Kereta Pukul 3 Sore dari Jakarta

 

image

Kamu mau nunggu aku to, Dik?”        

1

PADA suatu kala di tahun 1958-an, berjayalah sebuah desa yang khas dengan sentra perajin tempe bernama Bale, di Kabupaten M.

Sebuah desa di mana kultur feodalisme Jawa, yang mendewakan kasta, hidup, lestari, berkuasa, mencengkeram, dan menentukan semuanya.

Di antara ratusan orang yang hidup di bawah hegemoni adat desa itu, adalah sesosok perempuan muda yang ranum.

Namanya Sumiati.

Orang-orang biasa memanggil dia Sum; singkat dan mudah diingat. Sum  mekar bersinar seperti bunga matahari. Segar merekah bak apel merah.

Usianya 18 tahun. Dia lulusan SMA.

Pada masa tersebut, di Desa Bale jarang ada anak muda bisa menyelesaikan pendidikan hingga mengantongi ijazah SMA. Yang bisa mencapai level itu disebut istimewa. Hanya anak orang berpunya yang bisa.

Pendidikan tinggi pun membentuk Sum sebagai pribadi yang pintar menempatkan diri dan menghargai orang lain. Sikap itu membuat wanginya kian semerbak menyeruak. Membuat hati jejaka-jejaka terkoyak-koyak.

Sum adalah anak semata wayang raja tempe dari Bale, juragan produsen lauk-pauk sarat protein nomor satu se-desa, bernama Kasan Setro. Tempe buatan sang juragan memang tak biasa. Cukup dicampur kemiri dan garam saja, tempe itu sudah menjelma jadi makanan istimewa yang nikmat kala itu. Perfecto.

Setro juga punya kebun sendiri yang memproduksi kedelai untuk tempe-tempenya. Luasnya, alamak, separuh total luas desa sendiri.

Keagungan harta dari kerajaan tempenya membuat sang juragan selalu mendongak setiap kali berjumpa dengan para papa yang derajatnya jauh di bawahnya. Biasa, keangkuhan khas kapitalis lawas.

Namun, keangkuhan itu tak menghilangkan rasa hormat dari orang sedesa –hanya karena kebanyakan mereka memang membutuhkan pekerjaan di dapur tempe dan kebun kedelai Setro.

Seangkuh-angkuhnya Setro, dia masih dipandang berguna karena menyediakan lapangan kerja. Namun, angkuh tetap saja angkuh, biar dilihat dari sudut pandang mana pun.

Dan, perihal congkak sang juragan itu rutin menjadi bahan pergunjingan kaum melarat. Bisik-bisik biasa untuk membahas perihal ketaksukaan atas perilaku tak terpuji manusia, yang harus diungkapkan dengan rasa takut, atas nama kepatutan adat.

Tinggi hati sang juragan inilah yang membuat Sum yang pintar itu terkesan kurang pergaulan. Lingkup interaksinya dipagari betul oleh sang bapak. Sum diharamkan membaur dengan kaum kere. Kata bapaknya, itu bisa membuat Sum ketularan kere. Setro memandang kaum tak berpunya layaknya tulah yang harus dihindari.

Kasan Setro –yang biasa disebut Gan Setro— memelihara ambisi besar di antara kejayaannya. Dia ingin tempenya berekspansi ke seluruh nusantara.

Wajar jika dia punya angan-angan itu. Kualitas unggul tempe produksinya memang pantas diperkenalkan hingga ke seluruh pelosok negeri.

Di tahun 1958, bahkan Setro sudah menahkodai tempe-tempenya merambah jauh, hingga masuk pasar Jakarta. Pesanan datang bertubi, tak ada habisnya. Untuk memenuhi permintaan pasar, Setro punya banyak pekerja. Sekitar 40-an.

Salah satu anak buahnya, yang paling cekatan dan rajin, adalah Tarno.

Dia pemuda berusia 20 tahun. Lajang, berbadan tegap, pun kokoh. Selain pekerjaan reguler sebagai perajin tempe binaan Setro, Tarno punya sampingan mburuh setiap musim tanam padi tiba.

Di desanya, Tarno kondang sebagai sosok pemuda ideal; pekerja tangguh dan pintar membawa emosi, tekun, jujur, kendati tak pernah mengenyam pendidikan setinggi Sum.

Tarno hanya lulus SD. Untuk masuk SMP, Joyo Temung, bapak Tarno, tak sanggup membiayai. Tarno pun memaklumi kondisi bapaknya yang melarat, dan menerimanya tanpa keluhan. Sejak lulus SD, Tarno mulai belajar bekerja dan hidup mandiri.

Sayangnya, komposisi antara kepribadian pria idaman gadis desa yang ada pada diri Tarno belum cukup untuk memberinya cinta yang pantas gara-gara dia melarat dan berpendidikan rendah. Cara pemeringkatan sosial yang lazim di tengah budaya feodal Jawa Desa Bale membuat Tarno harus menghuni kelas sub-ordinat.

Jika status pendidikan formalnya dikesampingkan, sebenarnya Tarno layak mendapatkan perempuan terbaik di desa itu sebagai istri. Sialnya, perempuan terbaik itu adalah Sum, yang tak lain tak bukan anak juragannya. Jelas kasta mereka beda jauh. Tarno sudra, sementara Sum hidup di dalam kasta ksatria berkat warisan darah dari bapaknya. Adat tidak memungkinkan pertemuan hati mereka.

 

2

CINTA datang menyerbu tanpa permisi. Rasa itu agak kurang ajar juga, sebab menghambur sekonyong-konyong tanpa bisa ditangguhkan.

Mburuh di perusahaan tempe Setro mempertemukan Tarno dengan cinta yang pelik. Celaka, dia diremas cinta ketika melihat Sum dewasa pada tatap pertamanya.

Laiknya lelaki normal, Tarno juga mengamini keelokan Sum, tak beda dengan kumbang-kumbang muda desa Bale lainnya. Dengan dandanan rambut kepang dua yang kala itu sedang musim, badan lencir kuning dengan tangan gendewo pinentang, lelaki mana tak “cur-cur” melihat Sum?

