Mata Hari: Tentang Kecantikan yang Membunuh

image

PEREMPUAN ini komplit; cantik, seksi, gemulai dan menggoda. Dia juga cerdas. Sayangnya dia menjual diri dan jiwanya.

Perempuan ini adalah Margaretha Geertruida (baca: Grietje) Zell.

 

Dia lahir 7 Agustus 1876 di Leuwarden, Belanda, dan meninggal 15 Oktober 1917 di Vincennes, Prancis. Yang membuat perempuan ini “istimewa” adalah; dia mata-mata terbesar sepanjang sejarah! Dari informasinya, jutaan prajurit mati di Perang Dunia I, sepanjang 1914-1921. Kecantikannya telah membunuh ribuan orang.

Di awal hidupnya, Margaretha mulus-mulus saja. Dia lahir sebagai anak keempat pasangan Adam Zelle-Antje van der Meulen. Bapaknya seorang pemilik toko topi dan sukses di bisnis minyak. Margaretha kecil anak orang kaya yang bisa bersekolah layaknya kaum kelas atas Eropa kala itu.

Tapi musibah selalu datang tak pernah diduga. Tahun 1889 usaha bapaknya bangkrut dan orangtuanya bercerai. Ibunya meninggal di tahun 1891, sementara Adam Zelle si bapak menikah lagi.

Sejak ibu tirinya hadir di tengah keluarganya, Margaretha terasing. Dia pun memilih pergi. Lalu, dia diangkat anak oleh seorang pria lanjut usia bernama Heer Visser di Sneek, Belanda. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan ke Leiden dan mengambil pendidikan sekolah guru taman kanak-kanak.

Di sinilah bibit-bibit binal Margaretha mulai tumbuh. Di Leiden dia berulah. Margaretha terlibat skandal seksual dengan kepala sekolahnya. Heer, ayah angkatnya, benar-benar murka dan mengusirnya. Setelah itu dia sempat numpang di rumah pamannya di The Hague. Lalu dimulailah kisah petualangannya sebagai woman spy.

Menimba Ilmu di Indonesia

KETIKA berumur 18, Margaretha melihat sebuah iklan di surat kabar yang berisi ada seorang pria tajir sedang mencari istri. Dia adalah seorang tentara kolonial Belanda bernama Rudolf John MacLeod yang kala itu usianya 20 tahun lebih tua. Margaretha berminat. Keduanya bertemu, cocok, dan menikahlah mereka. Setelah itu pasangan Margaretha-Rudolf pindah ke Jawa, salah satu daerah jajahan Belanda ketika itu.

Pernikahan mereka dikaruniai dua anak, sayangnya tak satu pun berumur panjang. Kedua anak itu adalah Norman-John (30 Januari 1897 – 27 Juni 1899) dan Jeanne Louise (2 Mei 1898 – 10 Agustus 1919).

Sejak awal, pernikahan yang terjadi karena pertemuan instan dampak dari iklan itu benar-benar tak bahagia. Rudolf seorang pecandu alkohol berat dan hobi menyiksa istrinya. Kariernya macet, dan dia memelihara gundik Jawa pribumi. Margaretha tak tahan dengan situasi itu.

Dalam situasi ini, kebinalan Margaretha kian menjadi. Suasana rumah tangga yang sama sekali tak harmonis itu memberinya kesempatan untuk mencicipi laki-laki baru. Dia gandeng prajurit Belanda lain bernama Van Rheedes. Perselingkuhan itu terjadi ketika dia dan suaminya belum dikaruniai anak.

Selain memburu kepuasan libidonya, Margaretha juga intensif mempelajarai budaya Jawa untuk melarikan diri dari masalah keluarganya. Di tanah raja-raja keraton itu dia belajar menari.

Dari usaha itulah mulai kelihatan jika dia memiliki bakat menari. Hanya dalam 4 bulan belajar, gerakannya sudah gemulai layaknya penari gaek. Selanjutnya dia memanfaatkan kelebihan kemampuan itu untuk mencari penghasilan dan kepuasan. Jasanya banyak disewa bos-bos kolonial Belanda untuk jadi penghibur di acara-acara pesta. Goyangannya mantap.

Dia kian mencintai kehidupan seni yang bisa memberinya hura-hura itu. Sejak tahun 1897, atas nama ingin lebih lebur dengan dunia seni, dia resmi mengganti namanya dengan Mata Hari, atau sang surya. Nama itu dipilih untuk memunculkan aura seninya yang kian memikat. Dia juga menggunakan nama itu untuk berkorespondensi dengan keluarganya di Belanda.

Melihat istrinya berjaya, Mcleod berniat rujuk. Dia minta istrinya kembali. Anehnya, Mata Hari yang pernah merasa disakiti sang suami itu nurut saja. Dari keromantisan yang direka ulang itu lahirlah Norman John dan Jeanne Louise.

Kepercayaan anak lahir bawa rezeki rupanya tak berlaku bagi pasangan Mata Hari-Mcleod. Anak pertama mereka meninggal di umur dua tahun karena kena sipilis yang diturunkan kedua orangtuanya –yang penganut seks bebas. Itu jadi pemantik pertengkaran mereka.

