‘Penyelamat’ itu Bernama Rani

SIAPA sih Rani Juliani? Caddy dengan daya pikat kelas wahid? Istri ketiga seorang pejabat yang terbunuh? Perempuan yang sangat istimewa sehingga harus diistimewakan? Atau malah hanya sosok cadangan yang harus selalu tampil di tengah situasi genting?

Justru rentetan pertanyaan yang tak juga menemukan jawaban pas inilah membuat perempuan kelahiran (katanya) 22 tahun lalu itu terkesan menarik dan seksi untuk disimak.

Kemunculan Rani bak sebuah pola yang selalu terulang. Kalau dianalisa secara konotatif namun logis, bisa jadi penampakan perempuan, yang bahkan lebih top dari Luna Maya, itu adalah modus sebuah upaya menarik perhatian khalayak ketika ada yang merasa kurang diuntungkan oleh sebuah situasi.

Perempuan yang katanya bernama Rani Juliani.
Perempuan yang katanya bernama Rani Juliani.

 

Peredam Megakoalisi

Berawal dari tembusnya kepala Nasrudin Zulkarnaen oleh dua timah panas, medio Maret lalu. Usut-punya usut, kata polisi kasus ini didalangi Antasari Azhar, si kumis eks bos Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Usut punya usut lagi, ada upaya mengarahkan pangkal kasus ini adalah rebutan perempuan muda bernama Rani Juliani.

Foto pertama Rani Juliani yang dipublikasikan.
Foto pertama Rani Juliani yang dipublikasikan.

Ketika itu mungkin muncul pertanyaan seragam bernada kejut di benak khalayak; siapa sih perempuan itu? Seistimewa apa, sampai dua pejabat kelas atas berebut dia sampai saling mencabut nyawa? Malah penasaran inilah yang membuat Rani jadi sosok istimewa yang harus dicari tahu siapa dan bagaimananya.

Awal April lalu, disadari atau tidak, fokus pada Rani membuat publik abai pada upaya megakoalisi partai-partai gede menjelang Pemilu –sebuah fenomena yang tampaknya bakal mengubah wajah peta perpolitikan Tanah Air secara frontal.

Ketika itu pula incumbent mengaku ketar-ketir di depan banyak orang, dan mengaku partainya yang menjawarai Pemilu Legislatif dikeroyok. Ekspresinya melas tapi dipaksakan sopan dan terpelajar.

Tapi wajar saja incumbent dagdigdug. Karena, kalau partai-partai besar benar-benar menggalang koalisi supersangar, si jawara Pemilu bisa “dihabisi” di parlemen, tak punya kekuatan politis. Bisa juga keok di Pemilihan Presiden karena kurang dukungan dari mesin partai.

Nah, ketika beliaunya merasa kepepet itulah tiba-tiba muncul skandal Antasari dengan lakon “Berebut Rani Juliani”. Hikayat si perempuan pun lebih menarik daripada megakoalisi. Rani muncul sebagai penyelamat.

Dan ketika situasi sudah mulai baik-baik saja, di mana megakoalisi kempes tanpa sebab musabab yang jelas diurai di depan publik, Rani ditarik dari peredaran. Dia kembali dibungkus oleh… Entahlah. Katanya diamankan polisi demi keselamatannya.

 

Penawar Ucapan Pahit

Di balik halimun misterinya, bagaimana pun juga Rani adalah sosok yang menarik dan ampuh memancing penasaran. Apalagi di tengah gelombang pertanyaan publik yang tak kunjung terjawab ketika dia terkesan dihilangkan. Tanpa disadari, penasaran massif itu dielus-elus di alam bawah sadar publik dan siap menyeruak kapan pun ketika Rani tampak lagi.

Akhir Juni, Presiden keseleo lidah. Dalam kunjungan di redaksi Kompas, dari mulut bapak yang merasa harus dihormati itu muncul pernyataan pengundang protes; “KPK terlalu superbody dan harus diwaspadai”. Ada ketakutan yang dipaksakan, dikemas dalam ucapan santun, agar terkesan akademis. Tapi, tetap saja kekhawatiran itu tak bisa sembunyi.

Lalu terbitlah wacana Presiden takut KPK. Lalu digiringlah isu menjadi ada upaya Presiden membatasi KPK. Ada juga yang mengaitkan pernyataan ini dengan upaya balas dendam karena merasa telah dipermalukan komisi ketika Aulia Pohan, besannya yang mantan deputy Bank Indonesia itu, dijebloskan ke bui gara-gara korupsi. Bapak yang doyan jual citra itu merasa KPK menodai kehormatan trahnya.

Ucapan itu seolah didukung BPKP yang berusaha masuk mengaudit KPK untuk menelisik kewenangan menyadap dan pengadaan alat untuk keperluan mengumpulkan informasi. BPKP menerabas pagar dengan berusaha menyeruak ke dalam tubuh institusi independen.

Yang lebih mengejutkan lagi, ketika itu muncul pernyataan dari Kepala BPKP Didi Widayadi bahwa upaya asal terabas itu atas permintaan lisan Presiden. Nah, kalau dua fakta yang tampil terpisah itu dijahit jadi satu, muncullah kesimpulan; “Presiden takut KPK yang superbody dan memerintahkan BPK untuk mengaudit komisi dan mencari-cari kesalahannya. Tujuannya adalah untuk menggembosi pembasmi koruptor itu.” Yah, lagi-lagi beliaunya terpojok.