Itu pula yang dirasa Tarno sebagai lelaki asli. Dia tersangkut pada pesona anak tunggal juragannya. Memang, sudah sejak kecil Tarno tahu Sum. Tapi, kala itu dalam imajinasi bocahnya belum memberi tempat pada cinta. Pun, dia jarang bermain dengan Sum. Kasta yang menjadi fakta Desa Bale menutup kemungkinan mereka berinteraksi.

Sebagai orang rendahan yang sadar pekerti, Tarno mencoba untuk tahu diri.

Akan tetapi, tanpa dia sadari, waktu senantiasa menggiringnya agar menjadi salah satu pria pengidam Sum.

Sayangnya, pola hubungan yang seharusnya antara Tarno dan Sum, di tengah hukum feodal itu, pada akhirnya, membawa angan Tarno terpasung dalam definisi saru. Tak patut.

Tarno sadar itu.

Kesadaran itu pula yang membuatnya tak berani mimpi bisa menyanding Sum. Kendati dalam hati keinginan itu tak bisa bohong, terus hidup, dan sentiasa merajuki Tarno.

Tarno pun hanya punya hak untuk memelihara cinta Platonis; mengeksploitasi keindahannya Sum dalam imajinasi-imajinasi –ruang yang tak terbentur hukum feodal.

 

3

TARNO yang polos, lulusan SD itu, tak pernah tahu bahwa cinta kerap memberi kejutan. Juga bahwa cinta kerap tumbuh liar menjebol demarkasi pemeringkatan kasta.

Pada suatu siang yang sangat diinginkan, Tarno yang sedang mengolah tempe bertemu pandang dengan Sum yang kebetulan menengok dapur. Seolah semesta telah mengatur pertukaran tatap mata itu.

Berawal ketika Sum, yang melintas di depan Tarno –yang sedang membersihkan kedelai–, tak sengaja menjatuhkan sebuah tempe mentah berbungkus daun jati. Tahu ada tempe jatuh, refleks menggerakkan Tarno untuk mengambilnya. Di kala yang sama, Sum juga bermaksud memungutnya. Tangan mereka bertumpuk di atas tempe.

Adegan itu mirip iklan sebuah produk parfum produk luar negeri, di mana keduanya lalu berdiri perlahan menggenggam barang yang sama, yang baru jatuh itu, dan sang perempuan tiba-tiba melayang-layang setelah menghirup wangi parfum itu dari tubuh si pria.

Tapi, drama tempe berbungkus daun jati itu terjadi tahun 1958. Produk parfum itu belum masuk, apalagi ke Desa Bale. Paling bagus minyak wangi yang ada di sana membawa aroma serimpi.

Yang dihirup Sum juga bukan wangi parfum. Tapi, dia menghirup kharisma dari balik keringat Tarno yang mengucur deras di dalam dapur tempe yang pengap, di mana menurutnya, jauh lebih harum daripada minyak serimpi.

Keduanya berjumpa pandang untuk kali pertama, dan ada yang bekerja dengan sendirinya. Seperti setrum.

Terjadilah situasi yang sebelumnya tak berani diimpikan Tarno: dia dan Sum terlibat cinta.

Ya, cinta, asli cinta, yang menghambur dan menyerbu begitu saja tanpa bisa mereka tolak. Dari curi-curi pandang malu di dapur, lalu mereka mulai terlibat percakapan.

Dari percakapan tumbuhlah perkenalan yang sebenarnya diidamkan Tarno semenjak mereka kecil. Dari perkenalan, itu mekarlah keterpaduan.

Cinta pun tumbuh berseroja antara buruh dan anak juragan.

Sayangnya, sekali lagi sayang sekali, ketika itu tahun 1958 di Desa Bale. Feodalisme, khususnya di pedesaan Jawa seperti Desa Bale, masih jumawa. Hukum yang berlaku di sana itu, kalau mau cari jodoh, harus pandang bibit, bebet dan bobot.      Cinta hanya diizinkan tumbuh dalam kasta yang setara. Bila timpang, misalnya dari kelas ningrat dengan abdi, hukumnya haram.

Sial betul, yang haram itulah yang terjadi pada Tarno dan Sum. Terjadi tanpa bisa diminta, pun diabaikan.

Tapi cinta itu kan buta, kata orang-orang. Makanya, dia seenaknya main tabrak tak peduli kiri-kanan.

Bersama waktu yang menapak riang, di dalam buaian cinta dan kehangatan Tarno, Sum kian yakin pada Tarno. Dia sangat berharap bisa dipersunting Tarno, terlepas siapa dan bagaimana derajat sang pujaan hati.

Sum mengabaikan level pendidikan Tarno yang jauh di bawahnya. Sum tak menggubris kemiskinan Tarno. Selama sekolah sampai SMA itu, Sum juga tak pernah mendapat pelajaran yang menyebutkan bahwa orang miskin tidak boleh dicintai.

Yang Sum tahu, sejak perkenalan mereka dan pelajaran yang didapat dari waktu yang genit, Tarno adalah sosok bertanggung jawab, mampu melindungi, tak pernah lelah berusaha, juga piawai ngemong dengan sabar. Sangat pas sebagai kepala rumah tangga idaman.

Itu cukup meyakinkan Sum untuk memilih Tarno sebagai bapak dari anak-anaknya kelak.

Tapi, wejangan Kasan Setro, yang selalu mengingatkannya agar hanya menerima lamaran lelaki kaya, di mana doktrin itu disampaikan rutin setiap hari, sangat mengganggu keindahan imajinasi cinta Sum untuk Tarno.

“Paling penting yang bisa bantu Bapak mengembangkan usaha tempe sampai seluruh Indonesia.” Doktrin yang ini, dirasa Sum sangat mengerikan.

 

5

BUDAYA bertangan besi membuat Sum dan Tarno harus menikmati romantika dengan sembunyi-sembunyi. Kalau bahasa anak sekarang, backstreet. Pacaran di halaman belakang, mungkin, maksudnya.

Setiap sore, usai tugas Tarno di dapur tempe selesai, Sum menemuinya di pematang sawah milik pamannya, jauh terpencil di tepi hutan jati sebelah timur desa. Itu adalah satu-satunya tempat paling aman bagi mereka menikmati indahnya romansa kasih, tanpa takut ketahuan Setro si raja tempe. Tempat paling romantis bagi sejoli yang dimabuk cinta dalam ketakutan.

