Maafkan Pertanyaanku, Tuhan

Malam sepanjang Ramadan ini pemandangan yang kentara di mana-mana, di Jakarta, itu nyaris serupa. Tiap jelang makan sahur segerombolan orang, entah dari ormas atau kelompok pengajian mana, berbondong-bondong sembari menggotong nasi bungkus dan dibagikan ke siapa saja orang yang mereka temui di sepanjang jalan, yang mereka definisikan sebagai duafa.

Indah memang. Kelihatannya semangat berbagi itu tulus. Meringankan beban sesama berembuskan semangat kemanusiaan.

Tapi, ketika aku sempat menyapa beberapa pembagi rezeki itu, aku jadi punya sedikit pandangan yang membingungkanku sendiri.

Karena, mungkin saja, menurut perhitungan mereka yang bagi-bagi nasi itu begini: nasi diberikan begitu saja pada orang-orang yang kelihatannya sulit mencukupi kebutuhan makan sahur. Itu agar mereka bisa sahur, dan akhirnya kuat puasa dalam konteks tak makan maupun tak minum sejak matahari terbit sampai terbenam. Lalu, mungkin, ada kesimpulan, dengan memberikan makan sahur, mereka itu jadi punya andil terhadap ibadah para duafa, karena telah membantu mereka kuat puasa dengan mengganjalkan makan sahur ke perut mereka. Karena men-support ibadah orang, mereka pun kecipratan pahala.

Mungkin Anda menilai aku terlalu serampangan menyimpulkan. Tapi, setidaknya, itu aku simpulkan setelah mendengar jawaban atau respon beberapa peserta pembagi rezeki, ketika aku lontarkan celetukan, “Wah, bagi-bagi rezeki nih.”

Dan jawaban perempuan muda yang dibonceng sepeda motor Yamaha Mio itu adalah; “Iya, Mas. Mumpung Ramadan. Waktunya cari pahala.” Sedang seorang pria anggota rombongan yang lain menjawab:”Dengan bagi nasi seperti ini kan itung-itung juga membantu mereka biar bisa puasa. Kan lumayan, dapat pahala lagi, hehehe…”

“Mumpung Ramadan”? “Lumayan, dapat pahala lagi”? Hm, frasa yang menarik. Mumpung ada bulan baik, jadi berlomba-lomba menjala pahala. Karena ada janji dilipatgandakan? Kalau tak Ramadan, ah, mungkin mereka-mereka yang rajin bagi-bagi sahur itu ogah kenal sama orang-orang yang malam itu mereka beri nasi.

Lalu pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah; apakah mereka lakukan itu karena berharap pamrih berbentuk pahala? Bukan benar-benar tulus ingin membantu mereka-mereka yang kesusahan, dengan semangat berbagi yang benar-benar tulus tanpa pamrih. Atau semata-mata lillahita’ala? Mereka lakukan itu karena tergiur pahala berlipat dan janji kemudahan masuk surga –yang dalam Alquran digambarkan akan menggerojok mereka yang rajin ibadah dengan kenikmatan itu.

Lalu, maafkan aku Tuhan, bukannya aku selalu berburuk sangka dengan apa yang sedang berlangsung di sekitarku. Bukannya aku menggugat makhluk ciptaan-Mu. Tapi, maaf sekali lagi kalau aku lontarkan pertanyaan usil ini: “apakah ibadah yang tulus, yang tanpa pamrih itu, yang hanya demi Engkau, benar-benar ada?” Kalau Engkau tak pernah janjikan surga, Tuhan, apakah mereka-mereka itu tetap mau berbuat untuk sesama, seperti yang mereka lakukan hampir di setiap malam Ramadan itu?

Pemahamanku mendefinisikan kalau ibadah itu terkesan transaksional. Dan setiap Ramadan pergi, tak ada lagi pemandangan indah itu. Karena tak ada untungnya. Karena harus mengeluarkan ongkos “hanya” untuk pahala yang biasa saja, bukan yang berlipatganda seperti di bulan Ramadan. Dan di luar Ramadan, mereka-mereka yang kebagian makan sahur gratis itu tetap saja kelaparan.

Manusia memang makhluk ekonomi. Homo economicus. Harus selalu ada keuntungan dalam setiap tindakan. Tapi, haruskah status dan pola pikir itu dibawa juga sampai tataran makrokosmos, wilayah-Mu itu, Tuhan?

Tuhan, hanya Engkau yang Maha Mengetahui. Wallahualam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s