Malam Ini Hujan

Malam ini hujan.

SETELAH beberapa masa melalui saat berat akibat kebodohan luar biasa yang sengaja saya lakukan sendiri, lalu malam ini hujan turun begitu saja. Air tumpah setelah saya tumpahkan segala sesuatu yang memang seharusnya tumpah. Keputusan saya ambil, dan tibalah saya pada masa-masa koreksi.

Dimulai dengan malam ini.

Dengan hujannya.

Lalu, bersama sendiri, hujan, dan kamar tumpangan yang nyaman di rumah sepasang kakak yang luar biasa baik hati (semoga saya diberi kesempatan untuk membalas semua ini suatu saat kelak, amien) saya mencoba berkaca.

Ah, sayang cermin tidak bisa menunjukkan pada kita, apa yang salah dalam “diri” sosok yang berdiri di depannya.

Cermin tak bisa membuat manusia koreksi diri, kecuali mengagumi kelebihan dan mengumpat kekurangan badaniah.

Cermin tak bisa membantu diri seseorang memenuhi tuntutan “menjadi ada” (ah, ada saja Pak Sartre ini membuat istilah). Tapi saya terus terang setuju ketika eksistensialis Prancis itu mendefinisikan kehidupan manusia adalah sebuah proses, bukan sebuah bentuk yang “sudah pasti”, “sudah jadi”, atau “sudah ada”. Manusia selalu “menuju jadi” melalui banyak jalan. Banyak cara.

Antara lain dengan: Cinta.

Rasa ini bisa membawa manusia menunjukkan eksistensi. Dia ada karena berbuat. Mengungkapkan. Dan diterima.

Sayangnya, ini adalah rasa yang begitu subjektif. Definisi antara satu manusia dengan lainnya bisa berbeda. Tiap individu juga punya kemasan masing-masing. Dan sangat sering masing-masing definisi saling membentur. Tapi, memang begitulah.

Seperti saya yang “keras” dan kebetulan (dengan bodohnya) cinta pada yang juga “keras”. Kalau saya diizinkan menciptakan istilah, ketika keras bertemu keras, dua hal serupa memaksakan jadi satu, kalau benar terwujud mungkin pantas disebut homo-karakteristik.

Hal yang serupa dipaksakan menjadi satu, menurut Islam, sepertinya haram. Lihat saja, homoseksual dimusnahkan dengan hujan batu di masa Luth dititah sebagai nabi. Tuhan saja jijik ketika melihat dua makhluk sejenis bersenggama.

Karena Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan (dengan lain jenis). Untuk membenarkan keharusan itu, terminologi agama Ibrahim menceritakan, ketika Adam kesepian, Tuhan tidak menciptakan makhluk berpenis untuk menemaninya. Tapi Hawa atau Eva, yang menonjol di bagian atas, tidak di bawah layaknya Adam.

Sepertinya, keharusan berpasangan berlaku pada banyak hal. Bukan hanya hasrat seksual, tapi juga budaya, karakter, warna, selera, alam. Semua diciptakan untuk saling melengkapi. Tengoklah sekitar anda sekalian, pasti semua hal diciptakan berpasangan untuk saling melengkapi.

Banyak sesuatu yang ketika berdiri sendiri-sendiri hanya sesuatu yang nisbi, begitu disatukan dengan yang lain jadi punya arti. “Menjadi ada”. Hitam melengkapi putih, “yin” menjadikan “yang” ada.

Cinta adalah syarat yang harus dipenuhi manusia ketika spesies ini dituntut untuk eksis. Untuk melebur dua atau banyak hal berbeda menjadi “sesuatu yang memiliki makna”. Yang ada. Yang eksis. Katon Bagaskara dalam “Waktu Tersisa” menggambarkannya dengan “cinta datang untuk menolak perbedaan”. Hm, sekilas memang betul. Begitu tulus dan luhurnya cinta.

Tapi kadang, tuntutan eksistensi justru menempatkan cinta –sebagai salah satu syaratnya– dalam posisi yang salah kaprah.

Sartre menyebut cinta itu bukan sesuatu yang agung, yang bisa menyatukan perbedaan menuju sebuah eksistensi bersama, tapi upaya individu untuk memaksa individu lain menyatu, lalu menguasainya, memaksakan “ke-ada-an” sembari “meniadakan” individu lain. Sebuah kekerasan.

Karena itulah cinta selalu perlu objek. Yang diposisikan sebagai objek pun secara sadar juga menempatkan diri sebagai subjek. Terjadilah benturan “ke-aku-an”. Terjadilah benturan.

Cinta pun akhirnya hanya sebuah bencana, tapi datang dengan begitu indahnya di masa bulan madu. Atau di masa ketika orang-orang yang terlibat sama-sama pasang ancang-ancang untuk saling menyelisik kelemahan pasangan masing-masing. Atau sedang pasang kuda-kuda sebelum menerkam. Ketika masa bulan madu habis, cinta menjadi upaya saling caplok tak berkesudahan.

Dan sering berakhir dengan sakit. Terutama bagi yang akhirnya –karena kebodohan dan kekurangwaspadaan– harus ada pada posisi tercaplok.

Saling pengertian yang benar-benar sejajar, bukannya ada yang lebih tinggi dari yang lain, itu hanya milik manusia-manusia yang beruntung.

Sayang, saya belum bisa masuk dalam daftar manusia-manusia beruntung itu. Setidaknya untuk saat ini. Kecerobohan saya menerjemahkan cinta justru membuat eksistensi saya musnah dengan sendirinya.

Di luar hujan bercurah rendah dan angin sedang bercinta, menghadiahkan sedikit kesejukan yang genit, menyelip di pori-pori. Geluduk yang tiba-tiba nimbrung dalam suasana “romantis” itu mengusir kesunyian malam yang sedang menuju pagi.

Sementara di dalam kamar, kebingungan membiarkan cinta saya –terhadap kasih, kehormatan, dan kebanggaan– mengambang di awang-awang sebagai bangkai.

Saya tercaplok sepi. Setidaknya untuk saat ini.

artistic-rain_00221009.jpg

Sidoarjo, 3 Desember 2010
02:33 AM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s