Karena mereka tahu, hampir mustahil restu bisa turun untuk cinta mereka. Mereka sadar, apa yang mereka lakukan itu terlarang. Jika Setro tahu, bisa saja timbul bencana.

Di sela pertemuan-pertemuan tersembunyi itu, Sum dan Tarno terus berusaha mencari segala kemungkinan yang bisa menyatukan mereka secara terang-terangan, di tengah situasi yang jelas-jelas tak mungkin.

Situasi yang pelik, tentu saja.

 

6

KETIKA Sum sedang berpikir keras untuk mencari cara agar Tarno yang rendah itu bisa naik derajat dan diterima Setro sebagai mantu, di saat bersamaan sang juragan ternyata punya rencana lain yang bertentangan.

Setro ternyata telah merancang skenario cinta yang harus dilakoni anak semata wayangnya. Tentu saja, rancangan itu berkaitan dengan tempe dan ambisinya.

Di luar pengetahuan Sum, Setro mengikat perjanjian bawah tangan dengan Darmono; carik baru yang muda, konon ganteng, lulusan sebuah universitas di Surabaya, dan punya relasi perdagangan yang luas. Sosok yang dibutuhkan Setro untuk mengejar ambisinya.

Apalagi, keduanya ternyata punya dua keinginan yang sangat mungkin disatukan. Setro ingin berekspansi ke luar Jawa dan butuh bantuan Darmono –yang punya jalur ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali, melalui teman kuliahnya di Surabaya dulu– sementara si carik ingin melengkapi kebanggaannya sebagai pria desa yang nyaris sempurna; punya istri kembang desa.

Dan, itu tak lain tak bukan adalah Sum, anak Setro satu-satunya.

Terang-terangan Darmono mengajak Setro bernegosiasi. Dia bersedia membantu ekspansif Setro, tapi dengan syarat. Di depan sang juragan, Darmono mengatakan tak ingin hubungan mereka sebatas rekan kerja. Tentunya dengan bahasanya yang tepelajar dan berbelit agar terkesan indah dan sopan.

Agar lebih intim dan suasana kerjasama lebih nyaman dan guyub, Darmono berpendapat terang-terangan, sebaiknya Setro mengambilnya jadi mantu.

“Biar itung-itungannya lebih enak,” dalih Darmono dalam pertemuan empat mata dengan sang bidikan calon mertua.

Kasan Setro yang kadung buta oleh ambisi ekspansi tempe paham maksud Darmono.

“Itu bisa diatur,” janji Setro.

 

7

“NDAK mau, Pak. Aku kan ndak kenal sama Mas Darmono. Kok disuruh kawin sama dia,” reaksi spontan Sum menanggapi perintah bapaknya yang mendadak menyuruhnya menerima lamaran si carik.

“Darmono itu kurang apa, Nduk? Dia pinter, lulusan kuliah di Surabaya. Bapaknya wong sugih, Nduk. Dia punya jabatan carik. Jaringannya luas. Kurang opo?” Setro terus mendesak-desak anaknya.

“Pokoknya ndak mau. Ndak mau!”

Ibu Sum hanya berhak membisu dalam perdebatan itu. Duduk manis manis di salah satu kursi ruang keluarga tanpa berani angkat suara.

Sebenarnya Nyonya Setro sama sekali tak terkesan dengan Darmono, yang menurutnya punya tatap mata seperti garangan. Tapi, feodalisme fundamental tak memberi tempat untuk opini perempuan desa.

“Nduk, kamu pikir. Kalau dia jadi suami kamu, dia akan membantu bapak mengembangkan usaha tempe keluarga kita sampai ke luar pulau. Apa kamu ndak mau usaha bapak jadi guedhe? Nanti kan juga kamu sendiri yang merasakan manfaatnya. Sebagai satu-satunya anak bapak, pasti kamu yang nantinya mewarisi usaha ini. Masak kamu ndak mau?” Setro berusaha merayu.

Mboten, Pak, mboten…” Sum berkukuh, atas nama cinta untuk Tarno.

“Kamu itu kenapa to? Berani kamu membantah bapakmu? Kamu mulai berani kurang ajar yo?!”

Rayuan Setro menjadi intimidasi kala pitamnya mulai naik. Dia merasa derajat dan kehormatannya sedang dilawan.

“Aku ndak mau menikah tanpa cinta, Pak. Aku ndak cinta sama Mas Darmono. Aku cuma cinta sama Mas Tarno.”

Saking emosinya, Sum kelepasan. Rahasia terlarang paling besar dalam hidupnya terbuka langsung di hadapan si Bapak.

Ibunya, yang diam sedari awal tak bisa menyembunyikan kesiapnya di dalam diam. Tetap tak berani sumbang kata dia, sebab Setro belum memintanya bicara. Derik jangkrik di luar kian menjadi. Seperti menertawakan Sum.

“Tarno? Tarno buruh tempe kita itu? Kamu seneng-senengan sama dia?”

Setro terbelalak. Mendadak dia merasa kehormatannya runtuh, ditelikung upaya main belakang anak semata wayangnya yang ayu. Status juragannya mendadak melompong.

Sum diam-galau karena keceplosan. Tapi terlanjur.

Kata-kata tak bisa ditelan lagi.

Dalam takutnya, pelan-pelan Sum mengangguk.

Dalam anggukannya itu, ada sedikit harapan Setro bersedia menerima pilihannya. Meski harapan itu sangat tipis. Nyaris tanpa mungkin.

“Maafkan Sum, Pak. Sum betul-betul cinta sama Mas Tarno. Sum tidak mau nikah dengan orang lain, termasuk Mas Darmono,” sang Kembang Desa coba menghiba.

Tapi, reaksi Setro membuat Sum harus sadar bahwa dalam tawar menawar itu mustahil dia bisa menang.

Sontoloyo! Cinta, cinta. Cinta model opo?! Ndak! Kamu itu anaknya juragan tempe paling terhormat di Bale! Masak gandeng-gandengan sama buruh miskin yang masa depannya ndak jelas itu. Ndak bisa! Pokoke kamu harus menikah sama Darmono, secepatnya! Ini demi masa depan dan kehormatan keluarga kita!”