Karena situasi rumah tangganya lagi-lagi memburuk, Mata Hari pun kembali mencari pelarian dengan semakin menekuni dunia tari. Sampai namanya akhirnya kondang se-Nusantara.

Setelah ketegangan rumah tangga agak mereda, tahun 1903 mereka kembali ke Belanda membawa anak kedua. Di Belanda suaminya menikah lagi. Bahkan menikahnya sampai dua kali.

Mata Hari ditigakan.

Paris: Lompatan Besar Sang Artis

KARENA situasi rumah tangganya makin buruk, tahun 1903 Mata Hari mencoba cari peruntungan di negeri orang. Paris, Prancis, jadi pilihannya. Di situ dia jadi pemain sirkus berbekal kepiawaiannya menari yang dipelajarinya dari Jawa. Kadang dia dapat job jadi model amatir. Sebagai penari, tubuhnya memang semlohai. Ketika itu dia menggunakan nama beken Mrs Mcleod.

Tubuh indah, kegenitan dan kelincahan, jadi modal utama Mata Hari. Dengan factor-faktor feminim itu juga kariernya melonjak.

Tahun 1905 dia mulai menapaki karir sebagai penari erotis. Menurut catatan sejarah, aksinya di atas panggung benar-benar menggairahkan. Binal. Di situlah Margaretha alias Mrs Mcleod menemukan “jati dirinya” sebagai penggoda sejati.

Dia makin beken. Puncak kariernya adalah ketika aktingnya dengan berpakaian ala Putri Jawa dan Pendeta Hindu di gedung kesenian Musee Guimet, Lyon, Prancis, mendapat tepukan salut dari ribuan penonton. Itulah titik ketika dia diakui sebagai entertainer sejati. Setelah sukses itu, dia lepas nama Mrs Mcleod dan kembali menggunakan nama lamanya sebagai seorang seniman; Mata Hari.

Popularitas rupanya mendorong Mata Hari untuk menjadi sosok berlagak, banyak tingkah, supergenit, dan suka bikin onar. Hidupnya benar-benar freestyle. Pakaiannya seronok dan tingkah lakunya ngawur. Dia sering berfoto seronok dan jadi bookingan pejabat dan pengusaha Prancis dan Eropa. Tapi tak ada yang berani menyinggung perilaku negatifnya itu, karena popularitasnya yang luar biasa dan orang-orang kuat di belakangnya.

Mata Hari menjelma menjadi seorang penghibur sekaligus pelacur yang piawai. Konon, daya gedor seksualitasnya melebihi kecantikan fisiknya. Makanya, banyak pejabat bekantong tebal dan pengusaha sukses yang suka “memakai” dia. Dia jadi artis paling terkenal, mulai dari Paris sampai seantero jagat sampai akhirnya jadi langganannya perwira-perwira Perang Dunia (PD) I.

Hubungannya dengan orang-orang kuat di masa PD I membuatnya sering keluar masuk negeri. Batas-batas negara tak membatasi geraknya. Dia bebas ke mana saja, mau apa saja, memanfaatkan fasilitas orang-orang kuat di PD I.

Posisinya itulah yang kemudian dimanfaatkan bos-bos perang yang pernah dia puaskan, sebagai mata-mata. Imbalannya, tentu sejumlah uang yang membuat Mata Hari menelan ludah.

Geliat Binal Sang Mata-Mata

PETUALANGAN spionasenya berawal ketika dia direkrut seorang agen Jerman, ketika baru saja pentas erotis di Berlin. Iming-imingnya menggiurkan. Untuk memperlancar aktivitas spionase itu, Mata Hari mendapat kode H-21.

Dia harus mampu menyelusup ke pasukan Sekutu, seperti Inggris, Prancis, dan Spanyol, untuk menggali sebanyak-banyaknya informasi. Dan untuk mendapat informasi yang akurat 100%, Mata Hari menggunakan jurus ampuhnya; dia giring para perwira ke atas ranjang, dia goyang sampai lemas. Setelah bercinta, pembicaraan jadi ceplas-ceplos. Informasi paling rahasia pun dia kantongi.

Ketika PD I pecah, Belanda mengambil posisi netral. Karena itu, sebagai warga Belanda, Mata Hari bebas keluar masuk negara-negara sekutu. Negaranya bukan musuh siapa-siapa. Syarat-syarat lengkap sebagai mata-mata dia kantongi semua.

Berkat informasinya, Jerman sempat meluluhlantakkan Inggris, Prancis dan Spanyol. Ribuan tentara sekutu mati karena informasi dari Mata Hari.

Lama-lama, pasukan Sekutu pun penasaran, kok bisa semua rahasianya bocor? Sebenarnya M15, agen Inggris, sempat mencurigai gelagat si Mata Hari. Tapi ketika perempuan binal itu diinterogasi, tak satu huruf pun keluar dari mulutnya hingga sang agen menyerah.

