Ada Warna dalam Preferensi

 

KEBANYAKAN teman sesama penggemar sepak bola mencap kecenderungan dukungan saya terhadap suatu tim itu “membabi-buta tanpa pertimbangan”. Bahkan ada yang bilang “freak”. Wajar juga mereka berkata demikian. Karena saya selalu mendukung tim-tim yang kurang popular.

Di ajang Liga Italia Serie A, ketika kebanyakan orang melimpahkan dukungan pada Juventus, Inter Milan, atau AC Milan yang notabene kolektor trofi itu, yang punya dua digit gelar juara liga domestik dan beberapa liga Eropa, saya meneriakkan yel-yel untuk AS Roma –yang hanya tangguh di ajang Copa Italia dan cuma punya tiga gelar di Serie A. Seterpuruk apapun tim Serigala Ibu Kota itu, saya tetap menjadi salah satu pendukungnya.

Di ranah Inggris, ketika banyak orang menyanjung Manchester United, Arsenal, Chelsea, atau Liverpool, saya memilih duduk di bangku pendukung Newcastle. Saat The Magpies degradasi ke Divisi 1 Liga Inggris beberapa tahun lalu, Barclay’s Premier League serasa tidak menarik buat saya. Hanya di La Liga saja selera saya agak “bagus”, karena saya adalah pendukung Real Madrid.

Tapi, secara garis besar, selera saya dalam menjatuhkan dukungan ini dibilang aneh. Ketika para fans bola itu menentukan pilihan tim yang mereka dukung dengan alasan kepuasan ketika tim mereka itu keluar sebagai kampiun, saya dinilai memilih “kecewa” karena tim jagoan saya hanya bisa jadi penonton pesta kemenangan. Saya pikir, itulah alasan mereka dalam menjatuhkan pilihan mana tim yang mereka dukung, karena ingin terus menerus ikut merasakan “kemenangan imajinatif” ketika tim yang mereka dukung kerap jadi juara. Dan saya pikir, alasan saya beda dari mereka.

Tak hanya dalam dukungan untuk tim bola. Soal pemilihan ponsel saja, saya juga dicap agak aneh. Dulu, ketika orang berbondong-bondong mengonsumsi produk Nokia, saya menjatuhkan pilihan pada Sony Ericsson yang tak begitu popular (bahkan sekarang Sony mentalak Ericsson karena dicap tidak mendatangkan keuntungan sama sekali). Ketika booming Blackberry dengan spesialisasi fitur istimewanya, saya lebih memilih ponsel pintar biasa non-Blackberry.

Untuk era android sekarang, saya akui, saya ikut arus. Hanya saja, dalam pemilihan handset, saya memilih untuk sedikit “beda”. Ketika sebagian besar orang memilih produksi Samsung, saya lebih tertarik pada LG.  Dan fitur-fitur produk Samsung, saya akui, memang lebih top daripada produk pilihan saya. Tapi, saya tetap pada pilihan saya, dan tak ingin ikut arus.

Soal selera, ya, saya memang dicap kerap nyeleneh. Tapi, kembali lagi, ketika itu sudah menyangkut soal selera, alias ketertarikan, alias preferensi, saya pikir saya tak salah menjatuhkan pilihan. Prefrensi atau selera –menurut penjelasan dari beberapa buku yang saya lahap— adalah sebuah konsep yang digunakan pada ilmu sosial. Konsep itu mengasumsikan pilihan realitas atau imajiner antara alternatif-alternatif, dan kemungkinan dari pemeringkatan alternatif tersebut, berdasarkan kesenangan, kepuasan, gratifikasi, pemenuhan, kegunaan yang ada. Lebih luas lagi, bisa dilihat sebagai sumber dari motivasi. Di ilmu kognitif, preferensi individual memungkinkan pemilihan tujuan atau goal.

Dalam menentukan pilihan, saya punya goal rasio saya sendiri. Misal, dalam dunia sepak bola. Ketika orang mendukung tim dengan alasan juara, saya tidak mengambil pilihan itu. Jujur saja, saya mendukung AS Roma karena saya selalu terpesona dengan sejarah tentang kebesaran dan upaya penaklukan Ibukota Italia sana –atau kota di mana tim itu sekarang berkandang. Dalam mendukung Newcastle, saya punya alasan karena kekaguman saya pada sosok Alan Shearer –bomber maut yang lama membela The Magpies. Saya punya rasio sendiri di luar mindset “juara” dalam mendukung tim. Saya rasa, cara pikir saya itu tak bisa dibilang keliru. Sekali lagi, ini soal selera.

Soal ponsel, saya juga punya alasan sendiri. Dalam gaya hidup modern ini, ketika banyak orang yang tertarik pada hal yang sama, saya malah canggung ketika saya harus menjadi salah satu di antara mereka. Ketika banyak yang memilih ponsel android Samsung dengan alasan kepuasan mengonsumsi fiturnya, saya mengambil opsi pada LG. Memang, beberapa fiturnya bermasalah, tapi itu adalah risiko dari pilihan saya. Saya bisa menerimanya. Dalam mengonsumsi barang-barang untuk gaya hidup, saya selalu berusaha menghindari celetukan; “Ecieeeee, kembaran.”

Yap, saya selalu merasa nyaman ketika bisa menikmati sesuatu yang kurang bisa dinikmati kebanyakan orang. Karena dalam situasi itu saya merasa kenikmatan itu begitu eksklusif. Hanya untuk saya dan sedikit orang lainnya. Di situlah saya merasa diistimewakan. Saya rasa sangat manusiawi sekali ketika seorang manusia ingin diistimewakan.

Saya memang cenderung memilih untuk “tidak terlibat dalam hal-hal yang melibatkan banyak orang dalam barisan yang sama.” Singkatnya, saya tidak suka gerudak-geruduk. Tapi, bukan berarti saya anti-sosial. Justru saya ingin melibatkan diri lebih jauh dalam kehidupan sosial dengan mengambil posisi sebagai “pewarna”. Ketika dalam sebuah kehidupan sosial hanya ada satu warna, bukankah itu tidak menarik? Tuhan menciptakan banyak warna untuk menjadikan kehidupan ini lebih seksi. Karena itulah, sebagai makhluk Tuhan, saya merasa punya kewajiban untuk ikut memperkaya warna kehidupan ini dengan selera saya.

Bayangkan, seumpama dalam dunia sepak bola tidak ada orang dengan selera seperti saya, siapa yang bakal “diejek” demi kepuasan para pendukung tim juara yang merayakan pesta kemenangan? Yah, anggap saja tu menyenangkan orang lain. Ada pahalanya kok. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s