Suara amarah Kasan Setro disahut nyanyian jangkrik di luar rumah yang seperti mendukung penuh keangkuhannya.

Dalam emosinya Setro menjatuhkan vonis yang mustahil dikasasi.

Sum hanya bisa mengeluarkan senjata sekaligus hak istimewa kaum wanita; menangis.

Hanya itu yang dia bisa.

Di luar, nyanyian jangkrik dan burung malam berkolaborasi. Menghadirkan suasana malam kelam yang begitu komplit. Gelap dan mengeluh.

 

8

SEJAK pengakuan Sum, mendadak Tarno menjadi semacam momok dalam hidup Setro. Menjadi sosok yang sangat mengganggu, yang wajib ditendang jauh-jauh.

Agar skenario perjodohan Sum dan Darmono tak menjumpai halangan, Setro menyusun rencana biadab.

Demi tempenya.

Pada suatu petang yang garang selepas Magrib, dia perintahkan centengnya menyingkirkan Tarno sejauh-jauhnya. Dengan cara apapun.

“Kalau perlu dibunuh, mayatnya dipendam di tengah hutan jati timur desa,” instruksi yang tegas keluar dari mulut dan jiwa yang angkuh ala Kasan Setro. Dengan mata mendelik, tentu saja.

“Urusan Temung biar aku nanti. Wong melarat tinggal diinjak saja pasti diam. Yang penting anaknya kalian bereskan dulu.” Ego juragannya selalu menyepelekan urusan dengan kaum papa.

DAN Sum, kebetulan mendengar rencana Setro untuk memisahkannya dengan Tarno untuk selamanya dengan cara yang tak berani dia bayangkan itu.

Panik dia minta ampun.

Malam setelah Setro memerintahkan centengnya, Sum mengendap nekat keluar kamar, melompat dari jendela.

Tujuannya, jelas, untuk menyelamatkan Tarno.

Di bawah sinar dian yang malu-malu samping rumah Tarno, yang ditumbuhi lebat pohon pisang, dan denging nyamuk-nyamuk, Sum dan Tarno berbisik.

“Masak to Dik?” Tarno tidak percaya ketika mendengar niat Setro yang ingin menyingkirkannya, seolah dia binatang itu.

“Iyo Mas. Sampeyan harus pergi menyelamatkan diri. Saya ndak mau sampeyan kenapa-kenapa.”

Tarno bingung. Apalagi, dia juga tak paham bagaimana kisah cintanya dengan Sum bisa terbongkar di depan juragannya. Sum sengaja tidak menceritakan detil.

Tarno memutuskan untuk tidak mendesaknya. Dia menghormati Sum. Dia mencintai Sum dan dia lebih peduli pada kepanikan perempuan itu dan tak mengusut penyebab paniknya.

Karena itu dia bingung, kok bisa?

“Tapi, itu artinya kita harus pisah Dik?” Ada kecewa berpadu khawatir yang tak bisa disembunyikan Tarno.

Dia khawatir cintanya pada Sum tak akan bertemu dengan kesempatan kedua.

“Hanya sementara Mas. Yang penting sampean selamat dulu. Aku mau coba minta bantuan paman-pamanku untuk membujuk Bapak agar mengurungkan niatnya. Nanti setelah semuanya kembali baik-baik saja, sampean kembali ke sini menjemput aku.”

Sum coba menyuntikkan semangat pada Tarno, dengan tawaran harapan yang begitu indah dibayangkan.

Tarno tercenung.

“Bapakmu benci aku karena aku melarat ya?” pertanyaan polos bernada ngenes itu akhirnya terlontar dari mulut Tarno.

Ragu dan rikuh, Sum mengangguk kikuk.

Tarno menerawang. Mengela napas.

“Sudah, begini saja. Aku pergi. Tapi bukan cuma minggat. Tapi aku akan merantau dan berusaha biar tidak miskin lagi. Aku punya saudara jauh di Jakarta. Di sana banyak kerjaan. Sebenarnya aku ditawari sejak lama. Tapi aku menolak karena aku berat meninggalkan kamu.

“Aku coba peruntungan merantau ke sana. Aku masih punya sedikit tabungan untuk sangu. Kalau aku sudah sukses, aku jemput kamu. Kamu mau nunggu aku to Dik?”

Di tengah amuk cintanya yang pahit, Sum mengangguk.

Berpisahlah sejoli dimabuk cinta yang diancam kebiadaban adat itu.

 

9

MALAM itu juga Tarno pamit pada bapaknya hendak merantau ke Jakarta. Pemberitahuan mendadak yang tentunya membuat si bapak bingung.

Tapi, ketika Tarno menyuguhkan alasan ingin kehidupan yang lebih baik, Joyo bisa meniyakan, dan melepas kepergian si anak lanang dengan doa dan harapan.

Tarno sengaja tak bercerita tentang ancaman Setro. Dia tak mau menanggungi pikiran bapaknya yang tua dan melarat itu.

Ditemani gelap desa dan lampu obor, malam itu juga Tarno berangkat ke kota. Tujuannya stasiun, dan dia bermalam di situ.

Paginya dia naik kereta ke Jakarta. Sebelum pergi, Tarno meninggalkan janji pada Sum, bahwa dia akan belajar menulis surat dan melayangkan kabar secara rutin untuk Sum, sebagai penaut rindu yang dipenggal oleh jarak dan waktu.

SETELAH malam itu, penantian Sum pun dimulai.

Sum sengaja tak menceritakan agenda bapaknya menjodohkan dia dengan Darmono. Sum takut, kalau Tarno tahu itu, sang kangmas akan hancur dan tak akan pernah kembali. Untunglah Tarno juga tak menanyakan itu.

Dan tentu saja, kembalinya Tarno adalah hal yang paling dia harap dalam hidupnya dengan cinta yang serba repot saat itu. Si kembang desa sangat berharap Sang Arjuna menjemputnya suatu saat kelak. Harapan untuk itu teramat besar.

SEMINGGU setelah Tarno pergi, Joyo, ayahnya, meninggal dunia gara-gara ngenes ditekan habis-habisan oleh centeng Setro.

Joyo diintimidasi habis-habisan, bahkan dianiaya, lantaran disangka sengaja menyembunyikan Tarno.

