Bapak dan Didin

Aku nggak ingin membeli Didin, Le. Aku cuma mau membantu. Aku tahu apa yang dirasakan Didin waktu itu.




WAKTU itu tahun 1992. Saya duduk di kelas I salah satu SMP favorit di kota kecil, tempat di mana saya lahir dan dibesarkan.

Sore baru datang. Dengan keringat yang masih ndlodos plus benang dan layang-layang saya pulang. Saya memang suka sekali bermain layang-layang.

Ritual saya setiap sore ketika itu adalah menerbangkan kertas berkerangka ini. Melihat layang-layang meliuk-liuk di udara selalu membuat saya tenang. Saya melihat ada kebebasan yang tidak terbatas.

Sore itu saya masuk lewat pintu samping di bagian barat rumah. Pintu ini bisa disebut “pintu keluarga”, karena hanya kami sekeluarga dan kerabat yang biasanya masuk lewat pintu itu. Yang tak punya keterikatan saudara harus lewat pintu depan.

Di balik pintu keluarga itu ada ruang santai, tempat di mana biasanya keluarga kami berkumpul menunggu Magrib untuk salat berjamaah. Sore adalah waktu yang sangat sakral bagi bapak, ibu, kedua kakak dan saya. Di waktu seperti itulah kami saling mengungkapkan cinta dan jadi keluarga yang utuh.

Tapi, suasana sore di ruang keluarga kali itu agak lain.

Di tengah keluarga kami ada orang lain yang bukan kerabat kami. Orang itu adalah Didin. Nama lengkapnya saya tidak pernah tahu. Dia mengaku berasal dari Kabupaten Bandung, persisnya di mana saya juga tidak tahu. Dia adalah salah satu karyawan perusahaan distributor oli yang baru dirintis bapak.

Saya ingat betul, sekitar setahun sebelum sore itu, Didin juga datang pada Bapak. Dia minta diberi kerja. Dia pasang tampang melas dengan mengaku benar-benar butuh kerja. Dia mengaku dibuang dari keluarga dan butuh hidup. Bapak saya rupanya terenyuh dan mempekerjakan Didin. Bapak tidak salah pilih. Didin itu pekerja keras dan hasil kerjanya tidak pernah bikin Bapak merengut.

“Saya pinjam, Pak. Saya mau dipotong gaji setelah itu sampai pinjaman saya lunas,” itulah dialog yang pertama saya tangkap dari pembicaraan antara Didin dan Bapak. Wajah Didin di-setting melas, persis seperti setahun lalu ketika datang ke Bapak minta kerja.

Mendengar proposal Didin, Bapak yang duduk bersebelahan dengan karyawannya itu di atas kursi panjang dari anyaman bambu buatan paman, hanya tersenyum. “Di rumah sakit mana?” tanya Bapak dengan suara beratnya.

Setelah itu, apa percakapan mereka saya tidak tahu. Karena Ibu buru-buru menyuruh saya mandi. “Bau keringatmu kayak manuk emprit,” kalau Ibu sudah bilang begitu, saya tahu, dia sebenarnya mau bilang, “Cepat mandi.”

Setelah saya selesai mandi Didin sudah tidak ada. Saya juga tidak begitu menganggapnya.

Toh itu bukan urusan saya, tapi urusan Bapak dan karyawannya.

***

SORE hari esoknya, saya tidak main layang-layang. Hujan membuat teman-teman yang juga maniak layang-layang harus memilih mendekam di rumah. Ada yang main-main air hujan, tapi saya tidak bisa. Ibu melarang saya. Kata Ibu, kalau kena air hujan saya pasti langsung sakit. Tubuh saya memang ringkih, bahkan setelah dewasa juga masih begitu.

Di tengah hujan itu, saat kami sekeluarga menikmati segar di teras belakang rumah, tiba-tiba pintu keluarga diketuk. Yang membukakan kakak nomor dua. “Eh, Kang Didin. Masuk Kang,” dari cara kakak saya mempersilahkan jelaslah siapa yang datang.

Didin tampak tergesa-gesa menaruh payungnya yang masih mengembang itu. Bahkan saking tergesanya, cara dia menaruh payung kurang tepat. Payung itu diterbangkan angin dan Didin harus mengejar payungnya itu sambil berbasah-basah. Setelah berhasil menangkap pelindung itu, dengan tergesa-gesa dia njujug ke tempat duduk Bapak. Tanpa babibu tiba-tiba dia raih tangan kanan bapak dengan kedua tangan basahnya dan langsung menciumnya.

