. Senang dengan suguhan di tengah dingin itu. Apalagi bisa dinikmati tanpa perlu mengeluarkan duit segepok, seperti misalnya nonton live music di pub atau karaoke yang perlu duit minimal 100 ribu.

Akhirnya para penghibur pasar itu lelah juga setelah tampil atraktif sekitar satu jam sejak saya datang.

“Ok, untuk sementara kita break dulu. Neni (atau Nenny) dan Intan perlu istirahat untuk memulihkan suara biar lebih menggairahkan, Bang…” penyanyi ber-tanktop hijau muda mewakili temannya, minta waktu untuk istirahat, dengan nada genit yang belum habis.

Pertunjukan rehat.

Penonton bubar, terutama mereka yang punya tanggung jawab dagangan. Sebagian lagi, kebanyakan kenek atau tukang bajaj dan ojek, setia di tempat mereka untuk menunggu sesi selanjutnya. Intinya mereka tampak puas menyaksikan sajian itu. Bau amis pasar ikan tak mengganggu kepuasan yang mereka reguk.

***

ROMBONGAN orkes itu masuk ke dalam warung kopi di samping penjual cumi-cumi segar. Mereka memesan minuman.

Saya tiba-tiba tertarik untuk tahu mereka lebih jauh. Saya masuk juga di warung kopi dan abang tukang ojek saya ajak. Kebetulan dingin waktu itu tambah sangat, dan saya butuh segelas kopi panas untuk sedikit meredamnya.

“Laris, Neng,” penjaga warung menanyai kedua penyanyi itu, seolah mereka sudah saling kenal akrab.

“Lumayan, Bang. Habis hujan masih ada yang nyawer,” sahut si Intan, yang berbaju merah muda itu.

Lalu seorang pria, yang saya lihat tadi berperan sebagai pemain gitar, mendekati Intan. Dia membisikkan sesuatu. Setelah itu si Neni (atau Nenny) dan Intan mengeluarkan saweran yang didapat tadi, yang diselipkan di tali bra bagian bahu mereka. Uang itu kumal menggumpal. Mereka merapikannya.

Mereka menghitung. Kalau tak salah dengar, untuk sesi barusan, mereka berhasil mengumpulkan 124 ribu rupiah dari beberapa penyawer.

Si Intan tertunduk. Sementara si pemain gitar sabar menghitung ulang.

“Bagaimana ini?” kata si Intan, tanpa menyembunyikan nada keluhnya. Seolah-olah dingin yang tak dia rasakan waktu bergoyang tadi tiba-tiba saja menyelubunginya. “Kita coba lagi nanti,” si gitaris coba memberi harapan.

Yah, memang wajar kalau mereka cemas. Dalam separuh malam itu mereka hanya menghasilkan 124 ribu, yang harus dibagi rata untuk 7 anggota orkes. Jadi, rata-rata satu dari mereka hanya dapat sekitar 15 ribu.

Iya kalau tahun 1980-an lalu, uang 15 ribu bisa dibilang banyak. Tapi di tahun 2009 kala itu, dan dunia sedang dihiasi krisis ekonomi global, yang itu tiada apanya.

Belum lagi, sebelum naik pentas sesi kedua, hujan sudah mulai merintik lagi. “Waduh, malah hujan,” keluh si anggota orkes yang pegang bass, mungkin sembari membayangkan harapan menambah pundi-pundi saweran makin tipis.

Kecemasan makin kentara merata di wajah seluruh anggota orkes.

Sungguh keadaan yang berbalik 180 derajat dari ekspresi yang mereka umbar ketika sedang menghibur orang tadi, di mana mereka bisa menyuguhkan keriangan yang terkesan tak pura-pura.

Di dekat lampu neon warung kopi wajah si Neni (atau Nenny) tampak pucat dan cemas. Mereka semua murung.

Mungkin mereka galau karena yang mereka kumpulkan itu belum balik modal, alih-alih untung. Wajar. Karena dalam berdangdut ria itu, mereka sedang melakukan sebuah usaha untuk mengumpulkan untung. Aktivitas wajar yang dilakukan manusia.

Mungkin mereka juga mahfum, dalam sebuah usaha, apapun bentuknya, termasuk orkes itu, butuh modal. Dengan modal itulah mereka berharap untung.