Menurut kabar dari mulut ke mulut, Joyo yang ringkih itu meninggal gara-gara organ dalam tubuhnya remek gara-gara sering dipermak oleh centeng-centeng Juragan Setro.

Padahal, sebelum digebuki, Joyo yang tidak tahu duduk perkara kenapa dia diintimidasi lahir batin itu, sudah mengatakan yang dia tahu apa adanya, bahwa Tarno pergi merantau, tak tahu kapan pulang.

Sayangnya, suara wong melarat seperti Joyo tak pernah digubris, alih-alih dipercaya, oleh keangkuhan sosok juragan dalam diri Setro yang membabi-buta, di tengah adat yang sebenarnya tak tahu adat.

Sementara Tarno sendiri tidak pernah tahu peristiwa itu, karena tidak ada yang mengirimnya kabar. Tak satu pun orang di Desa Bale tahu, ada di mana Tarno. Tentunya kecuali Joyo yang sudah tak bernyawa, dan Sum sendiri.

Sementara, perihal kematian tak wajar Temung, kisahnya hanya berhenti di ruang bisik-bisik saja.

 

10

SUM memulai operasinya demi gagalnya perjodohan dia dengan Carik Darmono.

Dia minta bantuan paman-pamannya, yang sebagian besar memang tak suka dengan keangkuhan Setro.

Tapi, ambisi Setro sudah teramat kuat. Sekuat batu granit. Upaya lobi Sum gagal.

Perjodohan tetap dilangsungkan.

Pada akhirnya, yang bisa dilakukan paman-paman Sum hanya memfasilitasi cinta jarak jauh Tarno dan Sum; menjadi perantara surat-surat yang dikirim Tarno.

Sampai pada suatu waktu yang tak pernah diharapkan, pernikahan tempe antara Sum dan Darmono pun berlangsung. Sangat meriah.

Resepsi itu jadi ajang unjuk kemapanan yang angkuh dalam kekuasaan Setro si raja tempe. Lebih-lebih Sum anak satu-satunya. Cuma sekali punya gawe mantu, Setro menggebernya semegah mungkin, cenderung edan-edanan.

Sepuluh ekor sapi tergemuk dan 30 kambing paling super dijagal untuk sajian mewah di meja hidangan. Wayang kulit digeber tiga hari tiga malam nonstop. Pejabat desa, kecamatan, bahkan pejabat kabupaten diundang untuk berpesta pora bersama iringan ronggeng-ronggeng bahenol kelas wahid.

Kemegahan resepsi Sum dan Darmono itu janggal.

Sepanjang acara yang harusnya penuh tawa itu, air mata tak berhenti menetes di pipi Sum. Sakitnya begitu dalam dan menancap. Ada ngilu yang teramat sangat dalam sebuah upaya pertukaran antara cinta dan ambisi tempe Setro.

Setro menjual cinta anaknya demi tempe-tempenya.

Tamu undangan yang tak sengaja mendapati linangan di pipi Sum bertanya-tanya; tapi pertanyaan itu tak pernah berani mereka lontarkan. Pertanyaan massif yang tak pernah mendapat jawaban karena adat mengharamkan lontarannya.

Air mata Sum di tengah kemeriahan pesta pernikahannya menjadi misteri yang hanya dia sendiri tahu.

Setelah pesta, hari-hari rumah tangga Darmono dan Sum adalah masa-masa palsu.

Sum tak pernah membiarkan suaminya menjamahnya. Dia selalu acuh, dan berontak saat Darmono memaksanya untuk memenuhi hak suami istri sah; bersetubuh.

Antipati Sum memancing kemarahan Darmono. Sebagai suami, dia merasa disepelekan istri yang kurang ajar.

Karena segala upayanya untuk berhubungan badan dengan Sum selalu mentah, Darmono mengadu ke Setro soal libidonya yang ditahan paksa, layaknya bocah kecil minta mainan ke bapaknya.

Bersama aduannya itu, Darmono melampirkan ancaman; kalau Sum tetap tidak mau melayani birahinya, Darmono tidak akan pernah membantu Setro mengekspansikan tempenya.

Ah, tolol, seorang pria yang punya kedudukan istimewa dan terpelajar, minta bantuan mertuanya agar bisa menyetubuhi istrinya.

Walhasil, mau tak mau Setro harus turun tangan agar ambisinya tak tersandung-sandung, apalagi batunya adalah anak sendiri.

Setelah Setro turun tangan dengan ciri khas intimidasinya, Sum pun terpaksa melayani suaminya.

Sebelum malam pertama mereka –yang berlangsung beberapa minggu setelah resepsi– Sum mengecam Darmono; “Sampeyan boleh menikmati tubuhku, tapi tidak akan bisa punya hatiku.”

Tapi Darmono tak acuh ultimatum itu. Dia tetap menyetubuhi istrinya seperti binatang, yang lama menahan libidonya.

Selama persetubuhan, tak putus-putus Sum menyebut nama Tarno. Tapi elu-elu Sum itu tak mengganggu kenyamanan Darmono yang sedang menikmati kebuasan birahinya.

Setelah puas malam itu, hingga beberapa kali ejakulasi, Darmono mulai menepati janjinya. Dia mulai membuka jalur perdagangan dengan Sumatera, Kalimantan, Bali dan Sulawesi, sesuai dengan mas kawin yang dia janjikan pada Setro.

Imperium tempe Setro pun mulai menggurita. Tentakel-tentakel tempenya menyebar ke seantero negeri. Kebanggaan yang dia dapat setelah menjual jiwa-raga dan memperkosa cinta anak semata wayangnya.

 

11

WAKTU merangkak begitu malas, itulah yang dirasakan Sum dengan status istri cariknya.

Dua tahun dia menikmati kesepian sembari berharap datang kabar dari sang terkasih yang nun jauh di Jakarta sana. Sejak perpisahan malam itu, hingga 24 bulan lamanya, Tarno belum pernah sekalipun berkirim kabar, seperti yang pernah dia janjikan ketika mereka hendak berpisah.

Tarno seolah musnah begitu saja.

Tapi Sum tetap merawat keyakinannya, bahwa Tarno pasti akan melayangkan sepucuk surat pelebur rindu untuknya.

