Malaikat Jurnalisme Itu Adalah Claude Angeli

HANYA sedikit yang saya tahu tentang sosok ini. Tapi, dari sedikit referensi yang saya kumpulkan dengan cara menjahit beberapa sumber yang berserakan itu, saya langsung memutuskan kalau seharusnya jurnalis itu seperti dia.

Karakter seperti inilah yang selalu ingin saya duplikasi sejak saya mulai memutuskan untuk menjadi seorang wartawan. Jurnalis yang bekerja dalam “jurnalisme bebas ongkos balas budi terhadap kapital” dan tak akan membuat sebuah repotase menjadi canggung. Dia adalah seorang pria tua 79 tahun yang hidup di Prancis. Namanya Claude Angeli.

Di usia yang menurut standar Indonesia tentunya kedaluwarsa, Angeli adalah pria yang “paling ditakuti” di Prancis. Tak ada satu pun pemimpin Negeri Anggur yang pernah memilih berhadapan dengan si Mbah yang ke mana-mana selalu membawa tongkat dan dokumen penting sebagai bahan bacaan ini. Dia sangat disegani. Renta tapi “sangar”.

Banyak orang tabik pada Angeli, itu bukan tanpa alasan. Kakek itu punya sesuatu yang tak dipunyai individu lain di era kekuasaan modal seperti sekarang. Angeli begitu “lurus” tanpa pernah sedetik pun bisa ditekuk, bahkan oleh guyuran modal sesegar dan semelimpah apa pun. Dan dia adalah satu dari sedikit jurnalis di muka Bumi yang memilih tak membiarkan nalurinya tergelitik oleh godaan duit. Karena itulah dia menjelma sebagai sosok yang sangat spesial. Karena ketika kebanyakan orang memilih lentur, Angeli memutuskan tetap kokoh hingga usianya nyaris memasuki delapan dasawarsa.

Dalam uzurnya Angeli masih cakap memimipin redaksi Le Canard Enchaine, sebuah mingguan satir di Prancis yang menolak segala bentuk dan jenis iklan dalam publikasinya. Ketika sebagian besar media di seantero jagat memilih berkompromi dengan kapital untuk meraup iklan demi “kelangsungan hidup”, Angeli membuktikan bahwa media tetap bisa survive tanpa etalase produk.

Untuk kelanggengan mingguannya yang bergaya khas investigasi itu, Angeli memanfaatkan “cara kuno” yang di masa lampau harus dilakukan media massa cetak, terutama koran, untuk bisa survive dan mendapat posisi yang kokoh di tengah khalayak audiens.

“Jurnalisme investigasi sangat bisa dikembangkan sebagai bisnis independen tanpa iklan. Kami semata-mata hidup dari pembaca,” kata Angeli, ketika dia ditahbiskan sebagai “bintang” dalam Konferensi Jurnalisme Investigasi Global di Jenewa, Swiss, 24 April 2010 lalu.

Berharap bisa hidup dari oplah tanpa iklan, bagi sebagian besar pemilik media modern sepertinya tak mungkin. Tapi, Angeli membuktikan bahwa itu mungkin terjadi. Resepnya adalah;

“Gunakan keenam indera sebaik-baiknya untuk menulis. Karena tulisan yang bagus akan menyedot perhatian dari segala penjuru.”

Itulah rahasia dapur Angeli dan Le Canard yang dibeber dalam konferensi.

Ya, itu betul. Semua jurnalis (yang menempatkan jurnalisme sebagai profesi yang dijalani dengan penuh komitmen, bukan tempat untuk cari nafkah karena sulit cari kerja di bidang lain), terutama di media cetak tentunya ingin bisa menulis menggunakan keenam inderanya. Tapi itu hanya mungkin dilakukan ketika pikiran si jurnalis tenang. Ketika tak perlu pusing memikirkan uang untuk susu dan sekolah anak atau ongkos hidup sebulan lantaran gaji begitu cekak.

Apalagi ketika jurnalis itu bekerja di sebuah media berlabel “PT” yang jelas punya banyak kepentingan bisnis untuk laba. Jelas perlu banyak kompromi, karena hanya dengan itu untung bisa datang. Yang akhirnya membuat naluri pekerja pers sebagai pilar keempat sebuah negara harus dibonsai ketika mereka ditarik paksa pulang kandang saat hendak membongkar sebuah kebobrokan, hanya karena induk perusahaan media mereka “ada perlu” dengan yang bobrok itu.

Definisi Karl Marx tentang jurnalisme sebagaii “anjing penjaga” tatanan sosial itu sudah sangat langka. Apalagi di negara berkembang yang sedang tergesa-gesa berburu keinginan membangun diri sebagai penyedot kapital dan pusat perputaran uang. Ya seperti Indonesia ini. Sampai-sampai semua hal, termasuk jurnalisme, ditarik masuk dalam wilayah perputaran modal. Demi iklan. Demi pemasukan. Demi “keberlangsungan hidup karyawan dan keluarganya”. Ujung-ujungnya, ya duit lah.

Situasi pun membuat insting jurnalisme menjadi tumpul. Enam indera, terutama hati si indera keenam, terlalu sering dibohongi. Jurnalisme dibiarkan larut dalam definisi yang salah. Jurnalis tak bisa menulis. Jurnalis bingung, ambigu, serba salah. Analisis tumpul dan investigasi menjadi kegiatan yang paling tidak diminati. Karena jurnalis telah disulap menjadi onderdil dalam sebuah mesin bisnis.

Claude Angeli boleh berbangga dengan eksistensi dan kemampuannya menulis bersama enam indera. Ya jelas dia bisa, karena dia hidup di sebuah negara yang sangat menghargai kebebasan berfikir dan optimalisasi akal budi. Liberte, egalite, fraternite.

Beruntung Angeli hidup jauh dari Ibu Pertiwi. Bebas mengumbar imajinasi di dalam sebuah bangsa yang tak pernah memaksa manusia-manusia di dalamnya agar selalu sibuk membujuk perut yang terus merengek karena kosong.

Prancis tentu juga bukan negeri yang membimbing warga negaranya secara sadar diri bermetamorfosa menjadi robot: benda yang selalu berakhir sebagai rongsokan lalu dilupakan begitu saja oleh zaman yang terus melenggang. Lalu hilang atau hanya menjadi mitos karena tak pernah membangun monumen budi daya yang bisa membuktikan bahwa mereka pernah ada sebagai manusia.

Repost

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s