About Journey

Belajar dari alam.

PERJALANAN adalah salah satu bagian dalam hidup yang kerapkali membuat kegairahan tumbuh dengan liar dan segar. Perjalanan memberi manusia banyak pelajaran. Perjalanan menumbuhkan keyakinan. Dan perjalanan adalah penunjuk arah.

Banyak kisah dalam perjalanan yang membuat jiwa menjadi kian tumbuh dewasa. Matang secara pengalaman, matang secara jiwa. Di mana ruh kita bisa belajar menentukan mana yang pas dan mana yang kurang tepat.

Perjalanan membuka wahana kita tentang kecerdasan semesta alam. Menyusuri gunung, yang sebagaimana disebutkan dalam Alquran, adalah pasak-pasak Bumi —yang menjaga agar daratan tak goyang dari tempatnya— memberi manusia pelajaran tentang kekokohan; bagaimana cara melindungi dan menyejukkan. Betapa gunung yang telah banyak memberi itu tak pernah menuntut untuk mendapatkan kembali apa yang diberikannya.

Terlepas dia adalah benda mati, tapi dalam kematiannya itu gunung mengajarkan bagaimana sebuah kedewasaan dijalankan; memberi dan tak pernah menuntut. Toh, dengan begitu, gunung tetaplah menjadi gunung, yang dicari banyak manusia, ketika makhluk yang diplot menjadi khalifah di muka bumi ini mulai didera resah. Gunung selalu memberi kedamaian.

Menapaki pantai, manusia disuguhi tentang luasnya jagat ini. Tentang bentangan-bentangan air yang memberi batas antara Bumi dan langit, yang disebut horizon itu. Tentang luasnya makna kehidupan, yang kadang teralun damai, kadang didera gelombang. Laut mengajarkan manusia apa itu pasang-surut. Dan itulah kehidupan. Laut juga mengajarkan bagaimana ketika angkara diumbar pasti malapetaka yang terjadi, dalam fenomena tsunami. Kepada laut manusia belajar bagaimana cara mengendalikan diri. Agar tak pernah terjadi kerusakan itu.

Menyusuri budaya di antara manusia-manusia yang bhineka ini, juga memberi manusia yang mau belajar, banyak pelajaran. Bagaimana ketika ego saling bertabrakan, itu akan menjadikan kerusakan di muka Bumi. Politik yang telanjang dan libidinal akan melahirkan kehancuran. Persis seperti yang disebut oleh Alquran.

Adalah fitrah manusia untuk menuntut kedamaian. Di antara banyak jenis manusia itu, sepatutnya kita belajar bagaimana cara berbagi. Bagaimana cara mengendalikan diri. Dan bagaimana cara meredam birahi. Agar manusia bisa tetap menjaga fitrahnya sebagai makhluk yang (seharusnya) damai.

Kepada matahari manusia juga bisa belajar menepati janjinya. Karena sang surya tak pernah ingkar; selalu terbit di timur dan terbenam di barat. Hingga pada masanya semua bakal usai.

Dan apakah ketika manusia mati, perjalanan itu akan usai juga? Itu masih menjadi sebuah misteri, karena sejauh ini belum ada orang mati lalu kembali untuk membagi pengalamannya. Yang jelas, di dalam berbagai macam kitab suci yang dianut umat beragama, sepertinya kematian itu bukanlah akhir perjalanan. Tapi justru awal dari sebuah perjalanan panjang dengan skala waktu berjuta kali lipat dari standar massa kehidupan di dunia.

Ya, perjalanan adalah cara Sang Kuasa  memanjakan manusia; mengabarkan banyak hal, mengajarkan banyak hal melalui kecerdasan-Nya mendesain alam semesta. Dan yang berhasil mencerap hikmah dari perjalanannya adalah manusia-manusia yang beruntung. Setidaknya, demikianlah yang dikabarkan oleh kitab suci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s