Hingga akhirnya, penantian Sum mendapat jawab menggembirakan ketika perpisahan masuk di bulan ke 25.

Yang ditunggu-tunggu tiba; sepucuk kabar dari Tarno, yang dialamatkan ke balai desa dan diatasnamakan paman Sum. Selembar kertas kusut berisi tulisan tangan Tarno yang tak kalah kusut itu itu sampai di tangan Sum secara sembunyi-sembunyi.

Perlahan-lahan Sum buka surat kumal itu. Bersama rindu yang mengaduk-aduk kalbunya, pandangan Sum mulai menyusuri satu persatu rangkaian kata dari Tarno-nya.

“Assalamualaikum.

            Bagaimana kabar Dik Sum? Semoga baik-baik saja. Mohon maaf sekiranya kalau aku baru sempat berkirim kabar. Mas Tarno harus belajar menulis surat dulu, karena tidak tahu caranya. Lama Mas baru bisa. Baru Mas kirim surat ini.

            Kehidupan di Jakarta sini keras Dik. Pas datang aku bingung cari kerjaan. Saudaraku ternyata tidak bisa banyak membantu. Selain masih belajar menulis surat, Mas sengaja ndak kirim surat ke kamu sampai benar-benar ada kabar gembira.

            Sekarang Mas sudah mulai enak Dik. Mas sudah jadi pembantu mandor membangun gedung di Jakarta. Gajiku lumayan. Tapi aku tinggal pindah-pindah tergantung proyek. Alhamdulillah Mas juga sudah bisa nabung. Insyaallah akhir tahun ini aku pulang untuk menjemput kamu. Aku ndak lupa sama janjiku. Terima kasih kalau kamu masih mau menunggu aku. Salam kangen. Tarno”.

Asa Sum untuk kembali bertemu cintanya tumbuh lagi.

Ternyata waktu penantian 25 bulan itu tidaklah sia-sia. Bunganya yang nyaris layu tersiram lagi. Segar kembali.

Ada kelegaan yang mengharukan, layaknya Sum baru saja menemukan oasis di tengah gurun pasir yang maha-luas ketika huruf terakhir dalam kertas itu selesai dibacanya.

Pertemuan jiwa yang lama dikangeni Sum.

Tapi, di antara kisi-kisi dahaga yang baru saja lepas itu, ada sejumput sesal yang akan menjadi rahasia Sum. Gundah yang hanya dibagi dengan dirinya sendiri sampai kapan pun.

Sum diam-diam merasa berdosa karena tidak bisa mempersembahkan mahkota terhormatnya pada Tarno. Darmono telah mengambilnya paksa setelah bapaknya setuju menukarnya dengan ekspansi tempe.

“Maaf, Mas. Aku salah, aku minta maaf. Tapi, biar kamu bukan yang pertama di malam kita nanti, cintaku tetap buat kamu Mas. Tubuhku boleh kotor, tapi tidak hatiku. Aku bisa menjamin kesuciannya.”

Hanya itu yang bisa dibatin Sum.

Dia ingin membalas surat itu. Tapi, dia tak tahu harus dikirim ke mana. Sebab, Tarno tak pernah mencantumkan alamatnya di surat itu. Katanya Tarno pindah-pindah.

Kecuali itu, dia juga tak punya kesempatan untuk menulis surat. Apalagi mengirimnya ke kantor pos.

Darmono melarangnya ke mana-mana. Dia ingin istrinya di rumah terus. Kuatir Sum kecantol laki-laki lain.

Sementara pamannya hanya bersedia menjadi perantara penerima surat saja, yang kebetulan dialamatkan Tarno ke balai desa itu. Untuk mengirimkan surat balik, sang paman enggan.

“Kalau ketahuan bojomu apa bapakmu bisa ruwet urusan. Cuma ngambil surat buat kamu saja aku ndredeg, Nduk,” alasan sang paman. Komunikasi jarak jauh itu akhirnya hanya berjalan searah.

 

12

KALA melenggang sembari mengejek rumah tangga Darmono dan Sum yang kian keruh. Darmono makin dingin dan acuh. Itu karena Sum tak juga memberinya anak.

Dia menilai Sum perempuan cacat.  Perempuan yang tak lengkap. Karena Sum dipastikannya mandul.

Darmono tak pernah tahu, bahwa situasi itu memang disengaja oleh Sum. Dua kali Sum sengaja berbuat dosa. Dua kali dia bunuh janin dari Darmono dalam kandungannya. Tak peduli nanti kandungannya bisa rusak dan dia benar-benar tak akan bisa punya anak.

Yang Sum mau, ketika Tarno pulang nanti, pujaan hati tak akan pernah mendapatinya menggendong anak yang bukan buah cinta mereka. Itu akan menghancurkan indahnya pertemuan yang dua tahun lebih terpenggal itu.

Tiga bulan jelang akhir tahun –menjelang datangnya waktu kepulangan yang dijanjikan Tarno dari Jakarta— terjadilah momen sangat dinantikan Sum; Darmono menuntutnya cerai dengan dalih Sum tidak bisa memberinya anak.

Memang, mandul, tapi mandul yang disengaja, tentunya. Kesengajaan Sum yang tak pernah diketahui Darmono.

Akhirnya Sum lepas dari penjara cinta tempe bapaknya.

Tapi perpisahannya dengan Darmono itu tak memengaruhi ekspansi bisnis tempe Setro, yang sudah kadung menyebar dan mengakar di mana-mana.

Darmono mencari istri lagi yang bisa memberinya anak, sementara Sum siap menyambut Tarno yang akan kembali pulang, dengan riang melayang-layang.

 

13

DUA minggu jelang pertukaran angka tahun Masehi, kembali tiba sepucuk surat dari Jakarta. Isinya singkat;

“Aku datang dengan kereta, masuk stasiun kota jam 3 sore. Paling-paling terlambat sejam. Aku berhasil Dik. Bapakmu tak akan lagi menolak aku. Tunggu aku. Tarno”.

Ah, waktu itu akhirnya benar-benar datang…

Sum bersenandung…

Sementara Setro, yang berhasil meraih ambisinya membangun kerajaan tempe, acuh pada Sum. Anaknya mau apa saja, Setro tak peduli. Karena yang ada dalam pikirannya hanya tempe dan kebanggan sebagai orang yang disegani.