“Eh, ada apa ini?” Bapak saya heran. “Terima kasih Pak, terima kasih banyak. Apa pun yang Bapak suruh bahkan saya lakukan tanpa Bapak perlu ngomong dua kali. Terima kasih banyak,” Didin tampak terharu.

Tapi, lagi-lagi, belum sempat tahu apa yang terjadi, ibu menyuruh saya mandi. Kali ini perintahnya bukan dengan bilang bau saya seperti manuk emprit, tapi “Kalau terlalu sore kena air nanti masuk angin.”

Setelah saya mandi, lagi-lagi Didin sudah pergi. Kali itu saya benar-benar penasaran ingin tahu apa yang terjadi. Tapi mau tanya Bapak saya sungkan, nanti dikira anak kecil mau tahu saja urusan orang dewasa. Saya mengurungkan niat bertanya.

Setelah berpakaian dan menyisir rambut, saya kembali kumpul dengan keluarga di teras belakang. Magrib belum datang. Ketika itulah saya tahu apa yang terjadi, setelah “menyadap” pembicaraan Bapak dan Ibu yang sore itu tampak mesra di kursi panjang dari anyaman bambu itu.

***

SEHARI sebelumnya rupanya Didin datang menemui Bapak untuk sambatan. Istrinya mau melahirkan. Tapi bukan melahirkan biasa, istri Didin bernama Iis itu harus cesar karena pinggulnya terlalu sempit. Kalau tidak salah ingat, tahun itu ongkosnya 2 juta rupiah. Bukan jumlah yang gampang dipenuhi Didin, yang hanya pegawai di distributor oli yang masih baru merintis.

Didin bingung setengah mati. Mau utang ke teman, tak ada yang punya duit sebesar itu. Mau minta tolong keluarganya di Bandung tidak mungkin, karena dia sudah dicoret dari silsilah keluarga. Satu-satunya jalan, dengan meredam sungkan, dia coba temui Bapak. Dia mengajukan tawaran sanggup dipotong gaji asal dipinjami uang. Tapi jawaban Bapak waktu itu,”Sudah, kamu gak perlu ngutang. Saya tahu kalau utang beban kamu pasti lebih berat. Saya bantu saja. Istri kamu di rumah sakit mana? Biayanya berapa?”. Waktu ditanya begitu Didin rikuh. Dia dibekap sungkan.

Tapi Bapak tidak ambil pusing. Kebetulan sore itu Bapak ada uang tunai di rumah. Dia ambil 2 juta, dimasukkan dalam amplop, dan diserahkan Didin tanpa embel-embel perjanjian utang piutang. “Saya tidak mau membebani kamu. Sudah, kamu ambil saja. Semoga istri kamu lancar melahirkan dan bayi kamu sehat. Kalau kamu tidak mau menerima atau menghitung ini hutang, kamu sama juga menghina saya,” Bapak “mengancam” Didin.

Tentu saja Didin tambah salah tingkah. Dia tak mampu bicara apa pun. Dia ambil uang dalam amplop itu dan nyaris mencium kaki Bapak kalau saja bahunya tidak ditahan sama bapak. Kejadian itu berlangsung waktu saya mandi menghilangkan bau manuk emprit.

Keesokan harinya, berbekal duit bantuan Bapak, istri Didin menjalani operasi cesar. Pagi-pagi perut Iis sudah dibedah untuk mengeluarkan orok laki-laki seberat 3,2 kilogram. Bayinya sehat, putih dan ganteng seperti bapaknya. Anugerah yang luar biasa bagi Didin dan Iis, pasangan mepet yang tinggal di rumah kontrakan seluas 4×5 meter tak jauh dari rumah kami itu.

Sore harinya Didin lagi-lagi datang ke Bapak. Kali itu untuk berterima kasih. Ya waktu hujan itu. Sore itu Didin sedang salah tingkah. Apalagi ternyata Bapak sudah menyuruh Jatmiko, pegawai lainnya, untuk membeli selimut dan pakaian bayi untuk si Didin Kecil.

