Intelijen, Oh, Intelijen…

YANG menarik dari tragedi meledaknya bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/7) itu bukan ledakannya atau korban yang ditelan. Tapi suasana setelah ledakan itu, khususnya yang berhubungan dengan Badan Intelijen Negara alias BIN.

Mulai menarik ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampil di depan publik menyampaikan pernyataan sikapnya atas tragedi yang menewaskan 9 (ada juga yang bilang hanya 8) orang itu. Orang nomor wahid di negeri ini mengatakan, “Saya juga menjadi sasaran teror,” di hadapan muka banyak orang. Lalu Pak Presiden yang lekat dengan image terzalimi itu menunjukkan serangkaian gambar foto yang memperkuat pengakuannya. Kata SBY, gambar itu diambil oleh intelijen beberapa waktu lalu.

Tampak beberapa orang bertopeng berlatih menembak dengan sasaran foto SBY yang sedang tersenyum. Bahkan salah satu gambar menunjukkan sebutir peluru menembus “pipi” sang Presiden. “Ini bukan fitnah, tapi ada bukti dari intelijen,” SBY menegaskan kalau dia tak mengada-ada.

Dia juga mengimbuhkan beberapa statemen yang membuat suasana jadi tambah krodit. Kata dia, beberapa waktu lalu, masih menurut laporan intelijen, ada pihak yang mengancam akan menduduki KPU saat penghitungan suara, kalau SBY terpilih bakal ada revolusi, bahkan ada yang mengancam akan menjadikan Indonesia seperti Iran yang rusuh pasca kemenangan mutlak Ahmadinejad. Di tengah suasana yang panas, kata pengamat intelijen Universitas Indonesia, Andi Widjajanto, sebenarnya pernyataan Pak Presiden itu malah memperkeruh suasana yang sedang keruh.

Pernyataan Andi itu ada benarnya. Ada kesan Presiden sedang “mengarahkan” insiden yang menewaskan Presiden Direktur PT Holchim Indonesia Tomothy Mckay itu ada hubungannnya dengan Pilpres dalam pernyataan-pernyataannya.

Ada beberapa blunder dan keanehan di sini. Pertama, akan muncul kesan Pak Presiden sedang menunggangi momen ini secara politis, untuk (lagi-lagi) memunculkan citra sebagai pihak yang patut dikasihani setelah menjadi sasaran teror. Ungkapan ini muncul karena presiden yang terpilih kembali itu sedang dihantam paranoid di tengah ancaman lawan-lawan politiknya. Bagi Andi Widjajanto, cara ini tak etis, karena ada kesan tunggangan politis di tengah tragedi.

Kedua, itu sama artinya Presiden membuka rahasia operasi intelijen. Hasil operasi ini, kata Ken Conboy, penulis buku Intel I dan II, adalah laporan yang haram hukumnya dipublikasikan. Karena langkah-langkah intelijen itu perlu dilakukan secara sistematis dan hati-hati. Dan dengan diketahuinya laporan intelijen oleh publik, itu bisa mengacaukan pergerakan intelijen itu sendiri. Sasaran operasi yang mungkin sudah terkunci dan siap ditanggulangi tanpa dia sadari, jadi tahu kalau dia jadi sasaran. Lalu si objek tentu mencari trik baru, dan operasi yang sudah dijalankan sebelumnya dan nyaris berhasil jadi kacau.

Seharusnya Belajar dari penangkapan Amrozi dkk setelah Bom Bali I, Oktober 2002 lalu. Ketika itu negara tak mengumumkan siapa-siapa yang terlibat, karena tak ingin sasarannya kabur. Dan operasi berjalan mulus, dan otak pengebom dibekuk.

Tapi sekarang situasinya lain. Benar-benar lain. Belum apa-apa, Presiden malah mengumumkan hasil sementara operasi intelijen. Aneh.

Sepanjang sejarah negeri ini, bahkan mungkin dunia, baru SBY presiden yang mengumumkan hasil sementara operasi intelijen di hadapan publik. Kalau pun pada akhirnya nanti benar kalau pelaku peledakan itu adalah orang-orang yang ditudingnya, yang ditunjukkannya dalam bentuk foto itu, berarti intelijen kita yang ceroboh.

Kalau memang benar orang-orang itu berpotensi membahayakan presiden dan negara, kenapa ketika ada temuan intelijen yang soal aksi itu, tapi aparat tak langsung bergerak? Katakanlah, kenapa tidak ada tindakan preventif?

Padahal, kalau menurut versi intelijennya presiden itu, aktivitas itu jelas-jelas membahayakan presiden dan negara ini. Kenapa sudah dapat lokasi dan orang-orangnya, tapi yang bersangkutan tak langsung dibekuk saja ketika itu? Kalau pun memang orang-orang pengancam SBY itu pelaku peledakan di JW Marriott dan Ritz Carlton, kalau dibekuk dari awal dengan bukti-bukti yang dikumpulkan intelijen, bukankah bom tak akan meledak di Marriott dan Ritz Carlton? Aneh lagi.

Apalagi ada ucapan presiden yang cukup “nendang”. Kata beliau, saat ini ada “orang-orang yang pekerjaannya membunuh dan menghilangkan orang” masih berkeliaran. Dan Presiden sampai bersumpah, nanti-nanti tak akan membiarkan orang-orang seperti itu.

Kalau kita jeli, sebenarnya hidung siapa yang ditunjuk presiden ini sudah kentara banget. Siapa yang identik dengan isu penghilangan orang di era reformasi dulu, tapi masih berkeliaran sampai sekarang? Tepat. Prabowo dan Wiranto, dua orang yang jadi rival politiknya. Dengan pernyataannya itu, ada indikasi Presiden sedang membangun opini kalau mereka mungkin saja pelakunya.

Kalau sampai ada reaksi dari pernyataan ini, wah, gawat. Presiden sedang menyalakan api dalam sekam. Tanpa bukti yang cukup, bisa-bisa dia kena counter attack. Pihak-pihak yang merasa tertuding tentu tak akan tinggal diam. Kalau sampai mereka bereaksi, situasi yang sedang kondusif bisa-bisa kacau lagi.

Atau bisa juga Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar kemarin berkata jujur, “BIN kebobolan soal bom di JW Marriott dan Ritz Carlton.” Kalau sampai BIN kebobolan, bagaimana keamanan negara ini bisa terjamin? Apalagi 5 Agustus 2003 dulu bom pernah memporakporandakan JW Marriott. Dua kejadian memalukan terjadi di tempat yang sama tentu sama artinya dengan kebodohan yang tak terampuni.

Kalau memang begitu kenyataannya, bisa jadi ada kekuatan kontra intelijen yang berhasil mengacak-acak kekuatan intelijen negeri ini. Sampai berhasil mencelakai kembali tempat yang pernah celaka. Apalagi dua hotel yang diusik bom itu adalah hotel berstandar internasional dengan pengamanan superketat. Untuk bisa memasukkan bom ke dalamnya, jelas butuh operasi yang matang dan melibatkan orang-orang hebat yang lebih piawai dari intelijen kita.

Dan mungkin juga, karena tak tahu apa yang dihadapi (karena kebodohan BIN atau karena sakling kuatnya kekuatan kontra intelijen), presiden jadi paranoid dan jadinya ngawur sampai-sampai mengungkapkan rahasia operasi intelijen yang sifatnya sangat rahasia itu.

Atau (lagi-lagi), pernyataan-pernyataan itu adalah bagian dari skenario konspirasi lain setelah kasus penangkapan Antasari Azhar dan kisruh DPT? Wadow, negara tambah ruwet…!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s