Bahkan ketika Sum coba-coba memberitahukan kondisi Tarno yang sudah mulai mapan, dan bilang cintanya yang pulang dari perantuan sebagai orang sukses itu ingin menikahinya, Setro menjawab datar; “Terserah”.

Yang itu diartikan Sum sebagai persetujuan. Sum tak mengaku mendapatkan kabar Tarno dari orang-orang desa. Dia tak mau bapaknya tahu Tarno menulis surat untuk dia dengan perantara pamannnya. Sementara Setro kembali pada ilusi tentang kemegahan tempenya.

Sum punya rencana untuk mengajak Tarno pindah dari desa. Dia ingin memendam dalam-dalam cinta masa lalunya yang suram itu dalam adat feodal desa Bale, lalu menyongsong mentari baru di tempat jauh bersama Tarno.

Dia juga tak ingin Tarno yang datang dari jauh menjemputnya itu jadi korban kekerasan pergunjingan masa lalu Sum dengan Darmono.

 

14

ANGIN beralun merdu ketika sore yang dijanjikan Tarno hendak tiba.

Di hari yang dijanjikan itu, sejak pukul 12 siang Sum bersolek. Sesuatu yang sama sekali tak pernah dilakoninya selama berstatus Nyonya Darmono.

Hingga tengah hari, bahkan sudah tiga kali dia mandi. Dia kenakan busana tereloknya.

Sum Ingin Tarno melihatnya dalam keadaan paling sempurna, setelah puasa bertemu selama tiga tahun. Sum  ingin menyajikan pemandangan terindah pada Tarno, ketika Kangmasnya itu turun dari kereta.

PUKUL 3 sore telah hadir.

Sum telah duduk manis di ruang tunggu stasiun sejak satu jam sebelumnya. Dia kikuk lantaran degup-degup senangnya tiba-tiba melonjak-lonjak lepas.

Pukul tiga sudah lewat beberapa saat.

Kereta yang ditunggu belum juga tampak. Kata penjaga stasiun, kereta terlambat. Sum kembali coba bersabar, masih dengan dentum senangnya.

Setelah sejam molor dari jadwal, kereta yang digambarkan Tarno dalam suratnya muncul. Berdentum-dentum dada Sum kian berdebum.

Hatinya mengemas rapi rindu yang penasaran; bagaimana Mas Tarno setelah tiga tahun merantau? Masihkah dia si penyabar, pekerja keras yang dikenal dan dicintanya itu?

Kereta berhenti. Satu persatu penumpang turun. Sum menatap lekat-lekat setiap pintu keluar di tiap gerbong. Yang ditunggu-tunggu tak muncul juga. Pun juga tak tampak di antara kerumunan penumpang.

Degup Sum makin mendentum, tapi kali ini membawa irama kebingungan. “Aduh, Mas Tarno, kenapa kau tak juga tampak?” batin Sum.

Seluruh penumpang tujuan Kota M sudah turun. Kereta kembali melaju.

Bahkan hingga stasiun mulai kembali sepi, Tarno masih belum tampak.

Ke mana Mas Tarno? Kenapa dia tak ada? Apa ketiduran, lalu terangkut kebablasan sampai kota berikutnya?

Sum coba memastikan isi surat dari Tarno yang sengaja dia bawa itu. Dia tidak salah. Surat itu menyebutkan dengan jelas waktu dan kereta apa yang akan membawa Tarno pulang, yaitu saat itu.

Tapi kenapa Tarno tidak ada? Apa dia ingkar? “Ah, tidak mungkin Mas Tarno bohong,” Sum mencoba meyakinkan diri.

Dan dia memilih yakin.

Dalam harapan dan angan baiknya, Sum berpikir, mungkin Tarno tak kebagian karcis kereta hari itu, dan pulang di hari berikutnya. Dan untuk berkirim kabar soal itu melalui surat tidak mungkin, karena di awal tahun 1960-an itu tak mungkin surat bisa tiba dalam sehari.

Sum yakin Tarno kehabisan karcis. Karena dia yakin Tarno tak akan ingkar janji.

Dengan riang-riang mengambang sambil berharap besok Tarno benar-benar datang, Sum melangkah pulang.

SEHARI selepas hari yang dijanjikan lepas begitu saja.

Sum kembali lagi ke stasiun di jam yang sama. Tujuannya sama; menunggu kereta yang membawa Tarno. Pukul 2 siang dia sudah duduk manis di salah satu bangku tunggu, menunggu kereta jam 3 sore.

Tapi….

Hari itu sama saja yang didapatnya; Tarno tetap tak pernah turun dari kereta yang datang jam 3 itu. Untuk kedua kalinya Sum harus menerima kecewa.

Dan dia terus memelihara keyakinan juga harapannya pada cinta yang akan menjemputnya, dengan berpikir; Mas Tarno pasti datang besok, pasti besok, pasti besok, dan seterusnya.

Sembari rutin menanti kereta, Sum juga terus berharap ada surat yang datang dari Jakarta, yang memberitahunya keadaan Tarno sebenarnya.

Tapi, tak sepucuk pun kabar tiba. Dan kereta-kereta yang datang jam 3 sore itu tetap tak membawa Tarno di dalamnya.

Harapan yang begitu besar membuat Sum memilih untuk terus bersabar dan yakin Tarno bakal pulang dengan kereta pukul 3, pada suatu hari yang indah.

Demi harapan itu, datang ke stasiun pun menjadi kegiatan rutin yang dilakoni Sum. Setiap hari pukul 2 siang dia selalu datang ke stasiun Kota, hanya untuk menunggu Tarno pulang dengan kereta pukul 3 sore. Kadang dia datang sendiri, kadang ada kerabat yang iba menemaninya.

Seiring harapan kepada besok, waktu mulai merangkak, berjalan, berlari, lalu melesat bersama harapan Sum yang tak kunjung terjawab.

TANPA terasa oleh Sum, yang senantiasa disibukkan oleh harapannya, guliran masa memasuki bilangan 40 tahun.