Sementara modal usaha orkes ini tak bisa dibilang sedikit. Mereka perlu makan supaya punya tenaga untuk unjuk kebolehan. Sound system mereka perlu aki. Sedangkan Neni (atau Nenny) dan Intan perlu bedak, gincu, parfum dan baju. Itu semua adalah modal yang harus mereka punyai agar keuntungan dalam bentuk sawer bisa diraup.

Dalam dunia fisik ini, minimal harus punya modal bisa tampak wajar sesuai hukum-hukum yang berlaku dalam profesi atau usaha yang digeluti. Seperti direktur butuh dasi, karyawan kantoran butuh baju rapi, pedangdut butuh tampil ngejreng, dan masih banyak lagi.

Profesi itulah yang nantinya bisa mendatangkan duit.

Saya jadi ingat kata Jean Paul Sartre, si filsuf Prancis itu, yang mengatakan e’tre pur soi; bisa diartikan kesadaran akan identitas itu bisa juga dibentuk dari luar diri kita. Yang menilai kita adalah lingkungan dan tolok ukurnya tampilan fisik.

Singkat kata, kalau ingin jadi pedangdut, tampillah sebagai pedangdut yang seksi, wangi, menggairahkan penonton.

Tapi untuk memenuhi kebutuhan fisik itu, lagi-lagi urusannya duit lagi. Iya kalau direktur dengan gaji 60 juta per bulan, yang tidak masalah kalau harus membeli dasi sekardus sekali pun. Tapi kalau penyanyi dangdut seperti Neni (atau Nenny) dan Intan yang malam itu hanya mampu mengumpukan 124 ribu yang harus dibagi 7 orang?

Mau beli parfum, baju, bedak , gincu, aki atau makan, pakai apa? Kalau mereka tak bisa memenuhi itu, apakah mereka bisa berdangdut? Kalau tak bisa mendangdut, bagaimana mereka dapat duit? Benar-benar pelik apa yang dihadapi orkes ini.

“Sudahlah, jangan pasang tampang susah. Pasang tampang senang. Kalau wajah kita riang orang pasti datang dan saweran juga datang,” si gitaris memberi semangat rekan-rekannya.

Dan mereka pun kembali beraksi, meski hujan mulai turun lagi rintik-rintik.

Di sinilah saya melihat sebuah transformasi pemahaman saya terhadap orkes itu. Waktu baru datang tadi, dan langsung melihat orkes beraksi –sebelum saya kenal mereka– saya beranggapan ekspresi yang mereka suguhkan itu jujur.

Setelah keluar warung –atau setelah saya mengenal mereka– dan melihat kecemasan mereka, pandangan saya jadi lain.

Mereka menghibur orang lain dengan wajah palsu.

Mereka tidak mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Mereka pasang tampang penghibur sementara jiwa mereka melebur. Mereka mengekspresikan keriangan yang satir, sembari berharap uang 124 ribu sesi pertama yang mereka kumpulkan bisa bertambah. Mereka pasang tampang palsu demi duit.

Sebelum hujan benar-benar deras, saya memutuskan cukup sampai di situ menyimak drama manusia yang dikemas dalam dangdutan pasar itu.

“Ayo bang, kita balik saja. Sudah mau hujan lagi,” saya ajak si abang tukang ojek pulang.

Tampaknya dia agak kecewa. Sepertinya dia memang menanti sesi pertunjukan selanjutnya. Tapi tetap saja dia menuruti saya pulang.

Waktu kami beranjak, orkes itu baru mulai aksinya. Sepintas sempat saya lihat ekspresi Neni (atau Nenny) dan Intan yang tampak riang menyambut penggemar mereka.

***

SAYA seperti diingatkan kembali, kalau di sekitar saya lebih banyak lagi mimik palsu yang dipertontonkan untuk menyembunyikan ekspresi jiwa yang lebih getir daripada apa yang dipertontonkan orkes dangdut Pasar Kramat.

Dan saya juga ingat, tak jarang saya terpaksa mengambil sikap seperti kelompok orkes tadi; saya sering pura-pura pasang tampang senang saat hati sedang berang.

Abang ojek memacu motor membelah dingin. Saya mau cepat-cepat pulang dan tidur.

Dari kejauhan lamat-lamat saya dengar Neni (atau Nenny) dan Intan berduet melantunkan lagu Gelandangan-nya Bang Haji Rhoma Irama. (*)

Jakarta, 9 Maret 2009
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s