Dicumbu Si Genit

CUK, kota ini memang genit! Di antara hujan turun di luar jadwal, riasan Surabaya malam ini tak luntur. Tetap menggairahkan.

MALAM ini, selepas menyelesaikan tugas kantor –sembari membawa sedikit celemong kecewa lantaran tak seluruhnya sesuai rancangan– tiba-tiba keinginan untuk bersantai mendorong begitu kuat. Sayang, yang tersisa di kantong hanya selembar sepuluribuan, selembar limaribuan, dan dua lembar duaribuan –setelah semua isi rekening harus terkuras untuk mengusir penyakit j*nc*k yang aneh, yang mengharuskanku off seminggu penuh itu.

Untung masih ada teman. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, bahkan sampai ngobrolin tentang “hakekat agama” (padahal kami sama-sama tak tertib lima waktu), kami sepakat untuk santai sejenak di Circle K Klampis. Biasa, hanya untuk rileks, bersama beberapa kaleng Heineken yang semuanya dibayar oleh teman itu.

Pas di dalam minimarket 24 jam itu, aktivitas belanja sempat terjeda ketika seorang perempuan cantik dengan rambutnya yang basah tepat berada di sebelahku, memilih mi instan. Tapi, setelah mendapat yang dicarinya, dia pergi begitu saja dengan mobil Toyota Kijang berleter W. Dan kami meneruskan belanja. Yah, memang begitulah wanita: selalu datang dan pergi. Hanya kesan saja yang membuat beberapa di antara mereka kentara beda. Tapi, setelahnya semua jadi biasa saja.

Sembari menikmati hujan yang salah jadwal ini, di depan Circle K, kami bercerita tentang banyak hal. Mulai menyerempet soal agama (lagi), sampai curhat tentang masa lalu. Tapi secara keseluruhan, kami saling melempar ide tentang koran. Terutama tentang beberapa hal yang sepertinya perlu dikemasi.

Surabaya malam itu memang terasa seksi. Ide-ide kami menyembul begitu saja, bergairah, dilarut Kota Buaya dengan cuacanya yang salah itu. Setelah sempat merekam beberapa yang brilian dalam memori, kami pun berbenah.

Sepanjang perjalanan hendak pulang, hujan terus mengguyuriku dengan air yang turun malu-malu dari langit.

Jalanan basah. Permukaannya yang tak rata, meliuk-liuk, membuat secara fisik Surabaya benar-benar seksi. Meliuk-liuk dan basah. Seseksi beberapa bagian memori yang tiba-tiba menggamit roda depan motorku agar berbalik arah menuju tempat-tempat yang memanjakan kenangan.

Masih di bawah curah hujan yang salah.

Tujuan pertamaku adalah sebuah kampus swasta di kawasan Semolowaru. Bangunan itu masih saja persis Titanic yang siap tenggelam. Megah, tapi ragu-ragu. Apalagi di bawah hujan.

Untunglah kulepas sudah masa-masaku mencuri sedikit ilmu di situ. Sedikit, memang, karena sebagian besar justru kudapat dari jibaku di luar pagar kampus. Yang jelas terpatri dalam pagar ingatan adalah cerita tentang dia, dia, dan dia.

Dia pertama:

“Kenapa tak kau katakan tiga hari lalu? Padahal berbulan-bulan aku menunggumu mengatakan itu di depanku. Aku sampai putus asa. Dan tiga hari lalu, orang lain lebih dulu mengatakan apa yang kau katakan sekarang. Aku mengiyakan.” Lalu kuteguk kopi yang masih panas itu begitu saja, baru berhenti setelah ampasnya membuatku terbatuk.

Dia kedua:

Isi mangkuk bakso itu habis kumakan. Kunyalakan rokok. “Tiga bulan lagi aku menikah.” Kuhisap rokokku sedalam mungkin. Baru berhenti setelah terbatuk.

Dia ketiga:

Mungkin kusimpan saja bagian ini.

Setelah disentil sedikit memori tentang gita cita di kampus, aku lajukan matic berpelat nomor F ini ke Gubeng Kertajaya VF. Jalan yang kulintasi makin seksi saja. Makin meliuk dan basah.

Kutatap rumah bernomor 28 itu. Sekarang pagarnya begitu tinggi. Tak ada lagi Pak De dan Tono, dua drunken itu, duduk di kursi panjang yang sembilan tahun lalu terpajang di situ. Duo mabok itu adalah intermezo dari upaya keras kami berempat –yang dulu tinggal di sebuah bangunan los, 2×6 meter yang disekat jadi tiga bagian– mengejar mimpi.

Bangunan sederhana tapi optimis tempat di mana kami saling melecut dengan hinaan yang membangun. Ah, kontrakan inklusif itu sekarang telah diganti dengan bangunan megah yang asing dari sekitarnya. Aku tak lagi punya monumen yang mengingatkan aku pada sebuah tempat, di mana aku “dibangunkan dari tidur panjangku” oleh Bukik, Sam, dan Kelmi. Aku yang sekarang ini memang tak lepas dari proses “pencetakan” dalam bangunan minimalis yang kini tak berbekas. Sekaligus saksi bagaimana kami berempat begitu tak diminati wanita, ketika itu.

Semuanya sudah berlalu. Tapi tetap saja semua seksi. Masih sangat seksi. Mematri dalam ingatanku dan selalu membuatku bergairah. Kota inilah yang telah “melahirkanku”. Kota ini selalu saja membuatku bergairah.

Biarlah mereka datang dan pergi. Tapi, kesan apapun yang mereka tatah di memori dan hatiku, tetap tak bisa mengalahkan kegenitan gairah Surabaya.

Aku basah. Giringan rendezvous di peralihan hari dengan hujan ini membuatku lupa: aku tak bermantel. Ah, biarlah. Kunikmati saja siraman eksotis ini.

Biarlah Surabaya yang genit ini mencumbuku malam ini. Juga untuk seterusnya.

Rain

 

Surabaya, 21 Juli 2010, Bersama Hujan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s