Didin tambah rikuh. “Pak, saya mohon potong gaji saya. Itu yang harus saya bayar.” Bapak menjawab enteng, “Ah, itu bisa diatur. Tenang saja.” Waktu itu Didin mungkin berpikir Bapak benar-benar akan memotong gajinya.

Tapi apa yang terjadi? Tak sekali pun Bapak memotong gaji Didin. Bahkan sampai ketika usaha Bapak bangkrut setelah kena tipu si Hadi, pegawai lainnya, tahun 1998, Bapak tak pernah sekali pun memotong gaji Didin.

Tapi yang didapat Bapak memang pantas. Kerja Didin tambah giat. Usahanya lancar karena bertambah lagi karyawan berdedikasi.Apa pun dan kapan pun Bapak minta tolong Didin pasti ho-oh. Bahkan, ketika saya berurusan dengan polisi gara-gara menabrak orang dengan motor berkecepatan tinggi, sampai orang itu cacat, dan Bapak masih di Jakarta, Didinlah yang mengurus saya.

Pada Didin ini saya melihat sebuah kesetiaan yang tepat di relnya. Tidak ada pamrih. Sebagai upaya balas budi mungkin. Tapi menurut Bapak, menolong Didin itu dilakukannya bukan karena ingin pamrih. Bukan juga karena ingin dihormati.

“Aku gak ingin membeli Didin, Le. Aku cuma mau membantu. Aku tahu apa yang dirasakan Didin waktu itu. Bapak juga pernah susah. Jadi, mumpung Bapak masih banyak rezeki, Bapak bantu dia. Toh, itu gak bakal mengurangi rezeki kita. Kalau sudah rezeki tak bakal lari ke mana.”

Apa dengan cara itu Bapak ingin “mengikat” Didin? “ Kesetiaan tidak bisa dibeli, Le. Kesetiaan itu hanya bisa dipupuk. Makanya, suatu saat kelak kalau kamu punya kesempatan jadi pemimpin, jadilah pemimpin, jangan jadi bos. Karena pemimpin selalu bilang, ‘mari kita kerjakan’, sementara bos itu pasti bilang ‘kerjakan!’ (kata-kata tentang bos dan pemimpin ini waktu saya kuliah saya temui dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya). Jangan menggali jurang dengan bawahanmu. Dengan mengajak bawahan bekerja bersama kita, duduk bersama dan saling membantu, kesetiaan akan tumbuh dengan sendirinya.”

Petuah bijak Bapak yang dilontarkan dengan suara berat beliau ini terus saya ingat sampai sekarang. Teori Bapak terbukti. Didin yang piawai di bidang manajemen distribusi oli itu pernah suatu ketika di tahun 1998, atau ketika usaha Bapak ada tanda-tanda bangkrut, mendapat tawaran kerja lain dengan gaji yang lebih besar. Tapi Didin menolak. Dia memilih digaji cukup asal dengan Bapak daripada digaji lebih tapi dengan orang lain.

***

KETIKA usaha Bapak sudah gulung tikar –gara-gara kapal pengangkut oli dari Singapura pesanannya karam di perairan Pantai Timur Sumatera, sedangkan uang asuransinya dibawa lari Hadi, karyawan bangsat bagian keuangan– sampai Beliau harus menjual seluruh aset termasuk rumah joglo kami yang berpintu keluarga itu, Didin masih ada di dekat Bapak.

Bapak sempat hendak membangun kembali usahanya. Sebenarnya sekitar 20-an karyawannya ketika mengecap sukses dulu, termasuk Didin, mau membantu. Semua karyawan Bapak saya memang loyal, kecuali si celaka Hadi (yang sampai sekarang tak jelas di mana bangkainya itu).

Usut punya usut, ternyata Bapak dulu memperlakukan semua karyawannya sama, persis seperti yang dilakukannya pada Didin. Hadi juga diperlakukan sama. Tapi memang setan dia tampaknya.

Tapi situasi ekonomi yang sampai di titik nadir tahun 1998 lalu membuat Bapak menyerah. Sulit cari pinjaman bank untuk buka usaha. Bapak minta seluruh karyawannya yang loyal, termasuk Didin, agar realistis dengan mencari kerja. Jangan cuma ngglandoti Bapak. Bapak tidak mau, hanya karena kesetiaan, nalar para karyawannya tidak jalan. Mereka butuh makan, butuh menyekolahkan anak dan menafkahi istri.