Tapi, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya pasti jatuh juga. Kedok Mata Hari terbongkar setelah intelijen Prancis berhasil menyadap komunikasi transmisi radio Jerman tentang aktivitas mata-mata mereka di Madrid, Spanyol, 17 Januari 1917. Dalam komunikasi itu, terkuak bahwa Jerman bermaksud menyerang Prancis berbekal informasi dari mata-mata itu.

Dalam hubungan radio tersebut, Jerman menyebut mata-mata berkode H-21. Usut punya usut, akhirnya Prancis berhasil membongkar kode itu; yang dimaksud ternyata Mata Hari, entertainer asal Paris berkewarganegaraan Belanda yang sering “dipake” sama bos-bos mereka!

Terbongkarnya fakta tentang siapa mata-mata Jerman sesungguhnya itu membuat perwira-perwira Prancis shock. Karena usut punya usut, ternyata Matahari juga sempat juga disewa Prancis untuk memata-matai Jerman. Karena keartisannya juga besar di Pracis. Sempat muncul hipotesa kalau Mata Hari ini adalah agen ganda yang berpijak di dua sisi; Sekutu dan Jerman.

Tapi, di kemudian hari, seorang sejarawan bernama Pat Shipman, dalam buku “Femme Fatale”, menolak spekulasi dobel agen itu karena tak ada bukti-bukti kuat.

Mata Hari dibekuk di Hotel Athena, Paris, 13 Februari 1917. Dia diinterogasi habis-habisan. Bukti sadapan komunikasi itu membuat perempuan binal itu tak bisa mengelak. Dia dijebloskam ke penjara Saint-Lazare dan divonis mati.

Regu Tembak di Pagi Beku

INILAH detik-detik eksekusi Mata Hari seperti yang dilaporkan Henry Walles, seorang reporter asal Inggris:

Pada sebuah pagi yang dingin, sebuah mobil berhenti di depan Saint-Lazare. Pintunya terbuka pelan. Lima orang turun. Seorang pendeta bernama Arbaux, ditemani dua suster, Kapten Buchardon dan Maitre Clunet, pengacaranya, datang ke dalam sel.

Ketika itu Mata Hari masih tidur pulas seperti bayi tak berdosa. Tubuhnya miring, salah satu tangannya menyelusup di bawah bantal. Dia mengenakan gaun malam.

Suster membangunkannya. Begitu Mata Hari terbangun, kata pertama yang dia dengar adalah, “Waktumu telah tiba…”.

Setelah matanya terbuka, dia balik bertanya pada suster, “Bolehkah aku menulis dua surat.” Itulah permintaan terakhirnya.

Dia diberi kertas, tinta dan pena, dan dia mulai menulis dengan tergesa-gesa tapi wajahnya tampak senang.

Surat yang sudah jadi dia serahkan pada suster, tapi tak tahu untuk siapa itu. Lalu dia mengenakan stocking warna gelap, yang sering dia pakai selama menghibur orang-orang se-Eropa. Tak lupa juga high heels.

Gaun malamnya dia lapisi kimono sutera, dilapisi lagi mantel bulu. Dia benar-benar ingin merasa hangat menjelang mati. Rambut dia kelabang khas gaya wanita biasa zaman itu. Setelah rapi, dia kenakan dua sarung tangan hitam anak-anak. “Saya sudah siap.”

Dia dibawa denga mobil ke barak Caserne de Vincennes, tempat yang pernah dibangun Jerman ketika kerusuhan di Prancis tahun 1870. Mobil yang mengangkutnya membelah pagi yang tak dijenguk matahari itu.

Di barak, dua belas anggota regu tembak sudah siap. Dia dibawa keluar dari mobil, dibawa ke hadapan regu tembak.

“Sangat gelap,” keluh Mata Hari ketika eksekutor hendak menutup matanya. “Haruskah aku memakai ini,” tanyanya pada Kapten Buchardon.

Pendeta Arbaux juga bertanya pada sang kapten, “Apakah ada bedanya ditutup atau tidak.” Pengacara Mata Hari menambahkan, “Kalau terpidana mati tidak mau ditutup, ya harus dituruti permintaan itu.”

Akhirnya Mata Hari pun berdiri di hadapan regu tembak tanpa tutup mata. Tangannya diikat di belakang. Matahari mulai muncul perlahan ketika komandan pasukan mengangkat pedang tinggi-tinggi, tanda regu tembak harus mengokang senjata.

Mata Hari mengangkat kepala menatap langit. Dia segan menatap para calon pembunuhnya.

Pedang diturunkan dan, dor! 12 pucuk bedil menyalak bersama.

Mata Hari tak langsung roboh. Perlahan tubuhnya mulai merendah, lututnya menyentuh tanah, pelan, seperti gerakan air sungai yang tenang, baru kepalanya roboh ke tanah tanpa benturan. Seperti slow motion, kata Henry Walles si jurnalis.

Kisah hidup “The Great Spy Woman” berakhir di pagi yang beku membawa sisa-sisa kejayaannya sebagai entertainer sekaligus pelacur kondang di Tanah Eropa. Mata-mata kondang yang pernah mengenyam ilmu tari di tanah Jawa.(*)

image

Advertisements

2 thoughts on “Mata Hari: Tentang Kecantikan yang Membunuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s