Upaya tangkal sana-sini, klarifikasi pinjam mulut Arnas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, Hatta Rajasa sampai Sudi Silalahi tak membuahkan hasil. Telunjuk banyak orang tetap saja mengarah pada dugaan upaya picik sang Kepala Negara.

Dan di tengah situasi krodit seperti itu, simsalabim, Rani yang diperam sekian lama tiba-tiba muncul di Polda Metro Jaya, 26 Juni. Penasaran publik tentang Rani, yang terpendam di alam bawah sadar selama sekian pekan, pun terpancing lagi mencuat ke permukaan. Atensi dipaksa berpaling kepada the special woman.

Untuk pertama kalinya sejak kasus pembunuhan Nasrudin mencuat si saksi kunci diperiksa polisi. Animo lebih tertarik ke situ, tudingan pada Presiden pun dihela sejenak. Lagi-lagi Rani muncul sebagai penyelamat. Dan pada perkembangannya, isu upaya menggembos komisi antikorupsi pun sirna digilas pesona Rani. Lagi-lagi, setelah semuanya baik-baik saja, Rani dikandangkan lagi. Penasaran massa yang belum tuntas dininabobokan kembali.

Rani di Polda Metro Jaya.
Rani di Polda Metro Jaya.

 

Selamatkan Citra

Lima bulan berselang, pola lama berulang lagi. Ketika perkara Bibit Samad Rianto-Chandra Hamzah versus Polri dan Kejaksaan Agung mencuat, skandal berkelindan dan sampai pada hipotesa adanya kepentingan menghabisi KPK, Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Presiden memunculkan berbagai macam rekomendasi yang cukup berani. Antara lain; hentikan kasus Bibit-Chandra dan copot Kabareskrim Susno Duadji.

Publik menunggu respon dari orang nomor satu di negeri ini. Tapi lagi-lagi rakyat harus kecewa. Seperti yang sudah-sudah, Presiden memilih bersembunyi di balik tameng regulasi supremasi dan menjual kesan banci daripada melayani arus desakan rakyat.

Ketidakjantanan Presiden pun memantik berbagai macam reaksi. Yang paling telak adalah; desakan mundur! Presiden dinilai tak becus menangani konflik berskala luas di dalam negeri. Konstelasi politik kian memanas. Di saat bersamaan sidang kasus Antasari digelar lagi.

Pengakuan Wiliardi Wizar, mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan itu membuat polisi –yang terpojok dalam kasus pemidanaan Bibit-Chandra– kian terimpit. Kasus Antasari adalah rekayasa. Kalau sampai perkara ini benar dibuat-buat, bisa jadi tak pernah ada konflik perkara seksual antara Antasari dan Nasrudin –yang sedari awal diduga sebagai pangkal tragedi ini. Cerita berebut Rani bisa jadi dilikuidasi. Muncul pula asumsi Rani selama ini disembunyikan untuk dicuci otak demi kepentingan polisi.

Suara rakyat berkumandang kian santer: Presiden harus mengambil tindakan tegas atau mundur! Presiden tak juga berbuat sesuatu. Kredibilitasnya kian anjlok. Kepercayaan publik kian nadir. Di tengah situasi seperti itu, dan… Rani pun muncul lagi!

Dia menampakkan diri untuk mematahkan tudingan konspirasi dalam pembunuhan Nasrudin yang dilontarkan Wiliardi di depan majelis hakim. Sehari sebelumnya dia batal hadir dengan alasan sakit. Di depan meja hijau dia membangun sebuah wacana di depan publik, memastikan tak ada rekayasa atau tekanan polisi dalam kasus ini.

Rani di PN Jakarta Selatan
Rani di PN Jakarta Selatan

Rani, yang dari awal diposisikan sebagai saksi kunci, pun bernyanyi. Dan pertama kalinya dalam sejarah perempuan yang katanya cantik, tapi pada kenyataannya tak begitu memesona ini, menggelar konferensi pers. Dia dimunculkan vulgar di hadapan publik.

Penasaran yang belum tuntas, yang sempat tertidur di alam bawah sadar khalayak, pun bangun lagi. Semua fokus pada Rani. Pernyataannya bahwa benar-benar ada pelecehan seksual dari Antasari di Hotel Grand Mahakam, dan memancing kemarahan Nasrudin –yang dari awal disinyalir sebagai musabab pembunuhan– muncul di depan layar televisi. Publik pun kembali gamang; apakah Wiliardi bohong?

Tapi, di balik jubelan pertanyaan yang lagi-lagi belum terpuaskan itu, setidaknya atensi publik terpancing oleh pentas perdana perempuan itu. Dan setidaknya, desakan mundur atau caci maki pada Presiden teredam kembali. Beliaunya bisa agak tenang, senyam-senyum jalan-jalan di Negeri Jiran di tengah kecamuk yang mengancam kesatuan negara yang dia pimpin. Semua berkat pesona Rani Juliani.

Lagi-lagi si caddy menyelamatkan”Pemimpin Negeri”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s