Jadwal kedatangan kereta telah berganti. Sepanjang rentang itu, Sum masih menjaga agar keyakinannya terhadap janji Tarno tetap hidup. Dia tetap menunggu Tarno bersama cintanya. Dia masih yakin kereta pukul tiga sore itu ada.

Namun, tetap saja, yang dinanti tak pernah tiba.

Peringatan keluarga yang ingin dia menghentikan rutinitas menantinya yang mubazir, lalu belajar menerima kenyataan bahwa Tarno tak akan pernah datang seperti yang pernah dijanjikan pada Sum, tak digubrisnya.

Sum masih sangat yakin Mas Tarno-nya akan datang.

Ketika Setro dibawa pergi dari dunia oleh usianya yang renta, dan meninggalkan kerajaan tempe, Sum mengabaikannya. Estafet dinasti tempe Kasan Setro yang megah, hasilnya menjual kebahagiaan Sum itu, diteruskan oleh salah satu keponakan.

Sum tak sudi mengurusnya.

Wanita yang menanti itu lebih menginginkan Tarno daripada gemerlap kerajaan tempe warisan bapaknya.

SEORANG petugas peron yang dibuat heran dengan kehadiran rutin Sum di stasiun, mencoba mencari tahu apa yang dicari Sum –yang kala itu sudah mulai merenta.

“Bu, sebenarnya Ibu mau ke mana? Setiap hari ke stasiun tapi tak pernah naik kereta? Atau menjemput siapa?” tanya petugas peron.

Sum menjawab apa adanya; “Saya menunggu Mas Tarno. Dia janji pulang naik kereta jam 3 sore.”

Si petugas hendak menanyakan lebih jauh, atau sekadar berniat membantu memastikan benar tidaknya kereta yang ditunggu, salah satu saudara Sum, yang mendapat giliran menemaninya, buru-buru meletakkan telunjuk di depan mulut dan hidung; isyarat agar si petugas tak melanjutkan pertanyaannya.

Hanya agar ketenangan harapan Sum tak terusik.

HINGGA kulit wajahnya mengeriput, cantik bunga mataharinya terkikis, di usianya yang berkepala enam, tahun 2006 lalu, Sum masih setia dan rutin datang ke stasiun Kota M, menunggu Mas Tarno-nya pulang.

Raganya memang menua, tapi harapannya tak pernah uzur. Dia masih dan selalu memelihara keyakinannya, bahwa cintanya tidak akan mengingkari janji.

Dia yakin Tarno datang untuknya, membawa pulang janjinya empat dasawarsa lalu.

 

Yang Terlambat dari Ibukota

SEHARI sebelum Tarno –seharusnya– pulang, Jakarta diguyur hujan deras.

Ketika itu Tarno mengawasi pekerja bangunan yang mengerjakan sebuah gedung berlantai delapan di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Dia sengaja lembur biar bisa pulang dengan tenang dan menjemput cintanya.

Sebenarnya agak kalut juga pikirannya. Sebab surat-surat untuk Sum tak pernah terbalas. Sampaikah pesannya?

Tapi Tarno, yang ingat betul alasannya berangkat Jakarta dulu, coba memahami posisi Sum. Mungkin Sum selalu diawasi bapaknya, sehingga tak sempat menulis balasan.

Atau jangan-jangan Sum malah telah menikah? Ah, soal ketakutan itu, Tarno memilih percaya pada anggukan Sum, ketika dia bertanya tentang kesediaan sang pujaan menunggunya pulang.

Tarno tak pernah berprasangka pada Sum. Sebab dia mencintai Sum.

Di saku celana kirinya tersimpan rapi sepasang cincin kawin sederhana berharga murah, yang sengaja akan dia persembahkan sebagai hadiah kepulangannya untuk yang tercinta.

Dia di lantai paling atas, dengan ketinggian sekitar 30 meter.

Celaka selalu datang tiba-tiba tanpa diminta. Tarno yang telalu lelah karena memaksa lembur di bawah hujan, lengah. Dia terpeleset, tubuhnya terhempas dari lantai delapan.

Kepalanya remuk, dia tewas seketika.

Rekan-rekannya bingung. Tak ada satu pun yang tahu ke mana harus berkirim kabar. Tarno tak pernah meninggalkan alamat asalnya. Dia hanya mengaku datang dari sebuah desa di Kabupaten M yang luas itu.

Sementara saudara jauh yang jadi jujugan-nya ketika pertama kali datang ke Jakarta, juga sudah hilang entah ke mana.

Kabar itu baru sampai di Desa Bale, setelah dibawa oleh seorang kerabat jauh Tarno, yang akhirnya ditemukan juga setelah sedasawarsa kematiannya.

Kebenaran itu baru diketahui setelah 10 tahun Sum menghabiskan waktunya di stasiun, menunggu Tarno bersama harapannya yang terus merajuk.

KABAR itu sempat sampai juga di telinga Sum.

Namun, perempuan yang menunggu itu memilih untuk menolak kebenarannya. Apalagi jasad Arjunanya itu tak pernah sampai ke desa Bale. Dia pikir itu hanyalah kabar dusta belaka.

Yang Sum ingat hanyalah satu kata yang diucap Tarno, yang terlontar di malam sunyi perpisahan mereka, di antara pepohonan pisang, bersama gigit-gigit genit nyamuk dan jangkrik yang menyanyikan lagu menyayat-sayat itu,

“Kamu mau nunggu aku to, Dik?”

            Dan Sum ingat betul, pertanyaan itu dia jawab dengan anggukan. Sebuah kesanggupan untuk menunggu masa pertemuan mereka. Dan kesanggupan adalah janji, hutang yang wajib ditepati.

Tarno juga berhutang janji padanya. Sum berpikir, kalau Tarno mati, berarti si Kangmas tak akan bisa menepati janji. Tapi dia yakin Tarno bukan lelaki yang ingkar. Sebab itu, dia tak percaya Tarno sudah mati.

Sum yakin, masih selalu yakin, bahwa pertemuan itu akan benar-benar hadir. Dia yakin kegembiraan itu selalu ada bersama hati yang memilih sabar.

Demi pertemuan itu, Sum tekun memelihara keyakinan dan harapan, hingga sejengkal lagi senjanya mencapai ujung. (*)

 

image

Advertisements

4 thoughts on “Kereta Pukul 3 Sore dari Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s