Akhirnya setelah Bapak meyakinkan, satu per satu karyawannya mulai mencari jalan hidup mereka sendiri, lepas dari Bapak. Mereka meninggalkan Bapak dengan hormat dan segan. Meski dia sudah berjalan jauh meninggalkan Bapak, mereka selalu menoleh pada Bapak. Mereka terus membopong kesetiannya. Setelah mendapat kerja, beberapa di antara mereka sering datang ke rumah baru kami yang kecil bertipe 36 itu. Yang paling sering adalah Didin.
Setiap datang dia selalu membawa oleh-oleh.

Miskin mendadak membuat Bapak jadi kurus karena tekanan situasi. Didin yang paling sering berkunjung iba. Ketika itu Bapak shock karena tidak bisa membiayai kuliah saya, di mana ketika itu biaya kuliah saya ditanggung kakak sampai saya harus cari side job sebagai kernet angkot, penjaga rental komputer sampai mengerjakan makalah dan skripsi mahasiswa lain. Sempat saya lihat Didin menangis di kaki Bapak dan selalu mengucap tidak pernah membiarkan Bapak sendirian. Didin merasa terikat utang yang tak akan pernah bisa dia bayar.

Setiap Didin mengungkit itu, Bapak hanya bilang, “Kamu tidak pernah punya hutang pada saya. Apa yang kamu lakukan untuk saya selama ini sudah lebih dari apa yang pernah saya berikan buat kamu.” Dan hubungan kami dengan keluarga Didin, yang sekarang sudah mulai berhasil itu, masih hangat sampai sekarang.

Cerita Bapak dan Didin ini membukakan mata saya kalau tak ada sesuatu apa pun yang bisa dibayarkan untuk membeli kesetiaan. Jika rasa itu sudah tumbuh, kita tidak akan pernah sendiri meski kita sedang jatuh atau kalah sekali pun.

Kalau saja Bapak dulu memilih kalkulator daripada hati nurani ketika disambati karyawannya, mungkin saat ini Beliau sudah sendirian diringkus kekalahannya. Untungnya dari awal Bapak saya sadar, lebih baik merelakan uang 2 juta rupiah daripada harus kehilangan Didin. (*)

Untuk Bapak;
Yang telah memberiku banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan

Ilustrasi utama pinjam dari; arin666.deviantart.com

Advertisements

11 thoughts on “Bapak dan Didin

  1. sebuah pelajaran dan pengalaman hidup..bagus mas cerita’a..tapi maaf itu art yg di pakai tolong sertakan link nya mas..krn itu ada copyright nya..kebetulan itu art saya unt sy pribadi ga masalah..tp mungkin kalau org lain mas bisa kena pelanggaran hak cipta..makasih mas..moga tulisan’a dan karya mas bermanfaat unt org banyak..

    1. Salam mas/mbak arin. Mohon maaf sebesarnya, kadang saya lupa mencantumkan alamat link-nya. Bukan bermaksud sengaja membajak, tapi itu murni kekhilafan saya pribadi. Akan saya perbaiki setelah ini. Jika berkenan, mohon dikirimkan alamat link ke saya, maaf saya sudah lupa alamatnya. Terimakasih sudah memperingatkan, sekali lagi saya mohon maaf. Salam dan semoga karya mbak/mas semakin berkualitas. 🙂

      1. ya mas ga apa2 oya saya cowk mas..hehe..panggil aj arin..
        ya krn art itu dah terdaftar di deviantart dg judul “Always together”
        link : http://arin666.deviantart.com/art/always-together-264363489?q=gallery%3Aarin666%2F33290151&qo=42

        aamiin..semoga karya tulisan mas juga bermanfaat unt org banyak..
        saya beri izin mas unt gunakan art dari saya semua free mas kec unt tujuan komersil ya tp unt next time unt karya karya yg lain walau bukan dari art saya cantumkan credit link gambar

        terimakasih banyak ya mas..dah mau pakai art dari saya…
        salam sukses..

      2. Terimakasih banyak Mas Arin. Sudah saya koreksi dan kasih keterangan link. Sekali lagi maaf. Yang jelas karya saya di blog ini murni sharing, bukan untuk tujuan komersil. Dan karya Mas Arin yg saya pasang ini message-nya memang kuat banget. 🙂

        Sukses juga buat karya-karya Mas Arin. Sekali lagi terimakasih telah memperingatkan saya. Salam.:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s