Layang-layang

image

 

KETIKA pertama kali kata ”politik” mampir di telinga kecilku, rasa ingin tahu mendorongku untuk bertanya pada Bapak –yang sedang sibuk membereskan berkas salah satu partai oposisi di era Orde Baru yang beliau ikut merawatnya; ”Politik itu apa sih, Pak?”

Beliau hentikan sejenak beres-beres berkas. Lalu Bapak tampak berfikir. Mungkin mencoba mencari analogi jawaban yang pas, yang bisa diterima otak 7 tahunku. Dan Beliau menjawab; ”Politik itu bermain layang-layang.”

Aku mengernyitkan dahi. Sebelum pertanyaan selanjutnya terlontar, Bapak menjelaskan; “Maksudnya, politik itu seperti bermain layang-layang. Saat layangan, kamu sering mengadunya karena seru kan? Dan bukan tebal-tipisnya benang kan yang menentukan pemenang, tapi teknik. Kadang benang perlu diulur, ada waktunya ditarik.”

Oh, aku jadi paham. Karena aku memang selalu melakukan teknik itu tiap mengadu layang-layangku –mainan yang paling aku gemari di masa bocah.

”Tapi kadang pemenang dibantu angin yang tiba-tiba datang. Yang kalah biasanya selalu berusaha keras mendapatkan kembali layang-layangnya yang putus terbawa angin. Sampai harus lari-lari, terengah-engah, menerabas semak-semak, memanjat pohon, menginjak duri, beling, keluar darah, jatuh bangun. Kalau bisa mendapatkannya kembali, dia akan mengadunya lagi. Kalau tidak, dia akan meratap. Dan kalau punya uang, dia akan membeli layang-layang baru.”

Aku langsung memandangi kakiku yang ditempeli banyak bekas luka akibat mengejar layang-layang putus.

”Sementara yang menang terus melayang di awang-awang menunggu musuh baru yang lebih tangguh,” imbuh Beliau.

”O,” jawabku pura-pura paham. Lalu kulontarkan lagi pertanyaan; “Berarti politik itu mainan anak kecil ya?”

Bapakku cuma tersenyum. Lalu setelah itu Beliau terlihat buru-buru membereskan berkas-berkas sebuah partai, yang menurut gambaran imajinasi bocahku ketika itu berlambang kepala kerbau disembelih, sampai harus berdarah-darah berwarna merah.

Lalu, masih karena rasa ingin tahu, aku tanya lagi;”Itu apa?” sambil menunjuk berkas-berkas.

“Oh, ini kertas,” jawab Beliau.

“Bapak mau apa dengan kertas-kertas itu?”

“Mau membuat layang-layang.”

***

SUATU hari di tahun 1987, tak lama setelah penjelasan sederhana ala Bapak itu, Beliau dicopot dari jabatannya sebagai KetuaRT. Yang mencopot langsung Pak Camat. Kata tetanggaku, Bapak dilengser karena tidak mau nurut pada Pak Lurah dan Pak Camat. Beliau mbalelo tak mau mengganti bendera warna merah yang berkibar di depan rumah dengan yang warna kuning, sama seperti yang dipasang semua tetanggaku. Depan rumahku jadi kelihatan aneh, tampak lain dan mencolok. Kata Pak Camat, itu merusak pemandangan.

Pada suatu sore, selepas main layang-layang dan memenangkan beberapa aduan, aku mendapati tak ada lagi papan nama “Ketua RT xx/RW xx Kelurahan xx Kecamatan xx Kotamadya xx” yang biasanya terpampang di depan rumah. Aku heran. Kata Ibu, Bapak sudah bukan Pak RT lagi. Tapi ketika aku tanya kenapa, Ibu enggan menjawab. Mungkin menurut Beliau itu bukan urusanku.

Untuk menuntaskan penasaran, langsung saja aku bertanya pada Bapak, “Kenapa Bapak tidak jadi Pak RT lagi?”

Masih sambil tersenyum, beliau menjawab,”Karena layang-layang Bapak putus.”

Repost from November 20th, 2009

 

Advertisements

3 thoughts on “Layang-layang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s